Senin, 06 Maret 2023

PENDELEGASIAN TUGAS KERAJAAN

PENDELEGASIAN TUGAS KERAJAAN

Sebelumnya: Kebangkitan Yesus

Kita dapat melihat cara menjalankan kekuasaan Kerajaan Surga di bumi yang kita kenal sebagai pelayanan Yesus di bumi. Pada saat menjelang kembalinya Dia ke Surga, kita diajarkan dan diberikan mandat yang harus kita kerjakan selagi kita masih di bumi dan proses ini disebut pendelegasian kekuasaan dan kewenangan. Proses utama tentang pendelegasian tugas Kerajaan kita kenal sebagai Amanat Agung Yesus tepat sebelum Ia naik ke surga, disertai berbagai kelengkapan yang Dia sediakan bagi para penerusNya.

Kemudian Yesus mendatangi mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka untuk mematuhi semua yang telah Aku perintahkan kepadamu. Dan sesungguhnya Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:18-20) Dalam beberapa pemahaman, kata “kuasa” lebih tepat bila diganti dengan dan digunakan kata “otoritas”. [kekuasaan = power adalah kapasitas individu untuk mempengaruhi kehendak atau perilaku orang lain. Otoritas = kewenangan adalah hak secara hukum yang dimiliki seseorang untuk memberikan perintah kepada orang lain). Yesus adalah otoritas, pemegang kewenangan dari penguasa sesungguhnya “Allah Bapa”, sama seperti Allah Bapa, Dia adalah Allah Anak yang tunggal yang bangkit dari kematian dan hadir dimana-mana, memerintah dan mengkomandokan para muridNya untuk mengajarkan pengajaranNya, menyebarluaskan berita tentang Injil Kerajaan kepada seluruh suku bangsa.

Amanat Agung dapat diartikan sebagai Perintah Paling Penting. Kewenangan atau otoritas raja menentukan tugas-tugas para pembantunya. Perintah Paling Penting dimulai dengan semua kewenangan. Tanpa memahami dan mengerti siapa raja dan bagaimana menggunakan kewenangannya, maka kita kemungkinan besar menyalahgunakan otoritas tersebut. [gereja yang menekankan keselamatan dalam tradisinya tidak memahami otoritas Yesus dan cenderung alergi terhadap pengajaran Kerajaan dan Pemuridan. Bahkan mereka jarang membaca apalagi menaati isi bible. Sesungguhnya gereja seperti ini telah menyimpang dari perintah Yesus sendiri yang dapat kita temukan dalam bible atau alkitab). Perintah Paling Penting Yesus kepada para pengikutNya adalah “kemanapun kamu pergi kamu harus memuridkan bangsa-bangsa, terjunkan mereka ke dalam kepemimpinan yang diberikan oleh surga kepada bumi, otoritas Bapa, Putra, dan Roh Kudus”.  Peran kamu adalah memuridkan (mengajar dan melatih mereka) suku-suku bangsa-bangsa untuk mematuhi dan taat penuh kepada apa-apa yang raja telah komandokan. Dan Aku berjanji kepadamu Aku akan Bersama kamu para hambaKu, hingga tujuan zaman ini terpenuhi dengan sempurna: yaitu otoritas surga secara penuh dipulihkan di bumi”.

Injil Matius dengan jelas memberi pesan bahwa Yesus adalah Kristus artinya Raja, yaitu pemimpin yang dipilih oleh surga untuk bumi. Yesus sebagai Anak atau Putra Allah, bertugas memulihkan kekuasaan BapaNya di surga ke dalam realitas bumi. OtoritasNya diterima melalui loyalitas kepada otoritas surga, dan bahkan taat sampai mati. Dia menerima kerajaan ketika Roh pengudusan mengembuskan kehidupan kedalam tubuhNya yang mati, membangkitkannya dari segala kekurangan dan kematian, mengurapinya sebagai raja dengan semua kewenangan bapaNya di dalam realitas surga, sebagai raja yang dibangkitkan membawa semua otoritas ke dalam bumi.

Kerajaan Yesus menetapkan ulang kehidupan kepada setiap orang dan segala sesuatu ke dalam realitasNya. Berdasarkan deklarasi Bapa dan pekerjaan memberi kehidupan oleh Roh, raja Jahudi yang disalibkan adalah raja bangsa-bangsa yang dibangkitkan. Bangsa-bangsa telah berjuang dengan susah payah untuk Allah bangsa dalam masa Perjanjian Lama. Keturunan Daud diurapi dalam setiap generasi sampai kerajaan lenyap. Mazmur pasal dua mengungkapkan perseturuan dan konflik, tapi juga menyerukan bahwa Tuhan bertahta di surga, dan Dia telah menetapkan rajanya di bumi. Pada waktu penahbisan raja, kerajaan Daud menerima otoritas kedaulatan surga. Aku memproklamasikan dekrit Tuhan, “Kamu Putraku, hari ini kamu menjadi Putraku. Mintalah kepadaku…. Aku akan memberikan bangsa-bangsa menjadi warisanmu, engkau akan memiliki sampai ke ujung bumi”. Kebangkitan Yesus Kristus telah menerima semua otoritas BapaNya di surga, semua otoritas atas semua bangsa-bangsa di bumi.

Otoritas ini telah dipercayakan oleh Bapa kepada Putranya Yesus Kristus dalam usaha memenuhi komitmen perjanjian yang tidak pernah Dia lepaskan dan menyerah untuk berkuasa dan berwenang sepenunya atas kehidupan manusia, semua ciptaanNya di bumi, dan bumi itu sendiri, tidak menjadi masalah betapa sulitnya kita harus mengelolanya. Bangsa-bangsa membangun kerajaan-kerajaan dengan perang (Kejadian 10:8-12), diikatkan Bersatu bersama untuk mengambil otoritas surga ke bumi dalam tangan manusia (Kejadian 11:4). Tapi, Tuhan Allah mempunyai cara tersendiri membangun bangsa melalui Abraham untuk menjalankan otoritasNya (Kejadian 12). Itulah Amanat Agung, Perintah Paling Penting dari Allah Bapa yang diluncurkan dalam cerita Perjanjian Lama.

Tetapi bangsa Tuhan menghadapi permasalahan dengan mengaliansikan dirinya sendiri dengan kekuasaan-kekuasaan manusia dan mengabaikan kedaulatan surgawi yang telah disediakan untuk mereka. Ketika bapa Surga mengirimkan seorang yang Dia urapi untuk menyelamatkan mereka, pemimpin bait Allah bergabung dengan kekuasaan imperialisme untuk menyingkirkannya. Ketika itulah selalu Tuhan Allah mendemonstrasikan kesetianNya dan bagaimana Dia menggunakan otoritasnya: membangkitkan seorang yang Dia urapi dengan cara memberikan Roh pemberi hidup, menahbiskan keturunan biologi Daud sebagai pemimpin kepada siapa bangsa-bangsa yang akan membaktikan dirinya dan patuh (Roma 1:1-5), mendudukkannya dalam tahta dengan segala otoritas di surga dan di bumi.

Kristus yang dibangkitkan adalah setia dan otoritas Allah dalam pribadi:

  •      Dia adalah anak manusia dalam gambaran kedaulatan surgawi (Kejadian 1:26) memulihkan bumi sebagai kekuasaan dari Pencipta (Mazmur 8). 
  •     Dia adalah singa Jehuda yang mewarisi janji-janji keluarga Yakub (Kejadian 49:10, Bilangan 24:17). 
  •    Dia adalah anak Daud yang dipercayakan dengan kekuasaan kekal dari bapaNya di surga (2 Samuel 7:14-16), dibenamkan ke dalam kematian ketika kerajaan telah terlaksana (Mazmur 22:1, Amos 9:11), dan ditinggikan di atas musuh-musuhNya oleh dekrit ilahi (Mazmur 110:1-2).
  •      Dia adalah Yang Agung dari pemerintahan ilahi dan damai tanpa akhir, penguasa Kerajaan Allah yang membawa hidup keadilan dan kebenaran ke dalam bumi dengan cara menurunkan semangat kekekalan bumi dan digantikan dengan Kedaulatan ilahi (Yesaya 9:7).

Jika kita mengerti dan memahami otoritas Kristus, kita memahami bahwa Dia memanggil kita untuk melakukan Amanat Agung, melakukan Perintah Paling Penting. Otoritas raja yang kita layani menentukan peran kita. Otoritas itulah yang didelegasikan kepada kita.

Perintah Yesus kepada kita adalah membuat murid-murid. Yesus tidak pernah memerintahkan kepada kita untuk berkumpul seminggu sekali di gedung yang kita sebut gereja. Gereja bagi Yesus adalah sekumpulan orang yang pergi untuk menyampaikan Injil Kerajaan yaitu Yesus Sang Raja sudah datang dari surga ke bumi dan memuridkan mereka yang telah dipilih oleh Allah sendiri. Kita tahu itu karena Dia telah melakukannya lebih dahulu sebagai model dan contoh bagi kita. Muridnya yang kita kenal sebagai Para Rasul, dijadikanNya murid dengan mengajari mereka dengan cara menceritakan kerajaan dan kekuasanNya untuk menyembuhkan orang yang menderita karena sakit, mengusir setan yang menawan jiwa seseorang, memberi makan yang lapar, membangkitkan orang mati. Dengan menerima semua otoritas, Dia mengirimkan para magang ini untuk memuridkan semua bangsa-bangsa dalam arti supaya hidup sebagaimana dititahkan oleh rajanya, sebagaimana Dia sudah tunjukkan kepada mereka. Dengan cara ituah Dia meminta supaya setiap bangsa-bangsa dibenamkan ke dalam otoritas bapaNya, denggan mengimplementasikan otoritas Putra, dengan dimampukan oleh Roh yang membersihkan. Dengan cara inilah bumi dipulihkan ke dalam kekuasaan surga, dengan cara semua bangsa-bangsa mengimplementasikan, menerapkan, menjalankan cara hidup yang diperintahkan oleh pemimpin surga kita yang diurapi.

Betapa beruntungnya kita, diistimewakan mewakili strategiiNya sekarang, menunjukkan kepada bangsa-bangsa bagaimana caranya kerajaan ilahi bekerja, suatu dunia yang direkonsiliasikan dan disatukan satu sama lain dan dengan raja kita.       

Pelajaran yang tersedia bagi kita tentang delegasi dari Yesus, Raja Surga di bumi, terlihat dalam Amanat Agung, antara lain:

1) Yesus meletakkan dasar untuk mendelegasikan.

Sebelum memberikan Amanat Agung, Yesus menghabiskan waktu tiga tahun bersama para murid-Nya untuk mengajar dan mendemonstrasikan pemuridan. Sejak awal Yesus memperjelas tujuan jangka panjang dengan memanggil mereka menjadi penjala manusia (Mat. 4:19). Waktu para murid bersama-Nya, Dia mempersiapkan mereka untuk tugas besar yang akan datang ketika Dia tidak lagi bersama mereka, yaitu para murid diperlengkapi untuk pergi dan memuridkan semua bangsa.

 2) Yesus mendelegasikan apa yang menjadi milik-Nya untuk diberikan.

Bapa telah memberi Yesus semua otoritas di surga dan di bumi. Dia membutuhkan orang untuk melanjutkan melakukan pekerjaan-Nya karena Dia akan kembali ke tempat asalnya.

 3) Yesus menyediakan apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi tanggung jawab ini.

Komisioning (tanggung jawab apa yang diberikan kepada mereka).

Cara (instruksi melaksanakan).

Dukungan yang terus-menerus (kehadiranNya – selalu tersedia, selalu dapat diakses dalam wujud Roh Kudus)

 4) Yesus tidak mengatur secara mikro.

Yesus memberikan Amanat Agung saat Dia hampir meninggalkan mereka. Dia mempercayakan mereka dengan tanggung jawab ini dan kemudian naik kembali ke surga. Sementara Dia memberikan rincian tentang apa yang terlibat dalam pergi dan memuridkan semua bangsa, Dia tidak menentukan metodologi dan gaya yang tepat untuk membaptis dan mengajar.

Gereja sebagai pananggungjawab utama pemuridan perlu panduan untuk pendelegasian yang efektif yang tumbuh dari Amanat Agung. Sebagai seorang pemimpin gereja, bagian dari tanggung jawab Anda adalah untuk mendukung dan memajukan misi Tuhan bagi gereja.

Otoritas

Yesus berkata, "Semua otoritas di surga dan di bumi telah diberikan kepadaku." Kita pergi dalam kuasa dan otoritas-Nya, bukan milik kita sendiri. Jika para pemimpin gereja tidak menyelesaikan masalah otoritas ini, mereka telah menghalangi Tubuh untuk melakukan bagian mereka dalam memenuhi Amanat Agung. Posisi sebagai pemimpin memberi otoritas.

Pemimpin dapat memetik dan memilih apa yang ditempatkan di bawah otoritas-Nya karena dia yang pegang kendali.

Tanggung Jawab

Yesus memberi tanggung jawab kepada murid-murid-Nya untuk memuridkan. Perhatikan faktor kualifikasi. "Pergi dan jadikan murid." - Saat Anda pergi (apa pun yang Anda lakukan, ke mana pun Anda pergi), jadikan orang yang Anda temukan menjadi pengikut Kristus. ... Jadilah proaktif atau disengaja dalam hal ini setiap saat. "Buatlah murid-murid semua bangsa." - Berpikirlah besar dalam hal membuat murid (semua). ... Berfokuslah ke luar, selalu melihat gambaran besarnya.  Seberapa serius Anda mengambil tanggung jawab ini akan terlihat pada seberapa banyak Anda mengarahkan gereja menuju faktor-faktor yang memenuhi syarat ini. Sikap yang sesuai dengan perasaan Anda tentang tanggung jawab ini dan peran kepemimpinan Anda. Melihat penjangkauan tegasnya menobatkan orang menjadi pengikut Kristus sebagai tanggung jawab utama. (Orang Kristen khususnya di Indonesia agak ketakutan ketika diperhadapkan dengan isu kristenisasi yang digembargemborkan oleh mereka yang tidak atau belum percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya pribadi. Serangan dan ancaman semacam itu sebaiknya diabaikan saja dan doakan orang itu untuk segera masuk dalam lingkaran Kristus). Orang lain mungkin lebih memenuhi syarat untuk memuridkan, tetapi yang jelas bible memerintahkan kepada semua orang Kristen untuk memuridkan. Penginjilan otomatis terlaksana ketika Anda  melakukan pemuridan. Penginjilan model lama sering gagal memuridkan orang.

Pusat Fokus

Sepanjang seluruh proses pemuridan, perhatian tetap ditujukan kepada Tuhan. Amanat Agung membawa orang melampaui keselamatan di dalam Tuhan Yesus untuk mengambil keputusan: secara publik mengidentifikasi diri dengan Allah ("membaptis mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus"). Belajar untuk membiarkan Dia, Yesus menjadi Tuhan (Raja) dan bukan hanya Juruselamat ("mengajar mereka untuk mematuhi semua yang telah Aku  perintahkan kepadamu"). Kata patuh berarti murid harus tunduk dan ikuti prosedur yang sudah ditetapkan, tidak boleh sesuka hati dirinya sendiri. Ada kesulitan yang mungkin Anda alami yang cenderung mengalihkan fokus ke tempat lain. Berjuang untuk menjaga agar program atau agenda gereja/pribadi tidak menjadi titik fokus (kesalahan atau dosa terbesar gereja masa kini). Berjuang untuk menjaga diri saya sebagai pemimpin agar tidak menjadi titik fokus (kesalahan atau dosa terbesar Ketua Umum Sinode, Ketua Umum Aras … mempertahankan kekuasaan). Fokus saja kepada Tuhan Yesus Kristus, bukan yang lain.

Keyakinan

Betapa mudahnya rasa tidak aman muncul saat kita berusaha menjangkau dan memuridkan orang lain. Pemimpin tidak dibebaskan dari rasa takut akan kegagalan, kekhawatiran tentang apa yang akan dipikirkan orang, dan ketidakpastian lain tentang prosesnya. Ketakutan dan ketidakamanan tidak harus melumpuhkan jika kita memperhatikan alasan kita dapat bergerak maju dengan percaya diri untuk memenuhi Amanat Agung. -- Yesus berkata, "sesungguhnya Aku menyertai kamu selalu, sampai akhir zaman."  Apa yang cenderung membuat Anda merasa tidak aman? Merasa seperti saya sendirian dalam hal ini, bahwa orang lain tidak melihatnya. Merasa seperti saya tidak memadai untuk tugas itu. Atasi ini dengan fokus dalam keyakinan kepada Yesus sendiri.

Yesus mengidentifikasi perintah terbesar sebagai:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” "Kasihilah tetanggamu seperti kamu mengasihi diri sendiri."

"Semua Hukum dan Pesan Para Nabi bergantung pada dua perintah ini." (Mat. 22:37-40)

Tentu saja ini akan menunjukkan bahwa semua yang kita lakukan entah bagaimana terkait dengan kasih, yang akan mencakup keterampilan kepemimpinan dalam pendelegasian. Motivasi kita, serta proses yang kita gunakan dalam mendelegasikan, harus berasal dari kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

  • Mendelegasikan menunjukkan kasih kepada Allah
  • Kita menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan menghargai apa yang Dia hargai.
  • Kita menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Besar.
  • Mendelegasikan menunjukkan kasih untuk orang
  • Menunjukkan kasih kepada orang-orang dengan menghargai kontribusi mereka.
  • Menunjukkan kasih kepada orang-orang dengan bersabar terhadap mereka dan baik hati.

Apa yang mungkin terjadi jika Yesus tidak mendelegasikan tugas kepada murid-murid-Nya?

Contoh kasus dari Yohanes pasal 4. Pertimbangkan apa yang akan terjadi jika Yesus tidak mendelegasikan kepada murid-murid-Nya tugas pergi ke kota untuk membeli makanan. Jika Dia pergi bersama mereka, Dia mungkin tidak akan duduk di sumur dan tidak akan bertemu dengan wanita ini. Jika para murid tetap bersama-Nya, mungkin wanita itu tidak akan terbuka tentang hidupnya. Dia mungkin merasa lebih terintimidasi, seperti dikeroyok oleh sekelompok pria. Jika perjumpaan itu tidak terjadi, dia dan banyak orang lainnya tidak akan percaya kepada Yesus karena “banyak orang Samaria dari kota itu percaya kepadanya karena kesaksian perempuan itu” (Yoh. 4:39).

Sejak kekekalan, tujuan jangka panjang Allah adalah agar manusia menjadi serupa dengan gambar Kristus (Rm. 8:29). Mari pikirkan tentang pendelegasian sehubungan dengan tujuan ini. Ketika kita mendelegasikan apakah kita melakukannya sesuai dengan gambar Kristus? Dan, apakah cara kita mendelegasikan membantu orang lain menjadi lebih “menjadi serupa dengan gambar Putranya”?

 Apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan seperti Kristus dalam mendelegasikan?

Semakin kita menjadi serupa Kristus, baik secara lahiriah maupun batiniah, semakin serupa Kristus pendelegasian kita. Beberapa cara tertentu Kitab Suci menasihati kita untuk menjadi seperti Kristus berkaitan dengan keterampilan kepemimpinan dalam pendelegasian.

  •  Jadilah kudus seperti Dia kudus. (1 Ptr. 1:15-16)
  • Kasihi sebagaimana Dia mengasihi. (Ef. 5:2; 1 Yoh. 3:15-16)
  • Terimalah orang lain sebagaimana Kristus menerima kita. (Rm. 15:7)
  • Ampunilah sebagaimana Tuhan mengampuni Anda. (Kol. 3:13)
  • Bertahan seperti Yesus bertahan. (Ibr. 12:2-4)
  • Miliki sikap rendah hati yang sama seperti Kristus. (Flp. 2:5-8)
  • Jadilah hamba seperti Yesus yang datang untuk melayani. (Yoh. 13:15)

Kita tahu bahwa Injil adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Roma 1:16). Kita telah dipercayakan dengan kuasa itu untuk pergi sebagai duta-duta-Nya (2 Kor. 5:20) untuk memberitakan Kabar Baik itu kepada orang lain. Dalam arti tertentu, kita dapat mengatakan bahwa Tuhan telah mendelegasikan tanggung jawab ini kepada kita (Mat. 28:18-20). Dipengaruhi oleh Injil, pendelegasian menjadi lebih dari sekadar membuat seseorang menyelesaikan tugas untuk kita.

Tugas yang didelegasikan sebagai titipan. Dengan itu datanglah akuntabilitas, ya harus ada pertanggungjawaban.

Rasul Paulus “diberikan tugas untuk memberitakan Injil kepada orang-orang yang tidak bersunat, sama seperti Petrus kepada orang-orang yang bersunat” (Gal. 2:7). Mereka memiliki tugas yang serupa tetapi kelompok sasaran mereka berbeda. Kita melihat perincian tanggung jawab yang berbeda dalam 1 Korintus 3 di mana “Paulus menanam benih, Apolos menyiraminya” (1 Kor. 3:5-6). Dalam perumpamaan tentang talenta (Mat. 25:14-30), Yesus mengajarkan bahwa meskipun dipercayakan dengan ukuran tanggung jawab yang berbeda, setiap orang dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diberikan kepada mereka.

Para pemimpin Gereja, ketika Anda mendelegasikan tugas kepada orang lain, apa pun itu, bantulah orang tersebut memahami bahwa itu adalah amanat Tuhan. Seluruh hidup kita harus dipengaruhi oleh Injil (Flp. 1:27). Membangun sistem akuntabilitas ke dalam proses. Perlakukan orang yang didelegasikan tugas itu sebagai mitra atau rekan kerja yang berharga. Kita disebut “rekan sekerja dalam pelayanan Tuhan” (1 Kor. 3:9) meskipun Tuhan sendiri yang pada akhirnya memegang semua otoritas dan Dialah yang mengubah hidup melalui kuasa Injil-Nya, bukan kita (1 Kor. 3:7). Jika Tuhan memperlakukan kita sebagai rekan kerja, bukankah seharusnya kita melakukan hal yang sama dengan orang yang kita delegasikan tanggung jawabnya? Begitulah cara Rasul Paulus berkomunikasi dengan umat di Gereja Filipi. Dia merujuk pada “kemitraan mereka dalam Injil” (Flp. 1:5).

Para pemimpin Gereja, periksalah hati Anda untuk mencari apa yang memotivasi Anda untuk mendelegasikan. Apakah karena Anda ingin orang lain bergabung dengan Anda dalam pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada Anda? Atau, apakah Anda melihatnya hanya sebagai cara untuk menyerahkan pekerjaan Anda yang kurang penting kepada mereka yang tidak sepenting atau dibutuhkan seperti Anda? Jujurlah dengan orang tersebut tentang apa yang diharapkan. Yesus dengan jelas memberi tahu murid-murid-Nya bahwa mengikuti Dia dan Injil akan dibayar dengan harga tetapi juga dihargai dengan upah. Dia tidak melapisi tingkat komitmen yang Dia butuhkan. Dia memperjelas bahwa upah tidak selalu nyata atau langsung. (Lihat Markus 8:34-35; 10:29-31). Yesus berbicara dengan jujur tentang apa yang diharapkan.

Para pemimpin gereja, berhati-hatilah terhadap tipu daya, umpan, dan beralih taktik di mana Anda meminimalkan waktu dan upaya yang Anda tahu akan diperlukan untuk menyelesaikan tugas. Bersikaplah realistis tentang apa yang diharapkan oleh orang yang Anda delegasikan. Beberapa tugas tampak seperti pekerjaan tanpa pamrih. Beberapa tugas sepertinya tidak berbuat banyak untuk memajukan Injil dan kerajaan Allah secara langsung. Bantu orang melihat gambaran besarnya.

Kita tahu bahwa “karena kasih karunia kamu diselamatkan, oleh iman – dan ini bukan dari hasil kerja dirimu sendiri, itu adalah pemberian Allah bukan karena perbuatan, sehingga tidak ada yang dapat memegahkan diri” (Ef. 2:8-9). Namun, seberapa seringkah kita memikirkan kuasa dan pengaruh kasih karunia dalam pelayanan atau dalam segala hal yang kita lakukan sebagai pemimpin? Bahkan pendelegasian harus dipengaruhi oleh kasih karunia.

Cara Pendelegasian Dipengaruhi oleh Kasih Karunia

Ketika kita berpikir tentang kekuatan kasih karunia, kita dapat membuat beberapa korelasi tentang bagaimana pengaruhnya terhadap tugas-tugas kepemimpinan seperti pendelegasian.

Karena Allah telah menganugerahi, atau memberdayakan, orang-orang percaya untuk melayani sesuai dengan kasih karunia-Nya (Rm. 12:6; Ef. 4:7), masuk akal jika kita berusaha untuk mendelegasikan kepada mereka yang paling cocok untuk tugas berdasarkan karunia rohani mereka. Masing-masing dari Anda harus menggunakan karunia apa pun yang telah Anda terima untuk melayani orang lain, sebagai penatalayan yang setia dari kasih karunia Allah dalam berbagai bentuknya. (1 Ptr. 4:10)

Kita akan cenderung tidak mengatur secara mikro orang-orang yang telah kita delegasikan tanggung jawabnya ketika kita menyerahkan orang itu kepada kasih karunia Allah. Kita tidak hanya memuji orang-orang atas kasih karunia Allah (Kisah Para Rasul 13:43; 14:26; 15:40) tetapi juga memperjelas bahwa Allah bekerja di dalam dan melalui mereka adalah yang benar-benar penting, bukan upaya diri mereka (1 Kor. .15:10). Sekarang saya menyerahkan Anda kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang dapat membangun Anda dan memberi Anda warisan di antara semua orang yang dikuduskan. (Kisah Para Rasul 20:32) … menjadi kuat dalam kasih karunia yang ada dalam Kristus Yesus. Dan hal-hal yang telah Anda dengar saya katakan di hadapan banyak saksi percayakan kepada orang-orang yang dapat dipercaya yang juga akan memenuhi syarat untuk mengajar orang lain. (2 Tim. 2:1-2)

Kita harus berhati-hati agar tidak mengharapkan kesempurnaan pada mereka yang kita delegasikan, melainkan mendorong ketergantungan pada kasih karunia Allah. Lebih dari sekadar rencana peningkatan diri, kasih karunia Allah dapat membantu mereka dalam kelemahan mereka (2 Kor. 12:9) dan memberi mereka kekuatan untuk mengatasi pencobaan (Titus 2:11-12). Ketika hati manusia dikuatkan oleh kasih karunia, berlawanan dengan hikmat duniawi dan usaha sendiri, mereka akan cenderung menjaga perspektif dalam memusatkan perhatian pada apa yang benar-benar penting (Ibr. 13:9) dan berhubungan baik dengan orang lain (2 Kor. 1:12). Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan pengetahuan tentang Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan baik sekarang dan selama-lamanya! Amin. (2 Ptr. 3:18)

Tetapi oleh kasih karunia Allah saya adalah saya, dan kasih karunia-Nya bagi saya tidak sia-sia. Tidak, saya bekerja lebih keras dari mereka semua – tetapi bukan saya, tetapi kasih karunia Allah yang menyertai saya (1 Kor. 15:10) Kita dapat bergantung pada kasih karunia Allah untuk melihat kita melalui masalah apa pun yang mungkin timbul dalam proses pendelegasian. Kita bisa pergi ke takhta kasih karunia untuk meminta pertolongan (Ibr. 4:16). Tapi Dia memberi kita lebih banyak rahmat. Itulah sebabnya Kitab Suci mengatakan: "Allah menentang orang yang sombong, tetapi menyayangi orang yang rendah hati." Serahkan dirimu kepada Tuhan, kemudian, Lawan iblis, dan dia akan lari darimu. Mendekatlah kepada Tuhan dan Dia akan mendekatimu. Cuci tangan Anda, Anda orang berdosa, dan sucikan hati Anda, Anda yang mendua hati. (Yakobus 4:6-8)

Dengan pemikiran ini, kami terus berdoa untuk Anda, agar Tuhan kami dapat membuat Anda layak untuk panggilanNya, dan agar dengan kuasaNya Ia dapat mewujudkan setiap keinginan Anda untuk kebaikan dan setiap perbuatan Anda didorong oleh iman. Kami berdoa ini agar nama Tuhan kita Yesus dimuliakan di dalam kamu, dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus. (2 Tes. 1:11-12)

Allah telah menyediakan karunia-karunia rohani tertentu kepada Gereja yang akan lebih mungkin ditemukan pada para pemimpin — kepemimpinan, administrasi, dan pendeta. Untuk mengetahui bagaimana karunia rohani seorang pemimpin dapat mempengaruhi pendelegasian, pertama-tama kita harus memahami apa yang membedakan karunia-karunia ini satu sama lain. Kata-kata Yunani asli dapat membantu:

kepemimpinan (Rm. 12:8): proistemi – berdiri di depan, memimpin, mengatasi; secara harfiah orang yang berdiri di depan. Mereka adalah penentu tujuan, memotivasi orang menuju tujuan ini.

administrasi (1 Kor. 12:28): kubernesis – mengarahkan, membimbing; juru mudi bertugas membawa kapal ke tujuannya. Mereka adalah pelaksana mencapai tujuan, merencanakan cara untuk mencapai tujuan.

pendeta (Ef. 4:11): poimen – seorang gembala, pendeta, pastor; orang yang cenderung mengurus ternak atau kawanan. Mereka menjadikan perawatan orang sebagai tujuan mereka, mengutamakan orang.

Karunia Roh Pemimpin Dapat Mempengaruhi Pendelegasian

Semua pemimpin mungkin cenderung untuk mendelegasikan ketika hal itu memajukan pencapaian tujuan di balik karunia rohani mereka. Akibatnya, kita akan melihat bahwa alasan atau motivasi di balik pendelegasian seorang pemimpin dapat berbeda berdasarkan pemberian, serta bagaimana mereka mempersiapkan orang tersebut untuk tugas yang didelegasikan.

Karena pemimpin dengan karunia rohani kepemimpinan cenderung menjadi pemimpin gagasan dan pengawasan, mereka kemungkinan besar akan mendelegasikan sehingga mereka dapat dibebaskan untuk terus berinovasi dan maju. Mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memberikan visi mengapa tugas itu perlu dilakukan daripada melatih orang tersebut tentang cara melakukannya.

Para pemimpin dengan karunia rohani administrasi memperhatikan efisiensi dan produktivitas, sehingga kemungkinan besar mereka akan mendelegasikan ketika mereka menyadari bahwa itu berarti menyelesaikan lebih banyak pekerjaan secara efektif. Mereka akan mengembangkan rencana sistematis tentang cara melibatkan orang tersebut.

Karena para pemimpin dengan karunia rohani pendeta memusatkan perhatian pada kesejahteraan orang, mereka mungkin lebih cenderung untuk mendelegasikan ketika mereka yakin itu akan memberi orang kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Mereka akan bersedia menginvestasikan waktu dan upaya untuk pelatihan, pembinaan, dan pendampingan satu-satu.

Para pemimpin yang sama ini mungkin memiliki keengganan untuk mendelegasikan karena beberapa alasan yang sama. Para pemimpin dengan karunia rohani kepemimpinan bertujuan mengajak orang-orang bergabung untuk memajukan pekerjaan. Mereka mungkin cenderung tidak mendelegasikan jika orang tersebut tidak percaya dengan sepenuh hati ke dalam visi mereka.

Mereka yang memiliki karunia rohani administrasi bekerja untuk mencapai tujuan. Mereka mungkin cenderung tidak mendelegasikan jika mereka merasa dapat melakukannya lebih cepat atau lebih baik daripada orang lain.

Para pemimpin dengan karunia rohani pendeta menjadikan pengasuhan dan pemeliharaan orang-orang sebagai prioritas mereka. Mereka mungkin cenderung tidak mendelegasikan jika mereka merasa itu tidak akan menguntungkan orang yang sedang dipertimbangkan untuk melakukan suatu tugas.

Adalah baik bagi para pemimpin untuk memahami bagaimana karunia rohani mereka dapat mempengaruhi pendelegasian. Mereka juga harus terbuka terhadap alasan lain untuk mendelegasikan. Karena Tuhan menggunakan karunia orang sebagai sarana untuk memberdayakan mereka untuk pelayanan, masuk akal jika kita menentukan siapa yang akan didelegasikan berdasarkan karunia rohani.

Siapa yang paling cocok untuk tugas yang akan didelegasikan?

Pertimbangkan pelayanan yang harus dilakukan bagi siapa yang akan didelegasikan berdasarkan karunia Roh.

Beberapa tanggung jawab pelayanan yang mungkin kita delegasikan memiliki persyaratan yang lebih berorientasi pada tugas.

Orang dengan karunia rohani administrasi, pelayanan, dan mungkin bantuan akan paling cocok untuk jenis tanggung jawab yang berorientasi pada tugas. Mereka dapat bekerja lebih banyak di belakang layar tanpa banyak, jika ada, orang menghubungi dan merasa itu berarti.

Tanggung jawab lain yang mungkin kita delegasikan memiliki penekanan yang lebih berorientasi pada orang.

Orang-orang dengan karunia rohani pendeta, belas kasihan, atau nasihat akan paling cocok dengan jenis pelayanan ini. Karunia mana yang tergantung pada jenis interaksi yang diperlukan. Seseorang dengan karunia rohani pendeta akan menjadi yang terbaik dengan pendelegasian jangka panjang yang memungkinkan mereka untuk memperhatikan kesejahteraan orang lain. Seseorang dengan karunia belas kasihan akan paling cocok untuk tanggung jawab yang memungkinkan mereka membantu orang yang membutuhkan. Mereka yang memiliki karunia menasihati paling baik dimanfaatkan dalam situasi di mana mereka mampu melatih, mendorong, atau menasihati orang lain.

Mungkin kita perlu mendelegasikan pekerjaan yang lebih berorientasi kognitif.

Pertimbangkan untuk mendelegasikan jenis pekerjaan penelitian kepada mereka yang memiliki karunia pengetahuan atau mungkin kebijaksanaan. Jenis pekerjaan analitik atau evaluatif paling cocok untuk seseorang dengan karunia kearifan atau kebijaksanaan.

Mungkin tugas yang akan didelegasikan lebih berorientasi verbal.

Jenis komunikasi yang diperlukan akan menentukan apakah kita menarik seseorang dengan karunia rohani menasihati, bernubuat, atau mengajar. Seseorang dengan karunia rohani menasihati akan memiliki pendekatan yang lebih membesarkan hati sedangkan seseorang dengan karunia rohani bernubuat cenderung lebih konfrontatif. Jika diperlukan pendekatan yang lebih sistematis, carilah seseorang dengan karunia rohani mengajar.

Beberapa tanggung jawab yang mungkin kita delegasikan lebih berorientasi pada visi.

Orang dengan karunia kepemimpinan, rasul, atau iman akan baik untuk mengerjakan apa yang berhubungan dengan inisiatif pelayanan baru. Jika ini tentang penetapan tujuan, carilah seseorang dengan karunia kepemimpinan atau iman.

Ketika kita mendelegasikan berdasarkan karunia rohani, kita menarik kuasa Tuhan dalam hidup orang itu untuk mendekati tugas apa pun sebagai pelayanan untuk kemuliaan Tuhan.

Ketika Yesus telah memanggil Dua Belas, Dia memberi mereka kuasa dan wewenang untuk mengusir semua setan dan untuk menyembuhkan penyakit, dan Dia mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang sakit. …Jadi mereka berangkat dan pergi dari desa ke desa, mewartakan kabar baik dan menyembuhkan orang di mana-mana. (Lukas 9:1-2, 6)

Setelah itu Tuhan menunjuk tujuh puluh dua orang lainnya dan mengutus mereka berdua-dua mendahului Dia ke setiap kota dan tempat yang akan Dia tuju. …9 Sembuhkan orang sakit yang ada di sana dan beri tahu mereka, ‘Kerajaan Allah sudah dekat kepadamu.’ …17 Tujuh puluh dua orang itu kembali dengan gembira dan berkata, “Tuhan, bahkan setan-setan tunduk kepada kami dalam namaMu.” (Lukas 10:9, 17)

Kita melihat dengan jelas bahwa Tuhan kita Yesus mendelegasikan kuasa dan otoritasnya untuk mengusir setan dan untuk menyembuhkan penyakit terlebih dahulu kepada Dua Belas muridNya. Kemudian dia mengutus mereka untuk memberitakan Injil Kerajaan kepada yang terhilang dan untuk menyembuhkan yang sakit dalam namaNya dengan menggunakan kuasa dan otoritas ini. Dia kemudian mendelegasikan sebagian dari kuasa dan wewenang atas penyakit ini kepada tujuh puluh dua juga, memerintahkan mereka untuk menyembuhkan yang sakit saat mereka mewartakan Kerajaan Allah kepada yang terhilang. Jelas bahwa Dia juga memberi mereka otoritas atas iblis atas namaNya.

Pelayanan ini berlanjut ke dalam Kisah Para Rasul ketika para murid terus menggunakan kuasa dan otoritas Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit dalam konteks mewartakan Kerajaan Allah kepada mereka yang belum pernah mendengar. Ayahnya sakit di tempat tidur, menderita demam dan disentri. Paulus masuk menemuinya dan, setelah berdoa, meletakkan tangannya di atasnya dan menyembuhkannya. (Kisah Para Rasul 28:8) Kita perlu mengajukan pertanyaan yang sangat relevan: siapa sebenarnya yang menyembuhkan orang sakit di sini?

Jelas para murid tidak menyembuhkan orang sakit dengan kekuatan mereka sendiri. Mereka dapat menyembuhkan yang sakit karena Tuhan telah mendelegasikan kepada mereka kuasa dan wewenangnya untuk melakukannya. Pada saat yang sama, bukanlah Yesus sendiri yang secara pribadi menyembuhkan orang sakit. Melainkan Dia melakukannya melalui orang-orang yang Dia beri wewenang untuk melakukannya dan kemudian diutus untuk memberitakan Injil. Masuk akal melihat Yesus dan murid-muridNya sebagai ”rekan sekerja”. Partisipasi kedua belah pihak mutlak diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan—agar Injil diberitakan kepada setiap makhluk dan agar orang sakit disembuhkan dalam nama Yesus.

Sebagai rekan sekerja Tuhan, kami mendesak Anda untuk tidak menerima kasih karunia Tuhan dengan sia-sia. (2 Korintus 6:1) Analoginya adalah pemilik bisnis yang memberi wewenang kepada karyawannya untuk pergi ke toko peralatan kantor, menggunakan kartu kredit bosnya untuk membeli persediaan. Partisipasi kedua belah pihak sangat diperlukan. Bos harus memberikan wewenang kepada karyawan untuk membayar pembelian pada kartu kreditnya, dan karyawan harus secara fisik pergi ke toko dengan kartu kredit tersebut untuk melakukan pembelian.

Kami tentu memahami dan mengutamakan perlunya kerendahan hati dan ketergantungan kepada Tuhan di pihak murid dalam persekutuan ini. Kita tidak dapat melakukan apa pun selain Dia dan pekerjaan Roh di dalam kita. Sangat penting diperhatikan untuk menyadari posisi kita, karena kebanggaan atau kesombongan datang sebelum jatuh.

Pada saat yang sama marilah kita menyadari bahwa kita wajib melakukan bagian kita sebagai rekan sekerja Tuhan dalam penuaian. Kepala kita, Kristus Yesus ada di surga. Dia telah meninggalkan tubuhNya,yaitu  Gereja—tangan dan kakinya—yang melaluinya Amanat Agung akan dipenuhi. Secara alkitabiah, kita memberitakan Injil kepada yang terhilang. Kita  menyembuhkan orang sakit dalam nama Yesus. Kita mengusir setan dalam nama Yesus. Kita akan memenuhi Amanat Agung.

Marilah kita mengenali peran Kepala di sebelah kanan Bapa, dan peran kita di tubuh-Nya di bumi. Keduanya diperlukan agar Amanat Agung dipenuhi sebelum Kedatangan Kedua Yesus Kristus. Pada akhirnya mungkin akan bermuara pada masalah terminologi yang kita rasa nyaman tergantung pada latar belakang gereja kita ketika membahas masalah tersebut. Bagi kami pribadi—sayangnya dengan memiliki latar belakang gereja yang lebih tradisional, dengan doktrin yang menjadi pegangan ajaran adalah non Injili, tidak dapat lagi menjadi tempat kami mendapatkan pendelegasian, mereka harus berubah kalau tidak  terpaksa kami tinggalkan  — karena kami hanya dapat mengikuti terminologi yang kami lihat tercantum dalam Kitab Suci. Kita tentu setuju bahwa selain Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa. Pada akhirnya, Kristus di dalam kita melalui Roh Kudus yang memberitakan Injil, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan memuridkan!

Peter Drucker menawarkan bimbingan berwawasan kepada gereja ketika dia menyebut kepemimpinan sebagai kinerja puncak oleh seseorang yang merupakan "terompet yang membunyikan suara yang jelas dari tujuan organisasi." Lima persyaratannya untuk tugas ini sangat dapat diandalkan dan berguna bagi mereka yang berani memimpin gereja:

(1) seorang pemimpin bekerja;

(2) seorang pemimpin melihat tugasnya sebagai tanggung jawab daripada pangkat atau hak istimewa;

(3) seorang pemimpin menginginkan rekan yang kuat, cakap, percaya diri, dan mandiri;

(4) seorang pemimpin menciptakan energi dan visi manusia;

(5) seorang pemimpin mengembangkan kepercayaan pengikut dengan konsistensi dan integritasnya sendiri.

H.B. London, Jr. dan Neil B. Wiseman, Pastors at Risk, melalui Victor Books menyampaikan gagasan mereka:

1. Yesus tahu bahwa para murid akan melakukan pekerjaan terbesar mereka setelah Dia meninggalkan mereka untuk melakukan pelayanan mereka dengan kuasa Roh Kudus yang mendiami diri mereka. Yesus berkata, "Dia yang percaya kepada-Ku, pekerjaan yang Aku lakukan akan dia lakukan juga dan pekerjaan yang lebih besar dari ini akan Dia lakukan karena Aku pergi untuk tinggal di sebelah kanan Bapa-Ku." (Yohanes 14:12)

Biarkan murid-murid Anda memiliki tanggung jawab dan otoritas untuk mempercayai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih besar tanpa harus terus-menerus mengawasi atau mengendalikan mereka.

2. Yesus tahu bahwa akan bermanfaat bagi para murid jika Dia naik ke surga meninggalkan mereka untuk mempercayai Tuhan tanpa pengawasan manusia terus-menerus. Yesus berkata, "Demi keuntunganmu Aku meninggalkanmu, karena setelah Aku pergi Aku akan mengirimkan Roh Kudus, yang akan membimbing dan mengajarmu dan memberdayakanmu." (Yohanes 16:6) Izinkan Tuhan untuk bekerja melalui karunia, panggilan dan pelayanan Roh Kudus yang memampukan dalam kehidupan murid-murid Anda. Jangan mencoba mencekik mereka dengan koreksi, pengawasan, atau kontrol terus-menerus.

3. Yesus tahu bahwa para murid akan belajar untuk mempercayai Tuhan paling baik ketika mereka diberi harapan dan tanggung jawab yang besar untuk dipenuhi dalam kuasa pimpinan Roh. Semua murid, kecuali Yudas, menyelesaikan pelayanan penggandaan persekutuan yang luar biasa ketika mereka menyadari bahwa Tuhan hidup di dalam mereka dalam pribadi Roh Kudus yang penuh kuasa. Yesus berkata, "Kamu akan menerima kuasa ketika Roh Kudus turun ke atas kamu dan kamu akan menjadi saksiku di Yerusalem, Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)

Bantu murid-murid Anda untuk mengikuti kredo William Carey, bapak misi modern, "Harapkan hal-hal besar dari Tuhan, usahakan hal-hal besar untuk Tuhan."

4. Yesus mengharapkan orang tua untuk belajar bagaimana membebaskan anak-anak mereka untuk menjalankan tanggung jawab dan wewenang yang diberikan oleh Roh Kudus kepada mereka. Hanya ketika orang belajar untuk menjawab langsung kepada Tuhan mereka akan belajar untuk bertumbuh dalam segala aspek di dalam Kristus. (Ef. 4:12-15)

5. Yesus mengharapkan para guru untuk melepaskan murid-muridnya ke ladang yang sudah matang untuk dituai. Yesus memberi tahu murid-murid-Nya, "Lihatlah ladang yang sudah matang untuk dituai. MakananKu adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan tujuan-Nya." (Yohanes 4:34,35) Mintalah agar Tuhan memberi Anda hikmat untuk memberikan tugas lapangan yang efektif daripada hanya tugas akademis atau teoretis kepada siswa Anda.

6. Yesus mengharapkan para Pendeta untuk memberikan tanggung jawab kepada domba mereka di mana mereka dapat belajar bagaimana mengembangkan karunia mereka dengan memuridkan orang lain melalui pelayanan penjangkauan dan pemuridan. Mintalah hikmat dari Tuhan dalam menciptakan pelayanan penginjilan dan peneguhan yang efektif bagi orang-orang di seluruh jemaat. Paulus menulis, "Memperlengkapi orang-orang kudus untuk pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus." (Ef. 4:12)

Tuhan membangun kita dengan paling efektif ketika kita berada dalam pelayanan membantu orang lain untuk maju secara rohani.

7. Yesus mengharapkan pengurus gereja mampu mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang kepada orang-orang di seluruh gereja tanpa menindas mereka dengan kebijakan, prosedur dan aturan yang rumit dan berlebihan atas nama anggaran dasar, anggaran rumah tangga, tata laksana dan tata gereja. Paulus menulis kepada orang-orang Galatia, "Sekarang kamu mengenal Tuhan - atau lebih tepatnya dikenal oleh Tuhan - bagaimana bisa kamu kembali ke prinsip-prinsip yang lemah dan menyedihkan itu? Apakah kamu ingin diperbudak oleh mereka lagi?" (Gal 4:9,10)

Percayalah pada bagaimana Tuhan dapat menggunakan Roh Kudus untuk mengajar, mengoreksi, menegur dan melatih pemimpin Anda dengan cara yang terbaik untuk kerajaan dan kebenaran-Nya.

8. Yesus mengharapkan para penginjil dan perintis penanam gereja untuk belajar menyerahkan tanggung jawab dan wewenang kepada para penatua gereja lokal yang memenuhi kualifikasi sebagai penilik yang saleh dalam I Timotius 3:1-6.

Kegagalan untuk belajar melepaskan kontrol gereja adalah cara yang pasti untuk menghambat perkembangan para pemimpin pribumi dan pemimpin lokal. Ingatlah bahwa sebagian besar gereja melewati empat tahap penanaman dan pertumbuhan gereja:

1) Perintis atau penanam gereja

2). Mengasuh Anak atau memuridkan

3). Bermitra

4) Berpartisipasi.

Jangan gunakan alasan bahwa Anda mencoba untuk mengkonsolidasikan uang muka Anda ketika Paulus jarang tinggal lebih dari satu tahun di satu lokasi sebelum berpindah ke kesempatan yang lebih besar untuk memberitakan Injil Kristus di tempat yang belum dikenal.

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempraktikkan rencana, dan untuk mencapai tujuan yang ditentukan melalui pengelolaan orang, waktu, dan sumber daya yang nyata dengan terampil. Pemimpin yang baik adalah yang mampu memotivasi orang; orang yang mampu membuat keputusan yang baik, bahkan di bawah tekanan atau dalam kondisi ketidakpastian; orang yang bisa membimbing orang melalui tindakan serta kata-kata.

Banyak pendeta bergumul dengan stres dan kurangnya pemenuhan pelayanan. Saya ingin menyarankan bahwa membuat satu keputusan dapat memberikan obat untuk kedua penyakit ini. Anda harus memutuskan untuk mendelegasikan. Tanpa pendelegasian, tugas untuk membangun Kerajaan Surga di bumi akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Artinya, kedatangan Yesus yang kedua kali ke bumi akan tertunda, karena KerajaanNya belum siap menyambut Dia.

D.L. Moody berkata, "Lebih baik meminta sepuluh orang untuk melakukan pekerjaan daripada melakukan pekerjaan sepuluh orang!" Nasihat bijak Moody dipenuhi dengan kebijaksanaan kitab suci. Myron Rush membuat poin ini: “Seseorang mungkin berada dalam posisi kepemimpinan, tetapi jika dia tidak mau mendelegasikan, dia sama sekali bukan pemimpin — dia adalah pekerja upahan”.

Alkitab dipenuhi dengan penjelasan rinci tentang pendelegasian. Salomo menguasai seni mengatur melalui manusia, dan kerajaannya diperluas. Bab keempat dari I Raja-Raja memperkenalkan kita kepada mereka yang bertanggung jawab atas pasukan, makanan, dan pajak Salomo. Juruselamat kita tentu bersedia untuk mendelegasikan. Delapan belas ayat pertama dari Lukas 10 mencatat pengutusan tujuh puluh dua pengkhotbah keliling. Setelah Tuhan memberi mereka instruksi terperinci, Dia mengutus mereka untuk berkhotbah. Meskipun utusan-utusan ini tidak berpengalaman dan jauh lebih tidak mampu dibandingkan Guru, pelayanan mereka diberkati oleh Allah. Pada akhirnya para utusan ini akan “menjungkirbalikkan dunia” (Kis. 17:6).

Salomo dan Juruselamat sama-sama mengetahui sesuatu yang sering kita lupakan dalam pelayanan. Mereka tahu bahwa murid dibuat melalui pendelegasian. Mereka tahu bahwa pendelegasian itu saleh dan kegagalan mendelegasikan itu tidak saleh. Mereka tahu bahwa ketika Allah menciptakan Adam, Ia menempatkan Dia di Eden “untuk mendandani atau mengusahakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Allah membawa “setiap binatang di padang” dan “unggas di udara” ke hadapan Adam “untuk melihat bagaimana dia akan menyebut mereka” (Kejadian 2:19, 20). Pemazmur secara eksplisit mengungkapkan maksud Tuhan untuk mendelegasikan dalam Mazmur 8:4–6, mengatakan: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? dan anak manusia, sehingga engkau mengunjunginya? Karena Engkau telah membuatnya sedikit lebih rendah dari para malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan kehormatan. Engkau membuatnya berkuasa atas karya tanganmu; segala sesuatu telah Engkau letakkan di bawah kakinya.”

Banyak orang dalam pelayanan perlu mendengar nasihat bijak dari Yitro, yang memberi tahu menantunya yang sangat cakap, Musa, untuk “membagi dan menaklukkan” atau ditaklukkan oleh frustrasi (Keluaran 18:18–23). Musa mendengarkan ayah mertuanya dan mengikuti nasihatnya. Segera tujuh puluh orang tua-tua direkrut, dilatih, dan ditugaskan. Musa menemukan bahwa ”lebih baik menyuruh tujuh puluh orang untuk melakukan pekerjaan daripada melakukan pekerjaan tujuh puluh orang”.

Mengapa kita tidak mendelegasikan?

1. Kita gagal merencanakan.

Delegasi membutuhkan pandangan jauh ke depan. Merekrut seseorang pada menit terakhir disebut "membuang", bukan mendelegasikan. Pendelegasian yang berhasil akan membutuhkan komunikasi yang berhasil, dan komunikasi semacam itu akan membutuhkan waktu. Untuk mendelegasikan, Anda harus berpikir ke depan.

2. Kita bangga dan jadi sombong.

Kita berpikir bahwa tidak ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaan sebaik yang kita bisa. Pendidikan, pengalaman, dan bakat kita dapat membentuk tembok antara kita dan orang-orang yang Tuhan panggil untuk kita bimbing. Kita cenderung berpikir bahwa karena orang yang duduk di bangku kuliah itu belum pernah menjadi siswa di seminari teologia filsafat, dia tidak layak atau tidak siap. Apakah kita lupa bahwa Allah lebih mampu menamai binatang daripada Adam dan bahwa Kristus adalah pengkhotbah yang jauh lebih berkuasa daripada tujuh puluh dua? Untuk mendelegasikan Anda harus rendah hati.

3. Kita kekurangan visi untuk berkembang.

Pelayanan dibangun oleh orang-orang yang memahami bahwa piramida dibuat tinggi dengan memperlebar fondasinya. Untuk memperluas landasan pelayanan kita, kita harus memutuskan untuk mendelegasikan. Penonton menjadi kritikus, tetapi peserta menjadi mitra. Untuk mendelegasikan, kita harus mempertahankan visi untuk pertumbuhan.

 Apa manfaat pendelegasian?

1. Kita menghindari kelelahan.

Ketika Barnabas kewalahan dengan meningkatnya kebutuhan pelayanan di Antiokhia, dia merekrut seorang pria dengan kualifikasi yang diragukan bernama Paulus (Kis. 11:19-25). Keputusan yang diambil Barnabas menyelamatkan baik pendeta maupun pelayanan, membawa berkat dan bukan ketimpangan (Kis. 11:26).

2. Kita mengembangkan pemimpin.

Cara terbaik untuk melindungi gereja dari wabah kurangnya pengalaman adalah dengan meminta keterlibatan dan dengan demikian mengembangkan pemimpin. Alkitab mengajar kita bahwa setiap anggota perlu menjadi pelayan (I Korintus 12). Para pendeta secara khusus ditugaskan untuk mengambil harta yang dipercayakan kepada mereka dan mewariskannya kepada generasi berikutnya (II Timotius 2:2). Pendeta yang menyediakan alat dan kesempatan untuk melayani orang-orang akan segera mendapati diri mereka mengutus murid-murid ke dalam pelayanan. Di mana para murid sedang dikembangkan dan dikerahkan, Roh akan selalu melengkapi pelayanan dengan orang-orang yang siap direkrut.

3. Kita menaati Allah.

Karena setiap orang akan menghadap secara pribadi “di hadapan takhta pengadilan Kristus” (II Korintus 5:10), penting bagi setiap orang untuk terlibat dalam pekerjaan Kristus. Orang yang tidak pernah bekerja keras tidak akan pernah mendengar "Bagus sekali!" Adalah keinginan Juruselamat kita bahwa “setiap orang memiliki pujian bagi Allah” (I Korintus 4:5). Memastikan bahwa laki-laki dan perempuan melibatkan diri dalam membawa cangkir berisi air dingin, artinya terlibat aktif dalam pelayanan dalam nama Tuhan adalah tugas dari pelayan pemuridan.

4. Kita mendorong para anggota untuk berdoa dan belajar.

Ketika anggota gereja menjadi pelayan dan guru, lutut mereka tertekuk dan Alkitab mereka dibuka. Wajar jika keterlibatan dalam pelayanan akan mendorong orang untuk berdoa dan mempelajari Firman Tuhan. Kalau tidak, dia tidak akan mampu menghadapi berbagai persoalan dan tantangan dalam pelayanannya.

5. Kita mendorong kreativitas.

Sungguh menakjubkan mengetahui bahwa melibatkan dua pekerja dalam suatu tugas akan menghasilkan empat cara berbeda untuk melakukannya. Kreativitas seperti itu dapat disalurkan untuk menghasilkan satu solusi terbaik dan akan mengajar orang untuk setuju dan bekerja sama (Amos 3:3).

Pendelegasian harus menjadi proses yang berkelanjutan. Buat daftar tugas yang perlu Anda delegasikan. Tulis nama seseorang yang perlu direkrut. Tuliskan deskripsi pekerjaan dan buatlah janji dengan orang yang Roh taruh di hati Anda. Setiap kali Anda melakukan ini, Anda akan mengembangkan seorang murid dalam pekerjaan Tuhan. Ikuti resep ini terus-menerus dan Anda akan merasakan stres menghilang dan menemukan kepuasan dalam pelayanan.

Dalam Kisah Para Rasul pasal enam kita memiliki kisah yang luar biasa tentang bagaimana Gereja mula-mula menangani masalah dan pertumbuhan. Masalah muncul karena pertumbuhan jumlah orang yang datang kepada Kristus. Seiring berjalannya waktu, area pengabaian mulai merayap masuk, dan dari situ, keluhan dan tuntutan berkembang. Masalah tersebut menjadi perhatian para pemimpin, yang mengenalinya dan menetapkan standar persyaratan bagi mereka yang ditunjuk untuk menangani masalah tersebut. Masalah-masalah itu diubah menjadi peluang kreatif untuk melepaskan lebih banyak orang untuk berfungsi. Kita melihat bahwa dua belas pemimpin (rasul) yang ada tidak mengambil tanggung jawab ekstra itu, tetapi tahu untuk mendelegasikan kepada orang lain untuk mempertahankan pertumbuhan orang Kristen yang berkelanjutan. Dua belas dapat melakukan ini karena mereka mengetahui lingkup panggilan mereka sendiri. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap fokus pada "doa dan pelayanan firman" (ay.4). Mereka tahu jika mereka tidak mendelegasikan dan melepaskan orang lain untuk memikul tanggung jawab, mereka sendiri akan menjadi "gabus dalam botol" dan menjadi penghalang bagi apa yang Tuhan inginkan. Betapa pentingnya bagi kita para pemimpin untuk mengetahui panggilan kita, mengetahui batasan dan kapasitas kita dalam tujuan Tuhan. Terlalu banyak gereja menjadi "lapar" akan pertumbuhan dan berkat Tuhan Roh Kudus karena para pemimpin belum mampu "melepaskan" dan mendelegasikan bidang-bidang yang diabaikan kepada orang lain. Seringkali ada masalah para pemimpin yang tidak cukup mempercayai orang-orangnya untuk melepaskan mereka melakukan hal-hal yang akan membantu menghasilkan pertumbuhan lebih lanjut. Adalah fakta bahwa para pemimpin memegang kunci untuk hal-hal ini. Kita melepaskan atau membatasi orang lain sesuai dengan keputusan dan tindakan kita.

Dalam pendelegasian mereka, kedua belas Rasul menetapkan kriteria bagi tujuh orang yang dilepaskan ke bidang fungsi yang baru. Meskipun tugas khusus itu tampak sangat alami, yaitu mengurus urusan para janda setiap hari, persyaratan spiritual untuk itu tinggi:

"Mereka harus jujur dan memiliki laporan yang baik" (ayat 3). Mereka harus diakui memiliki kesaksian yang baik secara konsisten. Orang-orang harus dapat melihat bahwa kehidupan mereka baik dan dapat diterima, dapat diandalkan dan dapat dipercaya.

"Mereka harus penuh dengan Roh Kudus" (ayat 3). Itu harus menjadi pengalaman terkini dan terbaru dalam Roh Kudus. Itu tidak menjadi, "Ya, mereka terisi dan 'bersemangat' sepuluh tahun yang lalu, tetapi sekarang normal dan 'setia'." Mereka harus menjadi manusia Roh; yaitu, dipenuhi, selaras dengan, dipimpin oleh, dan berusaha untuk taat kepada Roh Kudus pada saat ini!

Perhatikan para rasul tidak melakukan pemilihan – orang-orang melakukannya. Para rasul menetapkan kondisi yang dapat diterima – dan orang-orang harus mencarinya dan memutuskan. Dengan cara itu mereka harus hidup dengan pilihan mereka sendiri – mereka tidak dapat menggerutu dan mengeluh bahwa para rasul "memaksa" orang-orang (atau keputusan mereka) pada mereka. Para rasul memberikan tanggung jawab rohani kepada orang-orang dan kuasa untuk memilih. Mereka memeriksa "anggota" mereka dan menemukan tujuh orang, termasuk Stefanus "seorang yang penuh iman dan Roh Kudus" (ay.5).

Kriteria Kisah Para Rasul pasal enam masih sangat baik untuk saat ini. Ketika orang diangkat ke dalam gereja dan posisi kepemimpinan tanpa "laporan baik" dan "penuh dengan Roh Kudus" dan orang "penuh iman" menjadi "titik awal" dasar untuk diterima, kita segera menurunkan standar yang telah ditetapkan Allah, dan, seiring waktu, akan melihat pembusukan dari standar spiritual menjadi gereja yang berbasis politik keamanan diri dan bermotivasi politik keamanan dan kenyamanan diri sendiri. Kepemimpinan dan posisi tanggung jawab atas orang lain harus sesuai dengan standar Alkitab.

Dalam Kisah Para Rasul pasal enam orang tidak hanya membuat janji dan tujuh orang mulai melayani meja janda. Mereka pertama kali dihadirkan di hadapan para rasul, yang kemudian menumpangkan tangan ke atas mereka dan memberikan beberapa kekuatan dan otoritas spiritual kepada mereka yang berdampak pada alam roh yang tak terlihat, serta Gereja di Yerusalem. Sebuah upacara penyampaian atau impartasi umum melihat para rasul - melalui pengurapan Roh Kudus di dalam diri mereka - melepaskan ke dalam diri tujuh orang  hal-hal rohani yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Sesuatu yang kuat terjadi melalui penyampaian atau impartasi. Impartasi adalah "berbagi dengan atau memberikan kepada orang lain apa yang Anda miliki." Kita perlu memahami penyampaian atau impartasi lebih dari yang kita lakukan. Itu adalah kunci untuk melepaskan orang yang memenuhi kriteria Tuhan, dan penerimaan orang untuk pelayanan publik. Lihatlah apa yang Alkitab katakan:

"Dan perkataan itu menyenangkan seluruh orang banyak. Dan mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nicanor, Timon, Parmenas dan Nicolas, seorang proselit ("orang yang baru masuk agama") dari Antiokhia, yang mereka tempatkan di hadapan para rasul; dan ketika mereka telah berdoa, mereka meletakkan tangan ke atas mereka. Kemudian Firman Tuhan menyebar dan jumlah murid berlipat ganda di Yerusalem, dan banyak imam yang taat kepada iman" (ayat 5-7).

Apa yang terjadi di sana?

Para rasul tidak hanya menyetujui pilihan orang-orang, mereka benar-benar memberdayakan orang pilihan itu melalui penumpangan tangan dalam pelayanan implantasi yang berdampak dan menerobos alam roh di seluruh wilayah Yerusalem! Ketika mereka meletakkan tangan ke atas ketujuh orang itu, mereka melepaskan karunia Roh Kudus, mantel dan otoritas mereka ke dalamnya.

Dan sesuatu terjadi yang berdampak pada Yerusalem!

Saya ulangi:   Sesuatu pecah di alam roh. Dari pelayanan penumpangan tangan itu datanglah kelepasan dan kebebasan baru untuk membagikan Firman Allah! Itu (pada gilirannya) menghasilkan banyak orang yang mempercayai apa yang dikatakan dan membuat keputusan pasti untuk bertobat dan mengikuti Yesus Kristus! Lebih jauh dari itu dunia keagamaan (Jahudi dan lainnya) dirasuki dan dipengaruhi sedemikian rupa sehingga "banyak imam menjadi taat iman, maksudnya menjadi Kristen" (ayat 7). Gereja berlipat ganda! Kota itu terkena dampak untuk Tuhan dan untuk selamanya! "Masalah" asli menjadi sarana terobosan besar bagi para pemimpin dan jemaat masing-masing, karena mereka bekerja sama dalam kuasa Roh Kudus. Jangan melihat masalah jadi penghalang, tetapi jadikanlah masalah dan tantangan jadi peluang.

Kuasa Delegasi dan Impartasi Alkitab

Mereka mengetahui sesuatu tentang wilayah spiritual yang tampaknya sangat sedikit kita ketahui hari ini. Tidak heran jika kriteria menjadi semua "pejabat" harus dipenuhi dengan Roh Kudus. Ketika kita orang Kristen akan melakukan hal-hal dengan cara Tuhan, melalui kesaksian publik yang baik dan "dipenuhi dengan Roh Kudus dan iman," kita akan melepaskan kuasa Tuhan di dalam diri kita untuk melihat Kerajaan Tuhan tumbuh! Itulah kekuatan kenabian!... Berfungsi dalam kehendak Tuhan, melalui suara Tuhan untuk mencapai tujuan Tuhan secara supranatural.

Para pemimpin Gereja mula-mula mendelegasikan tanggung jawab pilihan kepada orang percaya dan mereka juga "mendelegasikan" atau memberikan otoritas, kuasa dan tanggung jawab spiritual melalui penumpangan tangan! Gereja mula-mula mendapatkan hasil! Dia berfungsi di bawah kepemimpinan spiritual yang selaras dengan Tuhan – kepemimpinan spiritual yang dapat mempercayai orang-orang untuk menemukan orang yang tepat dengan "kredensial" yang tepat untuk melakukan hal yang benar. Saat kita membaca Kitab Kisah Para Rasul, kita segera menemukan bahwa Stefanus dan Filipus memiliki pelayanan mereka di masa depan yang diberikan kepada mereka pada hari ketika para rasul meletakkan tangan mereka ke atas mereka. Mereka melanjutkan ke tanda-tanda yang kuat, keajaiban dan pelayanan mujizat (Kisah Para Rasul pasal 6-8). Sesuatu di dalam hidup mereka dibebaskan secara rohani ketika Dua Belas memberikannya kepada mereka.

Itu harus sama untuk kita hari ini! Saya katakan, mari kita kembali melakukan hal-hal dengan cara Alkitab! (perbaiki talak, tager, AD, ART gereja Anda). Anda lihat, ketika kita berfungsi sebagai orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus, kita dapat mengizinkan dan melepaskan Roh Kudus dari "kedalaman kita" mengalir seperti sungai untuk memberkati, melepaskan dan mempengaruhi orang lain (Yohanes 7:37-39; Yehezkiel 47: 1-12)! Roh Kekal dari Allah Kekal ingin mengatur kita dalam waktu untuk selama-lamanya! Roh Allah yang Kekal ingin menggunakan kita untuk menetapkan dan melepaskan tujuan kekal Allah dalam diri orang lain! Itulah yang dilakukan oleh Dua Belas Rasul Gereja Mula-Mula bagi orang-orang. Mereka merilisnya untuk berfungsi! Mereka melepaskan otoritas kepemimpinan mereka dalam hal-hal rohani yang kekal! Mereka ada di sana untuk orang-orang – bukan sebaliknya.

Dalam beberapa tahun terakhir, saat kami telah mengembangkan dan memahami lebih banyak tentang pelayanan penyampaian atau impartasi, kami telah memberikan Roh Kudus ke dalam banyak kehidupan. Buah yang berkelanjutan dari itu memang sangat membesarkan hati. Orang-orang telah mengalir lebih banyak dalam karunia rohani, iman, penyembuhan, kenabian, dan pelayanan mereka. Telah datang dampak yang lebih supranatural ke dalam kehidupan dan pelayanan mereka. Kami telah melihat dan mendengar kesaksian-kesaksian luar biasa dari banyak orang yang telah menerima kesembuhan dan pelayanan melalui penumpangan tangan.

Salah satu alasan penting bagi kita semua untuk "penuh dengan Roh Kudus" adalah karena kekristenan yang sejati ada di dalam Roh Kudus – Yang selalu memuliakan YESUS KRISTUS di dalam kita! Kita harus hidup di dalam Roh Kudus, dan Dia harus hidup dan aktif di dalam kita! Orang tidak membutuhkan program atau rencana kerja, atau bahkan lebih banyak pengetahuan Alkitab (dalam arti alami). Mereka perlu dipengaruhi oleh Roh Kudus Kebenaran yang memberi mereka wahyu tentang siapa mereka dan apa panggilan Tuhan untuk mereka lakukan. Setiap kali kita tunduk dan mengikuti tuntunan Roh Kudus, Dia akan selalu membawa kita lebih dekat kepada Yesus, Firman Tuhan, gaya hidup yang disucikan dan apa pun yang dapat diterima dan menyenangkan Tuhan!

Dalam Kisah Para Rasul pasal enam masalah mereka bisa menjadi bencana mutlak. Tetapi para pemimpin yang dipenuhi Roh Kudus itu mengetahui hikmat Allah, mereka mengetahui panggilan mereka sendiri di dalam Allah dan tidak akan membiarkan tanggung jawab lain "dibebankan ke piring mereka". Mereka tahu bagaimana mendelegasikan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada orang-orang dengan menyediakan standar spiritual yang dibutuhkan dan membiarkan orang memilih. Orang-orang kemudian dengan kuat mendukung keputusan mereka dengan memberikan karunia dan kemampuan Roh Kudus kepada ketujuh orang itu untuk memenuhi tugas mereka secara supranatural.

Hasilnya apa?

Gereja maju "dengan pesat" secara numerik dan spiritual. Itu tidak menjadi "bottle-necked", penghalang atau penghambat gereja di bagian atas. Gereja dan pesan-pesannya disajikan sedemikian rupa sehingga seluruh kota dan komunitas terpengaruh. Bahkan imam-iman bait suci diyakinkan akan bentuk-bentuk tradisi dan kematian mereka, menyadari kesalahan jalan mereka dan berpaling kepada Yesus untuk mengikuti jalan Roh Kudus. Hasil dari apa yang kita baca di Kisah Para Rasul pasal enam sebenarnya akan menyebabkan seluruh proses diulang lagi, dan tetap berulang kali, karena mereka menghadapi tantangan dari ribuan orang percaya baru yang dibawa kepada iman kepada Yesus Kristus. Para pemimpin didelegasikan dan diberikan untuk melihat seluruh tubuh orang percaya berfungsi sebagaimana mestinya, dan untuk menjaga pertumbuhan seluruh tubuh secara sehat dan kuat.

Semua orang mendapat manfaat ketika kita penuh dengan Roh Kudus dan taat kepada-Nya.   Dia (Roh Kudus) memuliakan YESUS seperti yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain – dan Dia tinggal di dalam setiap orang percaya yang penuh dengan Dia!

Mari kita bertanya lagi pada diri kita hari ini:

  1. Apakah saya jujur dan memiliki reputasi baik di antara orang-orang? (Apakah saya hidup sehingga hanya ada jawaban positif untuk pertanyaan ini?).
  2. Bisakah saya dipercaya? (Seberapa baik Anda menepati janji Anda?).
  3. Seberapa penuh saya dengan Roh Kudus?
  4. Apakah Yesus benar-benar "Nomor Satu" dalam hidup saya?
  5. Apakah saya benar-benar tersedia bagi-Nya?
  6. Apakah saya bersedia melakukan apa yang Dia ingin saya lakukan?
  7. Apakah saya memiliki iman untuk menaati-Nya?
  8. Apakah saya mendengar apa yang Dia katakan? ("Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Allah" – Roma 10:17).
  9. Apakah saya cukup mempercayai orang lain untuk memungkinkan mereka berfungsi dalam panggilan Roh Kudus dalam hidup mereka?
  10. Apakah saya memahami pelayanan penumpangan tangan dan penyampaian atau impartasi?

 Sudah waktunya bagi kita orang Kristen untuk benar-benar jujur tentang di mana posisi kita dengan Yesus, Firman Tuhan, Roh Kudus, tujuan Tuhan, dan di mana kita cocok dengan semua ini sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga tulisan ini menggugah kita semua untuk lebih memberikan diri kita pada hal-hal tersebut. Amin.

 

Selanjutnya: Kembalinya Yesus ke surga

 

Sabtu, 11 Februari 2023

YESUS BANGKIT DARI KUBUR INTI DARI PESAN KRISTEN

 YESUS BANGKIT DARI KUBUR INTI DARI PESAN KRISTEN

 

Sebelumnya: Penyelesaian Misi Terpenting Yesus

Kebangkitan Yesus Kristus adalah dasar dari iman Kristen. Tanpa kebangkitan, kepercayaan akan anugrah dan kemurahan Allah yang menyelamatkan melalui Yesus adalah batal. Ketika Yesus bangkit dari kematian, Dia membuktikan keilahiannya sebagai Anak Allah dan karya pendamaian, pembenaran, penebusan, rekonsiliasi, dan keselamatanNya. Kebangkitan adalah kebangkitan fisik yang nyata dari tubuh Yesus dari kematian.

Yesus ditangkap dan dijatuhi hukuman penyaliban atas permintaan orang Farisi. TubuhNya digantung di kayu salib di antara dua pencuri. Setelah kematianNya, tubuh Yesus dibungkus dengan kain linen dan ditempatkan di sebuah kuburan dengan ditutup sebuah batu besar yang digulingkan di lubangnya. Pada hari ketiga, Minggu pagi, para wanita pembawa mur datang ke kubur dan menemukannya kosong. Duduk di atas batu yang terguling adalah seorang malaikat Tuhan yang mengatakan kepada mereka untuk tidak takut karena Yesus telah bangkit. Ketika para wanita pergi untuk memberi tahu para murid, Yesus Kristus menemui mereka dan menunjukkan kepada mereka tangan-Nya yang tertusuk paku.

Baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berbicara tentang kebenaran Yesus dibangkitkan dari kematian. Yesus bersaksi tentang kebangkitanNya sebelum Dia mati di kayu salib dan murid-muridNya menyaksikan tubuhNya setelah kebangkitan.

"Ia telah bangkit" berarti bahwa Yesus telah dibangkitkan dari antara orang mati, dan sekarang bersama Allah di surga. Artinya Dia telah mengalahkan maut karena mereka yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup yang kekal.

Kebangkitan Yesus adalah inti dari pesan Kristen. Betapa disayangkan bahwa kebaktian gereja mungkin menekankan kubur kosong hanya pada hari Minggu Paskah, atau bahkan selama musim Paskah. Kekhawatiran lainnya adalah cara umum orang Kristen meringkas Injil dengan hanya menyebutkan kematian Yesus. Tanpa kebangkitan, pelayanan Yesus berakhir dengan kekalahan dan kekecewaan (Lukas 24:21). Tapi semuanya berubah jika “Dia tidak ada di sini! Ia telah bangkit dari kematian, seperti yang telah Ia katakan” (Matius 28:6).

Kebangkitan memuncak narasi sengsara dalam keempat Injil karena itu adalah pusat dari penebusan itu sendiri. Tanpanya, seseorang hanya bisa mengasihani Yesus sebagai martir mati yang cita-cita luhurNya disalahpahami. Dengan itu, seseorang harus kagum pada Mesias yang ditinggikan, Putra Allah yang hidup, yang memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang, yang saat ini memerintah di sebelah kanan Allah, dan yang suatu hari akan kembali dalam kemuliaan untuk memperbaiki yang rusak di dunia ini.

Paulus dengan blak-blakan menyatakan bahwa tanpa kebangkitan iman dan pesan kita sia-sia (1 Korintus 15:12-19). Memikirkan betapa suram dan sia-sianya kehidupan yang disebut “Kristen” tanpa kebangkitan seharusnya memacu kita untuk merenungkannya lebih dalam lagi:

Tanpa kebangkitan, kematian Yesus akan berjalan tanpa interpretasi dan pengesahan ilahi. Kebangkitan merupakan tanda yang jelas dari Bapa bahwa Yesus adalah Anak Allah yang penuh kuasa yang telah mengalahkan maut dan memerintah sebagai Tuhan atas segalanya (Roma 1:4; 4:25). Kebangkitan menunjukkan bahwa “darah perjanjian baru” Yesus menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Selain kebangkitan, tidak ada alasan untuk cawan peringatan di Meja Tuhan karena tidak ada alasan untuk mengantisipasi cawan anggur baru di Kerajaan Bapa (Matius 26:28).

Tanpa kebangkitan, tidak ada janji Yesus yang dapat dipercaya. Jika Yesus tidak bangkit dari kematian setelah berkali-kali berjanji bahwa Dia akan melakukannya (Matius 12:40; 16:21; 17:9, 23, 20:19; 26:32), Dia harus dikasihani atau dicemooh, bukan percaya dan taat (bdk. 1 Korintus 15:16-19). Namun janji-Nya yang paling menakjubkan telah menjadi kenyataan, jadi bagaimana mungkin kita tidak bergantung dan hidup dengan semua janji-janji-Nya yang lain?

Tanpa kebangkitan, tidak akan ada landasan apostolik bagi gereja (Matius 16:18). Kebangkitan Yesus mengubah para pembelot yang terpencar kembali menjadi pengikut yang setia (Matius 26:31-32). Berita mengejutkan namun nyata disampaikan kepada mereka oleh dua wanita yang pertama kali menemukan kubur kosong dan kemudian oleh Tuhan Yesus yang telah bangkit membawa murid-murid yang tercerai berai kembali ke kandang dan memberanikan mereka untuk bersaksi (Matius 28:7, 10, 16 -20). Pesan kebangkitan yang sama masih kuat untuk mengubah orang yang ragu menjadi murid saat ini.

Tanpa kebangkitan, tidak akan ada model hidup berkorban. Yesus mewujudkan dan mendemonstrasikan oxymoron dari kehidupan yang disalibkan, bahwa kehidupan yang mementingkan diri sendiri adalah kesengsaraan, dan bahwa kehidupan yang benar-benar berkelimpahan hanya terjadi ketika seseorang mati demi kepentingan diri sendiri (Matius 10:38-39; 16:24-28; 20: 26-28; 23:12). Paulus mengembangkan ini lebih jauh, mengajarkan kita bahwa para pengikut Yesus mati bersama-Nya menuju kehidupan lama dan bangkit bersama-Nya untuk hidup baru (Roma 6:1-11). Tetapi model salib transformatif yang mengarah ke mahkota ini adalah lelucon jika penderitaan Yesus tidak mengarah pada kebangkitan-Nya dan pemerintahan surgawi. Dasar Paulus untuk mengajar orang-orang Filipi untuk hidup dalam kerendahan hati dan persatuan hanyalah dengan menceritakan kisah Yesus, berpusat pada bagaimana kerendahan hati-Nya di masa lalu membawa pada permuliaan-Nya di masa depan (Filipi 2:1-13).

Tanpa kebangkitan, tidak akan ada shalom eskatologis untuk memperbaiki semua kesalahan duniawi dan memperbarui dunia (Matius 19:28-29). Para martir yang darahnya menyerukan keadilan tidak akan pernah dibenarkan (Matius 23:35; Wahyu 6:9-11). Jutaan ketidakadilan yang tak terhitung yang dilakukan oleh manusia sepanjang sejarah tidak akan pernah bisa diperbaiki. Tidak akan ada perhitungan akhir untuk dosa, dan Setan akan memenangkan pertempuran kosmik. Tetapi kebangkitan menjamin bahwa model doa para murid akan dijawab – kehendak Allah akan terjadi di bumi seperti di surga (Matius 6:10). Dengan membangkitkan Yesus, Allah menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan kepada-Nya atas apa yang telah mereka lakukan (Matius 16:27; Yohanes 5:28-29; Kisah Para Rasul 17:31).

Yang pasti, pewartaan apostolik Injil berpusat pada salib (Galatia 6:14; 1 Korintus 1:18-25; 1 Petrus 1:19; Ibrani 2:9, 14; 9:12-14; Wahyu 5: 6, 9). Tetapi makna salib paling tidak jelas tanpa kebangkitan. Setiap penyampaian kabar baik tentang Yesus sang Mesias harus menekankan kebangkitan-Nya sebagai penjelasan penting atas kematian-Nya dan bukti kuasa penyelamatannya. Setiap "Injil" yang tidak menempatkan kebangkitan Yesus di samping kematian Yesus bukanlah pesan otentik dari Yesus dan para rasulNya.

Yesus bukanlah seorang martir yang mati untuk dikasihani, tetapi Tuhan yang hidup, berkuasa, yang datang kembali untuk dikasihi dan diteladani, baik dalam penderitaan sekarang maupun kemuliaan di masa depan (Filipi 3:10-11).

Saat kita melewati Paskah dan memasuki musim panas, renungkan ajaran para rasul tentang kuasa kebangkitan dalam perikop seperti ini: Kisah Para Rasul 2:32; 3:15, 26; 4:2, 10, 33; 5:30; 10:40; 13:30 dst Kisah Para Rasul 17:18, 31; 23:6; 24:21; 25:19; 26:8, 23 Roma 1:4; 4:25; 6:4-5; 8:11; 10:9 1 Korintus 15; 2 Korintus 4:10, 14; 13:4 Galatia 1:1 Efesus 1:20; 2:5; 4:10 Filipi 2:8-9; Kol 2:12; 3:1-4 1 Tesalonika 4:14; 1 Timotius 3:16 Ibrani 1:3; 10:12; 12:3 1 Petrus 1:22; 3:18-22 Wahyu 1:5, 18; 2:8; 5:6-10

Kebangkitan Yesus Kristus adalah peristiwa terpenting dalam sejarah dunia. Ini adalah puncak dari Pekan Suci, dan yang memberi harapan bagi jutaan pengikut Kristus di seluruh dunia. Berikut sepuluh alasan mengapa kebangkitan Yesus begitu penting.

 

1. Kebangkitan Yesus Kristus berarti orang percaya dibenarkan di hadapan Allah.

Ia telah diserahkan untuk mati karena dosa-dosa kita dan dibangkitkan untuk pembenaran kita. (Roma 4:25) Pembenaran berarti “dibenarkan dengan.” Karena dosa kita, umat manusia terputus dari hubungan yang benar dengan Allah (Roma 6:28, Yesaya 59:2). Kitab Suci menyebut kita “sasaran murka” karena Allah harus mengerahkan murka-Nya kepada mereka yang melanggar hukum-Nya (Efesus 2:3). Tanpa seseorang yang turun tangan untuk memperbaiki situasi ini, kita tidak dapat memiliki hubungan dengan Tuhan seperti yang Dia maksudkan. Dalam kematian Yesus Kristus di kayu salib, Allah menaruh hukuman kita pada Kristus agar kita dapat dibenarkan di hadapan-Nya (2 Korintus 5:21). Kebangkitan Yesus menegaskan bahwa Allah menerima pengorbanan Kristus untuk dosa di kayu salib dan memberi kita akses ke hubungan yang benar dengan-Nya. Puji Tuhan!

 

2. Kebangkitan Yesus Kristus menunjukkan bahwa Yesus mengalahkan maut.

Kematian adalah musuh umat manusia dan hukuman yang adil atas dosa kita (Roma 6:23). Tingkat kematian adalah dan akan selalu 100%. Tidak ada upaya, teknologi medis, kekuasaan, atau kekayaan apa pun yang dapat lolos dari cengkeraman maut. Kristus bangkit dari kematian karena maut tidak dapat lagi menahan-Nya (Kis. 2:24). Jadi, kita tidak perlu lagi takut akan maut karena Kristus telah menang atasnya. Itulah yang membuat rasul Paulus menulis: “Wahai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’” Sengat maut adalah dosa, dan kuasa dosa adalah hukumnya. Tetapi syukur kepada Tuhan, yang memberi kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus! (1 Korintus 15:55-57)

 

3. Kebangkitan Yesus Kristus berarti orang percaya dipersatukan dengan Kristus.

Ketika kita percaya kepada Kristus, kita dipersatukan dengan Dia dalam iman (2 Korintus 4:14). Persatuan dengan Kristus berarti bahwa ketika Tuhan melihat kita, Dia tidak melihat ketidakbenaran kita, tetapi kebenaran Kristus. Artinya kita telah mati dengan Dia dan juga akan hidup dengan Dia (Roma 6:8). Persatuan ini dimungkinkan oleh kebangkitan Kristus. Mirip dengan ketika pasangan dipersatukan dalam pernikahan dan milik salah satu pasangan menjadi milik bersama dari pasangan baru mereka, orang percaya menerima kebenaran Kristus karena persatuan mereka dengan Dia (1 Korintus 1:30). Kita sekarang dapat berjalan dalam hidup yang baru karena kita terikat dengan Yesus Kristus oleh Roh Kudus (Roma 6:4). Gagasan ini ditunjukkan dalam baptisan, yang merupakan demonstrasi fisik dari realitas rohani dari kematian kita bersama Kristus dan dibangkitkan bersama Dia.

 

4. Kebangkitan Yesus Kristus meneguhkan kebenaran Kitab Suci.

Kitab Ayub, Yesaya 53, dan Mazmur 16 adalah di antara banyak contoh Kitab Suci Perjanjian Lama yang menubuatkan tentang kebangkitan Yesus:

“Karena aku tahu bahwa Penebusku hidup, dan pada akhirnya Dia akan berdiri di atas bumi.” (Ayub 19:25)

“Namun itu adalah kehendak TUHAN untuk meremukkan dia; dia telah membuatnya sedih;

ketika jiwanya membuat persembahan untuk kesalahan, dia akan melihat keturunannya; dia akan memperpanjang hari-harinya; kehendak TUHAN akan berhasil di tangannya.

Dari penderitaan jiwanya dia akan melihat dan dipuaskan; dengan pengetahuannya akan orang benar, hamba-Ku, membuat banyak orang dianggap benar, dan dia akan menanggung kesalahan mereka.

Oleh karena itu aku akan membagi dia sebagian dengan yang banyak, dan dia akan membagi jarahan dengan yang kuat, karena dia mencurahkan jiwanya sampai mati dan terhitung dengan para pelanggar; namun dia menanggung dosa banyak orang, dan membuat syafaat bagi para pelanggar.” (Yesaya 53:10-12; lihat penggenapan dalam Yohanes 12:38, Roma 8:17; Kisah Para Rasul 8:32-33; 1 Petrus 2:23; Lukas 22:37)

“Karena kamu tidak akan meninggalkan jiwaku ke Sheol, atau membiarkan orang sucimu melihat kerusakan. Engkau memberi tahu kepadaku jalan kehidupan; di hadapanmu ada kepenuhan sukacita; di tangan kananmu ada kesenangan untuk selama-lamanya.” (Mazmur 16:10-11; lihat Kisah Para Rasul 2:25-28, 2:31,13:35)

 

5. Kebangkitan Yesus Kristus membuktikan kebenaran Injil.

Fakta bahwa Yesus hidup hari ini berarti bahwa Dia mampu menyelamatkan hari ini. Ini adalah argumen utama Paulus dalam 1 Korintus 15, di mana dia menjelaskan bagaimana seluruh Injil Kristen bergantung pada kebangkitan Yesus:

Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sia pemberitaan kami dan sia-sia iman kamu… dan jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sia iman kamu dan kamu masih dalam dosa kamu. Kemudian mereka juga yang telah tertidur di dalam Kristus telah binasa. Jika di dalam Kristus kita memiliki harapan hanya dalam hidup ini, kita adalah orang yang paling dikasihani. (1 Korintus 15:14; 17-19)

Kebangkitan bukan hanya bagian mendasar dari Injil, tetapi itu adalah perekat yang menyatukan setiap bagian Injil. Tanpanya, orang Kristen percaya dengan sia-sia dan hidup tanpa harapan. Tetapi karena Kristus telah bangkit dari kubur, kita memiliki pengharapan akan pengampunan, pembenaran, dan hidup kekal di dalam Kristus.

 

6. Kebangkitan Yesus Kristus membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Klaim unik Yesus tentang diri-Nya tidak masalah jika Dia tetap di dalam kubur. Nyatanya Dia akan menjadi seperti jutaan orang yang pergi sebelum Dia dan jutaan orang yang datang setelahnya. Tetapi Yesus Kristus memang bangkit dari kematian dan kebangkitan-Nya membuktikan status unik-Nya sebagai Anak Allah.

…[Kristus] dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa menurut Roh kekudusan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. (Roma 1:4)

 

7. Kebangkitan Yesus Kristus berarti bahwa Allah Bapa akan memberikan Roh Kudus-Nya kepada orang percaya.

Oleh karena itu dimuliakan di sebelah kanan Allah, dan setelah menerima dari Bapa janji Roh Kudus, Dia telah mencurahkan ini yang kamu sendiri lihat dan dengar. (Kisah Para Rasul 2:33)

Setelah Kristus bangkit dan naik, Dia mengirimkan Roh Kudus yang dijanjikan untuk melanjutkan pekerjaan-Nya di bumi. Ini berarti bahwa pelayanan Kristus di bumi berlanjut hingga hari ini melalui umat-Nya, yang di dalamnya Dia tinggal oleh Roh Kudus. Ini juga berarti bahwa Kristus akan membantu umat-Nya dengan Roh, menguatkan mereka, menginsafkan mereka, membimbing mereka ke dalam kehidupan yang diinginkan Allah.

 

8. Kebangkitan Yesus Kristus memberi orang Kristen harapan yang hidup.

Menurut kemurahan-Nya yang besar, Dia telah menyebabkan kita dilahirkan kembali untuk suatu pengharapan yang hidup melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, ke warisan yang tidak dapat binasa, tidak tercemar, dan tidak dapat pudar, yang disimpan di surga bagi Anda… (1 Petrus 1 :3-4)

Diampuni dari dosa dan dibenarkan di hadapan Allah memberi orang Kristen harapan yang luar biasa. Orang Kristen diubah dari musuh Tuhan yang menuju neraka, menjadi anak Tuhan yang diampuni dengan warisan abadi di surga yang tidak akan pernah bisa diambil. Apa yang bisa menjadi berita yang lebih baik dari itu?

 

9. Kebangkitan Yesus Kristus berarti bahwa kita akan dibangkitkan seperti Dia.

Kristus digambarkan sebagai buah sulung dari kebangkitan dari antara orang mati, artinya kebangkitan-Nya adalah pendahulu dari kebangkitan yang akan dialami oleh semua orang percaya (1 Korintus 15:20). “Sebab sama seperti kematian datang melalui manusia,” tulis rasul Paulus, “oleh manusia datang juga kebangkitan orang mati. Karena sama seperti semua orang mati dalam Adam, demikian juga semua orang akan dihidupkan dalam Kristus” (1 Korintus 15:21-22).

Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan menikmati hidup kebangkitan sama seperti Kristus, dengan tubuh kemuliaan yang dibangkitkan dalam kuasa (1 Korintus 15:42-44). Kita mungkin menderita dalam kehidupan ini dengan rasa sakit dan penyakit, tetapi kita tidak akan menderita dalam kehidupan yang akan datang. Semua penderitaan duniawi memiliki tanggal kedaluwarsa, tetapi kenikmatan surga tidak akan pernah berakhir.

 

10. Kebangkitan Yesus Kristus berarti bahwa Kristus akan menghakimi dunia dalam kebenaran.

Masa-masa ketidaktahuan yang diabaikan Tuhan, tetapi sekarang Dia memerintahkan semua orang di mana-mana untuk bertobat, karena Dia telah menetapkan suatu hari di mana Dia akan menghakimi dunia dalam kebenaran oleh seorang Pria yang telah Dia tetapkan; dan tentang ini Dia telah memberikan jaminan kepada semua dengan membangkitkan Dia dari kematian. (Kisah Para Rasul 17:30-31)

Setiap orang yang pernah hidup akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan atas apa yang telah mereka lakukan. Orang yang tidak percaya akan dimintai pertanggungjawaban karena melanggar hukum Allah dan menghadapi penghukuman di neraka. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban orang percaya atas pekerjaan mereka dan akan membalas mereka di surga. Tanda yang Allah berikan untuk meneguhkan fakta ini adalah kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati.

Jika Anda tidak percaya kepada Yesus Kristus, penghakiman ini seharusnya menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Anda akan menghadapi murka Allah dan menderita selama-lamanya di neraka karena dosa-dosa Anda. Tapi penghakiman ini tidak harus menjadi hal yang menakutkan. Bukan hanya nanti di neraka, bahkan ketika Anda masih hidup di dunia ini, di bumi ini, akan berbeda nyata kehidupan Anda apabila Anda berada dalam Kristus dan bagi mereka yang berada di luar Kristus. Apa bedanya? Orang yang berada dalam Kristus adalah orang yang sudah menerima kebenaran, damai sejahtera, sukacita, dan kuasa oleh Roh Kudus.

"Ia telah bangkit" berarti bahwa Yesus telah melepaskan diri dari antara orang mati, dan sekarang bersama Allah di surga. Artinya Dia telah mengalahkan maut karena mereka yang percaya kepadaNya akan memiliki hidup yang kekal. Menurut iman Kristen, kebangkitan adalah peristiwa penting ketika “Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati” setelah Ia disalibkan oleh gubernur Romawi Pontius Pilatus.

Meskipun tidak satu pun dari empat Injil kanonik Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes menjelaskan peristiwa kebangkitan yang sebenarnya secara terperinci, mereka tetap memberikan berbagai laporan tentang kubur kosong dan penampakan Kristus setelah kebangkitan di antara para pengikutNya baik di Galilea maupun Yerusalem. Mereka juga melaporkan bahwa para wanitalah yang menemukan kubur kosong dan menerima serta mengumumkan pesan pertama bahwa Kristus telah bangkit dari kematian. Narasi ini diturunkan secara lisan di antara komunitas Kristen paling awal dan kemudian dikodifikasikan dalam tulisan-tulisan Injil yang dimulai sekitar 30 tahun setelah kematian Yesus.

Orang-orang Kristen Awal percaya bahwa dengan membangkitkan Yesus dari Nazaret dari kematian, Tuhan membersihkan Yesus dari segala kesalahan yang diadili dan secara tidak adil dihukum mati oleh Pilatus. Dengan menegaskan kebangkitan, umat Kristiani tidak memaksudkan bahwa tubuh Yesus sekadar disadarkan kembali. Sebaliknya, kebangkitan berarti bahwa “[Yesus] masuk ke dalam bentuk keberadaan yang sama sekali baru.”

Sebagai Kristus yang bangkit, Yesus diyakini membagikan kuasa Allah untuk mengubah semua kehidupan dan juga membagikan kuasa yang sama ini kepada para pengikutNya. Jadi kebangkitan diyakini sebagai sesuatu yang terjadi tidak hanya pada Yesus, tetapi juga pengalaman yang terjadi pada para pengikutNya.

Kebangkitan Yesus secara konservatif atau tradisional menjadi klaim utama kekristenan. Dokumen Perjanjian Baru melaporkan bahwa murid-muridNya menemukan kuburNya kosong, bahwa Dia menampakkan diri kepada mereka dalam banyak kesempatan, dan kebangkitanNya adalah tema utama dari pesan mereka. Paulus menulis bahwa Yesus yang telah bangkit menampakkan diri kepadanya, dan bahwa kebangkitan Yesus adalah doktrin yang penting. “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah imanmu.”

Kebangkitan Yesus adalah klaim-kebenaran sentral dari Kekristenan ortodoks, setiap pertanyaan tentang validitasnya secara otomatis mempertanyakan validitas iman Kristen itu sendiri, dan memerlukan tanggapan apologetik yang berurusan dengan pandangan dunia filosofis di balik keberatan tersebut. Miliaran kematian telah menunjukkan bahwa kematian adalah akhir dari kehidupan, dan karena itu kemungkinan kebangkitan lebih kecil dari 1 miliar berbanding satu. Konsekuensinya, tidak pakai akal untuk percaya bahwa Yesus adalah pengecualian dari aturan tersebut, tetapi pakai iman, bahwa itu adalah keajaiban. Penjelasan ajaib mungkin tampak tidak masuk akal, tetapi mereka telah bertahan lebih dari dua milenium sebagai gagasan kebangkitan miliar-ke-satu.

Namun, pada dasarnya tidak mungkin untuk membuktikan kebangkitan secara historis.  Bagaimana kuburan Yesus menjadi kosong adalah pertanyaan yang tidak dapat ... dijawab dengan cara sejarah. Jika Anda telah mengesampingkan yang lainnya, menerima penjelasan yang diberikan dalam konteks religius dari peristiwa itu sendiri adalah solusi. Adalah baik dalam sejarah untuk menyimpulkan bahwa para murid percaya bahwa Tuhan membangkitkan Yesus dari kematian. Bahkan dalam sejarah menunjukkan bahwa Yesus tampaknya hidup setelah penyalibanNya. Dalam sejarah mengatakan bahwa Yesus tampaknya dibangkitkan, tetapi tampaknya di luar sejarah untuk mengklaim bahwa Tuhan adalah penyebab kebangkitannya. Ini lebih merupakan klaim teologis atau filosofis – dan sah untuk membuat klaim ini.

Sejarah dapat menanyakan apakah suatu peristiwa yang diklaim benar-benar terjadi, tetapi juga harus menanyakan apakah ia memiliki alat untuk menyelidiki peristiwa tersebut. Jika suatu peristiwa sejarah terjadi di mana tidak ada penjelasan yang dapat dilihat dalam lingkup sejarawan, adalah wajar untuk memberi bobot pada klaim yang didukung dengan baik bahwa penjelasannya terletak di beberapa bidang lain. Gagasan yang menjadi keyakinan bahwa Tuhan mengintervensi dan membangkitkan Yesus setidaknya mencakup fakta; sejauh ini tidak ada hal lain yang disarankan. Fakta menunjukkan hal ini.

Bukti sejarah menghalangi penjelasan naturalistik apa pun, dan metode sejarah tampaknya tidak dapat memberikan jawaban yang masuk akal. Berdasarkan pertimbangan metafisik, saya percaya bahwa Tuhan itu ada dan memiliki alasan untuk mengirim inkarnasi ke dunia ini dan membangkitkannya. Mempertimbangkan konteks yang lebih besar ini, saya percaya bahwa penjelasan terbaik dari bukti adalah yang diberikan kepadanya oleh orang-orang yang mengaku sebagai saksi mata: bahwa Allah membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

Tentu saja, seseorang dengan pandangan dunia yang berbeda akan menimbang bukti secara berbeda pula. Beberapa telah melihat bukti dan masih menyimpulkan bahwa penjelasan psikologis yang tidak masuk akal lebih disukai daripada penjelasan ilahi yang "tidak mungkin". Bukti yang sama tidak akan meyakinkan semua orang, tetapi kemudian, hanya sedikit yang percaya karena argumen.

Validitas klaim Yesus tentang diri-Nya terletak pada Kebangkitan - apakah Dia bangkit dari kematian atau tinggal di dalam kubur. Ketika dihadapkan pada fakta, mereka yang jujur secara intelektual terpaksa mengakui bahwa Kebangkitan adalah peristiwa sejarah berdasarkan bukti yang tak terbantahkan. Studi pribadi saya membawa saya pada keyakinan kuat bahwa kebangkitan tubuh adalah satu-satunya penjelasan yang valid untuk kubur Kristus yang kosong.

 

Bukti Kebangkitan

Kristus menubuatkan kebangkitan-Nya. Alkitab mencatat, “Sejak saat itu Yesus mulai menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem, dan menderita banyak hal ... dan dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Matius 16:21, New American Standard Bible, terjemahan bebas). Meskipun para pengikut-Nya tidak mengerti apa yang Dia katakan kepada mereka pada saat itu, mereka mengingat kata-kata-Nya dan mencatatnya.

Yesus banyak menampakkan diri kepada para pengikut-Nya. Dia menghibur para pelayat di luar makam-Nya pada hari Minggu pagi. Di jalan menuju Emaus, Dia menjelaskan hal-hal tentang diri-Nya dari Perjanjian Lama. Kemudian, Dia makan di hadapan mereka dan mengundang mereka untuk menyentuh-Nya. Alkitab mencatat bahwa Yesus dilihat oleh lebih dari 500 orang sekaligus (1 Korintus 15:6).

Para pengikut Yesus memiliki iman yang teguh pada Kebangkitan. Murid-murid yang dulu begitu takut ketika Yesus ditangkap dan lari meninggalkan Tuhan mereka, sekarang dengan berani mengumumkan berita ini, mempertaruhkan hidup mereka untuk berkhotbah. Tingkah laku mereka yang berani dan berani tidak masuk akal kecuali mereka tahu dengan kepastian mutlak bahwa Yesus telah dibangkitkan dari kematian. Mereka adalah saksi, dan saksi adalah bukti.

Pertumbuhan gereja Kristen meneguhkan Kebangkitan. Khotbah pertama Petrus, yang membahas tentang kebangkitan Kristus, menggerakkan orang untuk menerima Dia sebagai Juruselamat mereka yang hidup. Lukas mencatat hasil yang menggetarkan hati: “Pada hari itu bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (Kis. 2:41). Dan kelompok orang percaya itu telah berlipat ganda di seluruh dunia. Hari ini, ada lebih dari dua miliar orang yang mengikuti Yesus di seluruh bangsa. Jauh lebih banyak dibandingkan mereka yang sedikit dengan kepercayaan yang berbeda.

Kesaksian miliaran kehidupan yang diubahkan selama berabad-abad menunjukkan kuasa Kebangkitan. Banyak yang sembuh dari kecanduan. Orang miskin dan putus asa telah menemukan harapan. Pernikahan yang rusak telah dipulihkan. Bukti paling meyakinkan untuk kebangkitan Yesus Kristus adalah bahwa Dia hidup di dalam orang percaya hari ini mengubah hidup.

Kebangkitan membedakan kekristenan. Tidak ada pemimpin agama lain yang bangkit dari kematian dan mengalahkan dosa. Kebangkitan meneguhkan bahwa Yesus adalah seperti yang Dia nyatakan. Mari kita pertimbangkan besarnya peristiwa ini.

Kebangkitan membuktikan bahwa Kristus adalah ilahi. Fakta bahwa Yesus Kristus mati di kayu salib tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Dia adalah Allah. Yesus membuktikan sifat ilahi-Nya dengan memenuhi prediksi kematian-Nya dan dengan kembalinya-Nya bangkit dari kubur. Alkitab menyatakan bahwa “dengan dibangkitkan dari antara orang mati [Kristus] telah terbukti sebagai Anak Allah yang perkasa, dengan sifat kudus Allah sendiri” (Roma 1:4, The Living Bible, terjemahan bebas).

Kebangkitan membuktikan kuasa Kristus untuk mengampuni dosa. Alkitab mengklaim, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, imanmu sia-sia; kamu masih dalam dosamu” (1 Korintus 15:17, NASB). Dengan bangkit dari kematian, Yesus membuktikan otoritas dan kuasa-Nya untuk memutuskan belenggu dosa dan untuk menjamin pengampunan dan kehidupan kekal bagi semua orang yang menerima karunia keselamatan-Nya.

Kebangkitan mengungkapkan kuasa Kristus atas kematian. Alkitab mencatat, “Kristus bangkit dari kematian dan tidak akan pernah mati lagi. Maut tidak lagi berkuasa atas Dia” (Roma 6:9, TLB). Kebangkitan memastikan kemenangan kita atas kematian juga dan “mengangkat kita dari kubur ke dalam kemuliaan bersama dengan Kristus, di mana kita duduk bersama Dia di sorga” (Efesus 2:6, TLB). Bukan hanya di surga yang akan datang, tetapi sekarang di bumi ini, ketika kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga.

Kebangkitan mengalahkan musuh Allah. Dari saat pemberontakan awal Setan hingga hari salib, iblis berperang dengan kejam dan licik untuk menggulingkan kerajaan Allah. Pada penyaliban, Setan pasti mengira dia memberikan pukulan terakhir dan menentukan dalam perang yang sudah berlangsung lama ini. Tapi ini adalah kesalahan perhitungan iblis yang paling serius. Salib bukanlah tanda kekalahan. Salib adalah kemenangan surga! Ketika Yesus Kristus bangkit, kuasa dosa dan maut dihancurkan selamanya. Karena Kebangkitan, orang Kristen tidak perlu lagi takut kepada Setan atau kematian.

Narasi kebangkitan dalam Injil menggambarkan Yesus bangkit pada hari ketiga dalam tubuh yang disalibkan, meninggalkan kubur kosong di belakangnya. Dalam Injil Lukas, misalnya, kisah kebangkitan dimulai dengan ditemukannya kubur kosong oleh para murid (24:1–12; bdk. 24:23–24). Pada klimaks narasi, Yesus menunjukkan diri-Nya hidup kepada Dua Belas dan murid-murid lainnya, mengundang mereka untuk "menjamah Aku dan melihat, karena roh tidak memiliki daging dan tulang seperti yang kamu lihat yang Aku miliki" (Lukas 24:39).

Dalam Injil Yohanes, Yesus mengundang Tomas yang ragu untuk memeriksa bekas luka di tangan dan lambungnya (Yohanes 20:24–29). Pidato sebagai khotbah para rasul dalam Kisah Para Rasul juga menegaskan bahwa daging Yesus dibangkitkan tanpa mengalami pembusukan (2:25–31; 13:34–37), dan bahwa Yesus yang bangkit makan dan minum bersama murid-muridNya (10:40–42 ; lih 1:3-4). Baik dalam Injil maupun Kisah Para Rasul, kebangkitan Yesus digambarkan sebagai peristiwa fisik yang konkret yang melibatkan daging dan tulang Yesus. Dan peristiwa Paskah dipahami sebagai penggenapan penaklukan maut yang dijanjikan Allah sang pencipta, membawa harapan kebangkitan tubuh bagi semua orang yang percaya (Yohanes 5:24–29; 6:39, 40, 44, 54; Kisah Para Rasul 4:1 –2; 23:7–10; 24:14–15; 26:6–8; 26:22–23; bandingkan Mat 27:52–53).

Karakter tubuh, daging-dan-tulang dari harapan kebangkitan di masa depan ini sangat tegas dalam kredo-kredo Kristen bersejarah, seperti Pengakuan Iman Rasuli (abad ke-6 M): kredo dalam . . . carnis kebangkitanem ("Saya percaya pada . . . kebangkitan daging"), dan nenek moyang langsungnya, Pengakuan Iman Romawi Kuno (c. 175 M): pisteuoeis . . . sarkos anastasin ("Saya percaya pada... kebangkitan daging").

Banyak sarjana hari ini mengaku menemukan dalam 1 Korintus 15 konsep kebangkitan yang berbeda dengan iman Paskah yang terbukti dalam Injil, kitab Kisah Para Rasul, dan kredo Kristen bersejarah. Namun, tidak ada dasar ilmiah atau penafsiran untuk kesimpulan ini. Cara spesifik Paulus membentuk argumennya, struktur sintaksis di mana pemikirannya diekspresikan, dan makna leksikal dari kata-kata kuncinya, mengungkapkan bahwa ia memahami kebangkitan sebagai peristiwa fisik yang nyata yang melibatkan tubuh daging dan tubuh tulang. Dengan menegaskan bahwa Yesus telah “dibangkitkan” (15:4), Paulus menegaskan kebangkitan tubuh Yesus yang tersalib dari kubur. Dan dalam menegaskan bahwa umat beriman akan “dibangkitkan” (15:42–44, 52), Paulus menegaskan bahwa tubuh kita yang dapat binasa sekarang ini akan diberkati, melalui kuasa kebangkitan Yesus, dengan hidup yang tidak dapat binasa. Dalam 1 Korintus 15, seperti dalam Injil dan Kisah Para Rasul, kebangkitan dipahami sebagai kebangkitan ajaib dari tubuh fana dari daging dan tulang, dan transformasinya sehingga tidak dapat binasa (ini disebut tubuh kemuliaan, yang baru berbeda dari yang lama, tubuh yang penuh luka bekas cambukan dan tombak. Pulihnya cepat).

Ini mungkin terdengar sedikit aneh atau tidak wajar, tetapi itulah yang  dikhotbahkan di pemakaman. Beberapa anggota keluarga dan teman mendengar tentang kasih Allah dan alasan pengharapan yang ada pada kita. Pada saat-saat sulit ini, para pelayat cenderung mempertimbangkan kefanaan mereka sendiri dan memikirkan dengan serius klaim Kristus.

Yesus mengungkapkan perasaan yang sama ketika Lazarus meninggal dan murid-muridNya melihat kebangkitan dan kehidupan dalam tindakan: “Lazarus telah mati. Aku senang untuk kamu bahwa Aku tidak ada di sana sehingga kamu dapat percaya” (Yohanes 11:14–15, CSB). Kita tidak dapat mengetahui sukacita kebangkitan tanpa mengalami kepedihan kematian dan kehilangan.

Pemakaman adalah kesempatan untuk melatih drama eskatologi kita, untuk mempraktikkan pengalaman pengharapan di hadapan orang lain. Ketika berdiri di depan peti mati, bahwa kebangkitan Yesus adalah jaminan kebangkitan kita sendiri di masa depan. Jika Kristus telah bangkit, tidak ada lagi yang penting. Dan jika Kristus tidak bangkit—tidak ada lagi yang penting.

Rasul Paulus mempertaruhkan segalanya pada satu peristiwa yang terjadi dalam ruang dan waktu ini: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, imanmu sia-sia; kamu masih dalam dosamu” (1 Kor. 15:17, CSB). Kajian akademis biasanya mencoba meyakinkan para pembaca bahwa Yesus dibangkitkan dari kematian sementara tidak banyak bicara tentang mengapa kita harus peduli. Kebangkitan tubuh Yesus adalah penjelasan terbaik dari semua bukti alkitabiah dan sejarah, sepanjang implikasi praktis dan teologisnya.

 

Kunci keselamatan

Tidak ada orang Kristen yang serius mempertanyakan pentingnya Kebangkitan bagi injil, tetapi signifikansinya bagi bidang teologi lainnya sering diabaikan. Sebagai contoh, Martin Luther pernah menyatakan bahwa pembenaran adalah berdasarkan iman di mana gereja berdiri atau jatuh. Pembenaran mungkin telah mendefinisikan Reformasi Protestan, tetapi tidak ada pembenaran tanpa Yesus benar-benar dibangkitkan dari kematian. Kita juga tidak dapat memahami apa yang Alkitab ajarkan tentang pembenaran terlepas dari apa yang diajarkannya tentang kebangkitan Kristus. Hal yang sama berlaku untuk doktrin lain seperti Kristologi, penciptaan, keselamatan, dan hal-hal terakhir, tidak banyak artinya tanpa kebangkitan. Kebangkitan adalah pusat sebenarnya dari alam semesta teologis kita.

Dalam Kisah Para Rasul, proklamasi apostolik Injil menyebutkan Kebangkitan jauh lebih banyak daripada Salib. Apa artinya ini bagi cara kita memikirkan dan berbicara tentang Injil? Kaum injili terbiasa mengatakan bahwa Yesus mati untuk dosa-dosa kita dan kemudian bangkit kembali pada hari ketiga, tantangan bagi kita untuk memikirkan secara mendalam tentang cara Yesus bangkit kembali pada hari ketiga untuk dosa-dosa kita. Kebangkitan-Nya sama pentingnya dengan kematian-Nya bagi keselamatan kita (Rm. 4:25).

Kebangkitan harus menjadi pusat pemahaman kita tentang Pendamaian. Tentu saja, para teolog telah memperdebatkan hubungan mereka selama hampir dua milenium. Mereka yang berada di kamp hukuman-pengganti berpendapat bahwa Yesus mati menggantikan orang-orang berdosa, menanggung hukuman atas dosa yang memang pantas kita terima. Pendukung teori lain berpendapat bahwa Yesus mati bukan untuk meredakan murka Allah yang murka, tetapi agar Ia dapat menang atas Setan, dosa, dan kematian. Pemikiran kreatif perlu mempertahankan kekuatan kedua teori tanpa mengalah pada salah satu atau keduanya.

Kurban Tebusan adalah pertama dan terutama tentang partisipasi aktif dan berkelanjutan dari Tuhan yang telah bangkit dengan umat manusia. Allah Putra berpartisipasi dalam kemanusiaan dengan mengambil sifat seperti kita dan menjadi bagian dari kisah manusia. Meskipun Yesus tidak pernah berdosa, Dia secara pribadi memikul kemanusiaan kita yang tercemar dosa di pundakNya. Dia menanggung murka Tuhan menggantikan kita, selamanya membungkam setan yang selalu mendakwa dan menuduh kita. Pengumuman kemenangan Yesus melalui Kebangkitan telah menjadi kemenangan kita sendiri atas dosa, kematian, dan kuasa kegelapan.

Kebangkitan berdampak pada setiap tahap tatanan keselamatan. Di masa lalu, Tuhan menyelamatkan kita dari dosa dengan menyatakan benar semua yang dipersatukan dengan Kristus oleh iman (gagasan alkitabiah tentang “pembenaran”). Namun kita tidak dapat dipersatukan dengan Juruselamat yang telah mati. Terlebih lagi, jika Tuhan tidak membangkitkan Yesus dari kematian, Dia tidak dapat menegakkan kebenaranNya sendiri. Kebangkitan memberi legitimasi pada pembenaran kita sendiri: Kebangkitan itu “mengatakan bahwa Allah telah benar dalam memenuhi janji-janji perjanjian-Nya kepada Abraham dan keturunannya. Kebangkitan mengatakan bahwa Allah telah menebus mereka dengan cara yang benar.”

Allah terus menyelamatkan kita dari dosa saat ini dengan benar-benar mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya (apa yang oleh para teolog disebut "pengudusan"). Kita menjalani kehidupan Kristiani dari kenyataan bahwa di dalam Kristus kita telah dibangkitkan dan bahwa hidup kita sekarang tersembunyi bersama Kristus di dalam kehidupan Allah Tritunggal. Pemahaman ini memberi kesadaran baru, sehingga Anda sebagai seorang Kristen tidak layak untuk menjalani kehidupan seperti orang-orang duniawi dan kedagingan lakukan. Kehidupan dalam kebangkitan hanya mungkin apabila Anda memahami, menyadari dan menjalaninya di dalam Roh Kristus, Roh Kudus, Roh Allah sendiri.

Melalui persatuan kita dengan Tuhan yang bangkit, kita telah dibangkitkan dari kematian rohani dan duduk di alam surga bersama Kristus (Ef. 2:4–6). Kita dapat hidup dalam kuasa Roh yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari kematian sewaktu kita belajar bagaimana mengenakan kebajikan dan atribut Kristus kepada diri kita sendiri.

Pengudusan tercermin dalam implikasi kehidupan sebagai persekutuan aktif dengan Tuhan yang bangkit. Sama seperti Kristus berpartisipasi dalam kemanusiaan kita dengan kematian dan kebangkitan-Nya, kita harus belajar bagaimana berpartisipasi dalam hidup-Nya.

Menarik model dari pemulihan Petrus yang dijelaskan dalam Yohanes 21:1–17, menempatkan kita dalam tiga “pelatihan kebangkitan panggilan” di inti partisipasi berkelanjutan kita dengan Kristus. Pertama, kita harus “melihat Kristus,” belajar bagaimana merenungkan kehadiran-Nya dalam hidup kita dengan doa. Selanjutnya, kita harus “makan Kristus” dengan menyangkal diri kita dan bersuka di dalam Firman-Nya. Dan akhirnya, kita dipanggil (seperti Petrus) untuk “menggembalakan domba-domba,” mencurahkan hidup kita kepada umat Allah dengan pengharapan Injil yang sama yang memelihara kita.

Kebangkitan juga memiliki implikasi yang jelas untuk keselamatan kita di masa depan, ketika Tuhan akan menyelamatkan kita dari dosa dengan sepenuhnya menghilangkan noda dosa dan kematian (tahapan yang kita sebut “pemuliaan”). Kita berpegang teguh pada janji Kitab Suci bahwa kita, seperti Yesus, akan dibangkitkan dari kematian dengan tubuh yang mencerminkan kemuliaan dan kebaikan Allah. Harapan pribadi kita akan kebangkitan juga diterjemahkan menjadi harapan kosmis bagi seluruh tatanan ciptaan. Kebangkitan memastikan bahwa segala sesuatu yang menyedihkan akan menjadi tidak benar.

 

Kebangkitan hidup

Kebangkitan Kristus telah mengubah sifat realitas. Kita tahu Kristus telah dibangkitkan dari kematian, tetapi apa yang hal ini ajarkan kepada kita tentang pribadi dan karya-Nya? Pertama, kebangkitanNya adalah deklarasi ilahi atas kemenanganNya atas kematian dan kekuatan iblis. Kedua, itu membenarkan semua penderitaanNya atas nama kita. Tuhan yang bangkit memerintah, dan suatu hari setiap orang akan mengakui pemerintahanNya (Flp. 2:9–11). Akhirnya, karena Yesus telah dibangkitkan dari kematian, Dia memiliki pekerjaan yang berkelanjutan sebagai Imam Besar dan Raja Agung yang hidup untuk mendoakan dan menggembalakan umat-Nya.

Implikasi Kebangkitan terjadi pada doktrin penciptaan kita, etika kita, dan keterlibatan kita dengan sains dan seni. Melalui kebangkitan Kristus, Tuhan menegaskan mandat penciptaan asli yang diberikan kepada Adam untuk memenuhi bumi dan menguasainya, tetapi Dia juga memberikan misi dan tujuan baru kepada komunitas gerejawi yang diciptakan untuk merayakan kemenanganNya atas kematian. Bagaimana cara merayakannya? Akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya: Pendelegasian Tugas Kerajaan.

Kita tidak dapat memiliki kekristenan tanpa Kebangkitan, tetapi kita sering mengabaikan kuasanya dalam perjalanan kita sehari-hari. Kita harus melampaui penegasan kognitif murni yang dangkal ke pelukan hidup kebangkitan yang penuh gairah. Sebagian besar orang Kristen injili, terlepas dari fakta bahwa mereka akan mati demi keyakinan bahwa Yesus Kristus bangkit secara harfiah dan secara jasmani dari kematian, dan terlepas dari fakta bahwa mereka percaya pada fakta bahwa kebangkitan adalah jaminan Allah bahwa kita dibenarkan dan diampuni dari semua dosa kita, mengetahui sangat sedikit tentang hidup kebangkitan—yaitu, kekristenan yang bebas dari rasa bersalah, penuh sukacita, dan penuh misi, berorientasi pada orang lain.  Kebijaksanaan praktis dan pastoral seperti itu benar-benar membedakan kekristenan yang dibangkitkan ini dari kekristenan standar sejarah atau apologetika.

Kebangkitan Yesus Kristus memberikan contoh yang sangat bagus yang menantang kita untuk merenungkan kemuliaan, misteri, dan keagungan Mesias yang telah bangkit, untuk menjalaninya dalam kehidupan kita sehari-hari di bumi ini, di dunia yang ada sekarang ini.

 

 SELANJUTNYA: Pendelegasian Tugas Kerajaan