Kamis, 16 Desember 2021

MEMBERI BAGAIMANA ANDA MEMBUAT KEPUTUSAN DAN BERTINDAK

MEMBERI SESUAI KEBUTUHAN YANG BENAR

Prioritas Dasar Alkitab Sederhana dan Langsung

Tuhan kita adalah Tuhan yang memberi. Memberi adalah salah satu atributnya. Dia disebut Maha Pemberi karena Dia Maha Pengasih. Orang Kristen merasakan sukacita ketika memberi karena dapat merefleksikan dan berbagi dalam sifat-sifat Allah melalui tindakan memberi. Ya, manusia diciptakan serupa dan segambar dengan Allah Sang Pencipta, artinya apa yang “Allah lakukan” tercermin, tergambar atau terlihat pada apa yang “manusia lakukan”. (Kej 1:26-27; 5:1-2; 9:6, Ul 19:17-19, Mzm 8:3-8, Mat 5:48, 1 Kor 11:7, Yak 3:9) Bagaimana orang percaya, yang sudah diselamatkan, menerima Roh Kudus dan mengaku dan mematuhi Yesus Kristus sebagai Tuhan yaitu Raja dalam kehidupannya mengukur pemberian mereka? Baik Perjanjian Lama maupun Baru membantu kita memilah dan menyelesaikan kebingungan yang dirasakan banyak orang tentang memberi. Prioritas dasar alkitabiah sederhana dan lugas. Memberi datang dan terjadi lebih dulu. Enam prinsip memberi berikut mengajari kita cara memberi:

 


1. Beri Diam-diam

Memberi adalah tindakan intim antara pemberi dan Tuhan. Ini adalah praktik yang dijaga secara pribadi dan dilakukan secara rahasia. Yesus berkata, “Berhati-hatilah dalam mempraktekkan kesalehanmu di depan orang lain agar terlihat oleh mereka; karena pada waktu itu kamu tidak mendapat upah dari Bapamu yang di surga” (Mat 6:1). Kita kehilangan upah kita dari Bapa kita di surga jika kita secara terbuka mempraktekkan dan dengan bangga mengumumkan pemberian kita di hadapan jemaat pria dan wanita. Pemberi bertanggung jawab kepada Tuhan dan tidak kepada orang lain. Memberi itu sebenarnya bukan urusan orang lain. Pemberi harus mencari respon Tuhan dalam ketaatan pada tindakan memberi daripada kekaguman orang dalam kemunafikan meninggikan diri sendiri (Mat 6:2-4; Luk 18:9-14)). Pemberian yang diumumkan namanya iklan, langsung mengharapkan respon dari pemirsa. Iklan adalah urusan duniawi, tidak diperhitungkan di surga.

 

2. Memberi dengan Murah Hati

Berapa banyak yang harus kita berikan? Kita menemukan dua jenis memberi dalam PL. Jenis pertama adalah persepuluhan yang berarti sepersepuluh. Jenis kedua adalah persembahan sukarela, suatu pemberian yang melebihi dan berbeda dari persepuluhan (Kel 36:3). Sebenarnya, dalam PL kita menemukan beberapa jenis penggunaan persepuluhan. Pertama untuk orang-orang yang tidak memiliki sumber penghasilan. Yang termasuk dalam pengguna pertama ini adalah: untuk orang Lewi, untuk orang asing, anak yatim dan janda (Ulangan 14:29). Kedua adalah untuk kebutuhan sosial dan budaya Israel serta untuk dukungan pemerintah (1 Sam 8:11-18). Persepuluhan dari semua tanaman dan ternak diperlukan untuk mendukung orang-orang Lewi dan para imam (Im 27:30-33). Perjanjian Baru tidak memberikan penekanan pada pentingnya mempertahankan praktik persepuluhan Perjanjian Lama. Model pemberian saat ini, berdasarkan Perjanjian Baru setara dengan persembahan kehendak bebas PL, yaitu tindakan sukarela oleh individu daripada tindakan yang diamanatkan oleh hukum. Meskipun persembahan sukarela bukanlah pendekatan langsung untuk memberi, tidak ada jumlah atau persentase pendapatan yang tetap, itu bukan tanpa instruksi alkitabiah (2 Kor 9:6). Persembahan dalam Perjanjian Baru melampaui hukum tertulis PL, karena dalam memberi dipimpin langsung oleh Roh Kristus (2 Kor 3:6). Memberi memungkinkan kita untuk mendemonstrasikan secara nyata iman kita kepada Tuhan di bawah kasih karunia. Seperti Yesus, kita diperintahkan untuk mempersembahan seluruh diri, tubuh kita, sebagai ibadah sejati (Roma 12:1).

 

3. Memberi dengan Sengaja

Prinsip memberi yang ketiga ditemukan dalam 2 Korintus 9:7a di mana Paulus berkata, “Hendaklah kamu masing-masing memberi seperti yang telah kamu putuskan …” Seseorang dengan keputusan yang bulat telah berdamai dengan hati sendiri yang bertujuan untuk memberi. Memberi dengan sengaja memerlukan perencanaan ke depan dengan secara sengaja memikirkan pemberian kita sebelumnya, jauh sebelum tindakan memberi itu dilakukan. Namun kita tidak boleh lupa bahwa ada tindakan pemberian kehendak bebas yang dialami dalam PL—pemberian yang mengalir dengan bebas dan spontan dari hati yang bersyukur. Orang-orang memberikan waktu, bakat, dan keuangan mereka, bukan karena kewajiban atau mengantisipasi berkat yang dijanjikan, tetapi karena kehidupan penuh syukur yang diberikan oleh Allah yang murah hati (Kel 36; 2 Taw 35; Ezr 1:4). Pemberian yang dilakukan berdasarkan keinginan mendapatkan kembali berlipat ganda adalah manipulasi dan egois. Pemberian seperti ini lebih tepat disebut investasi atau penanam modal, atau dagang komersial, bukan persembahan.

 

4. Memberi dengan Sukacita

Di paruh kedua 2 Korintus 9:7b terdapat prinsip keempat: “…tidak dengan berat hati atau karena paksaan, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Memberi dengan sengaja menjaga si pemberi agar tidak kehilangan sukacita memberi. Sikap sukacita adalah menunjukkan ceria di hadapan Tuhan adalah tujuan si pemberi. Apa pun yang kurang, dengan enggan, dipaksakan atau di menit-menit terakhir, mengurangi keadaan keceriaan. Jangka waktu yang direncanakan haruslah yang masuk akal dan terarah supaya mendorong kita memupuk semangat kegembiraan dalam memberi.

 

5. Memberi dengan Berkorban

Prinsip kelima ditemukan dalam kisah persembahan janda yang jumlahnya mencakup semua yang dia miliki. Yesus menggunakan teladannya dengan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini telah memasukkan lebih banyak daripada semua orang yang memberi sumbangan ke perbendaharaan. Karena mereka semua telah memberikan kontribusi dari kelimpahan mereka; tetapi dia dari kemiskinannya telah memberikan segala miliknya, semua yang dia miliki untuk hidup” (Mrk 12:41-44). Memberi lebih banyak di sini dari sudut pandang kualitas atau persentase. Misalkan si janda memberi 2 peser adalah 100% dari uangnya yang ada saat itu. Orang lain yang lebih kaya dari dia mungkin memberi 200 peser (100 kali lebih banyak ketimbang janda dalam angka mutlak) tetapi bisa jadi hanya 0,05% dari uang orang itu yang ada saat itu. Ada perbedaan besar antara kontribusi orang kaya dan komitmen persembahan janda miskin ini. Persembahan orang kaya tidak berisiko merugikan mereka karena tidak ada konsekuensi yang besar untuk memberikan apa yang tidak mereka butuhkan untuk hidup dan untuk uang mereka tidak  bergantung pada Tuhan. Sementara persembahan orang miskin yang diwakili Janda ini tidak menyisakan sebagian dari harta yang dia miliki untuk bertahan hidup. Janda ini memberi dalam pengetahuan dan harapan bahwa Tuhan pada akhirnya akan memenuhi setiap kebutuhannya. Dengan iman kita memberikan pengorbanan dari apa yang kita miliki untuk sepenuhnya bergantung kepada Allah untuk makanan kita sehari-hari (Mat 6:8, 11, 25-34; Flp 4:19). Sang janda dengan persembahan itu menunjukkan bahwa dia mempercayai Tuhan sepenuhnya bahwa Tuhan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan hidup setiap hari bergantung pada-Nya.  Yesus memberikan diri-Nya sebagai contoh utama memberi, “Sebab kamu tahu kemurahan hati Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa meskipun Ia kaya, tetapi karena kamu Ia menjadi miskin, sehingga karena kemiskinan-Nya kamu menjadi kaya” (2 Kor 8:9).

Baik janda miskin maupun orang kaya keduanya berkorban dalam memberi. Secara kuantitatif (angka) pemberian orang kaya lebih banyak. Secara kualitatif (persentase) pemberian janda lebih banyak. Bagaimana kita menyikapi peristiwa nats ini? Jawabnya dengan memperhatikan dan memahami apa yang diperintahkan dalam lima prinsip memberi lainnya. Mat 19:23 memberi tahu kita orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga. Mengapa? Menurut Mat 13:22 Karena dia terhimpit, artinya dijepit sehingga tidak berdaya, tidak bisa bergerak. Apa jalan keluarnya? Jelas: TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ORANG PERCAYA KEPADA TUHAN (Mat 19:26, Kej 18:14, Ibr 6:18, Yes 62:4, Luk 1:37;45, 1 Kor 10:13, Fil 4:13).

 


6. Memberi Secara Proporsional

Prinsip keenam dan terakhir mengingatkan seseorang untuk memberi secara proporsional dengan kemakmurannya. Paulus menulis, “Pada hari pertama setiap minggu, kamu masing-masing harus menyisihkan dan menabung berapa pun tambahan yang kamu peroleh” (2 Kor 16:2). Konsisten dengan pendekatan PB untuk memberi, sang rasul tidak mengajukan aturan keras dan cepat tentang jumlah atau persentase tertentu dari apa yang diperoleh seseorang, tetapi mengingatkan orang percaya bahwa memberi harus dilakukan secara proporsional dengan pendapatan ekstra yang diberkati Tuhan (Ul. 8:1; 1 Taw 29:1). Kita seharusnya tidak hanya memberi secara teratur, tetapi juga secara proporsional kepada Dia yang mensejahterakan kita sejak awal (1 Tim 6:17). Kemakmuran finansial dalam hidup kita seharusnya tidak memberi kita izin untuk membelanjakannya sesuai pilihan karena keinginan kita (wish list). Bukan juga menjadi tiket kita menuju gaya hidup memanjakan diri yang merangkul kemewahan. Juga bukan gaya hidup longgar yang mengumbar kebiasaan belanja kita. Kemakmuran dalam hidup seseorang berarti kesempatan yang lebih besar untuk terlibat dalam sifat memberi yang saleh. Saat Tuhan memperkaya hidup kita, kita perlu menginventarisasi berkat rahmat-Nya dan mengevaluasi kembali bagian yang harus kita kembalikan kepada-Nya untuk kemajuan pekerjaan-Nya dalam Kerajaan Surga di Bumi. Dengan demikian doa Tuhan Yesus …. Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga….semakin hari semakin nyata.

Prinsip memberi secara diam-diam, murah hati, dengan sengaja, dengan sukacita, dengan pengorbanan, dan secara proporsional apabila dilakukan secara konsisten terus menerus akan membawa kita semakin sempurna dalam menjalankan tugas dan fungsi kita sebagai wakil Tuhan di bumi ini.

Tuhan Meminta Kita Memberi

Sebagai gambar dan rupa Tuhan, kita melakukan apa yang Tuhan lakukan. (Yoh 5:19). Bapa telah memberi kita pengorbanan terbesar yaitu Putra tunggal-Nya. Tuhan meminta kita untuk berkorban sebagai tindakan penyembahan di hadapan-Nya. Apabila kita taat, Dia akan memberkati kita. Bukankah pengorbanan Yesus Kristus telah menjadikan Dia Raja segala raja? Bukankah pengorbanan Yesus bertujuan untuk mewujudkan kehendak Allah di bumi seperti di surga?

Memberi memungkinkan pekerjaan kita mewujudkan kehendak Tuhan semakin sempurna. Apakah kehendak Tuhan yang tergantung kepada pemberian kita? Berikut beberapa untuk menginspirasi Anda:

Dua Kehendak Tuhan

1. Kehendak Tuhan, atau Kehendak Yang Berdaulat

Herodes, Pilatus, para prajurit, para pemimpin Yahudi — mereka semua berdosa dalam memenuhi kehendak Allah bahwa Anak-Nya disalibkan (Yesaya 53:10). Jadi sangat jelas tentang ini: Tuhan berkehendak untuk terjadi beberapa hal yang Dia benci.

Efesus 1:11 , “Di dalam Dia [Kristus] kita telah memperoleh milik pusaka, yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan maksud Dia yang mengerjakan segala sesuatu menurut kehendaknya. Kehendak Tuhan adalah pemerintahan Tuhan yang berdaulat atas semua yang terjadi (datanglah KerajaanMu). Ada banyak bagian lain dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa pemeliharaan Tuhan atas alam semesta mencakup detail terkecil dari alam dan keputusan manusia. Tidak ada seekor burung pipit pun yang jatuh ke tanah tanpa kehendak Bapa kita yang di surga (Matius 10:29). “Undi dibuang ke pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari Tuhan” (Amsal 16:33). "Rencana hati adalah milik manusia, tetapi jawaban lidah adalah dari Tuhan" (Amsal 16:1). “Hati raja adalah aliran air di tangan Tuhan; ia memutarnya ke mana pun ia mau” (Amsal 21:1).

“Dia melakukan sesuai dengan kehendaknya di antara penghuni surga dan di antara penghuni bumi; dan tidak ada yang dapat menahan tangannya atau berkata kepadanya, 'Apa yang telah kamu lakukan?'” (Daniel 4:35 ).

 

2. Kehendak Perintah Tuhan

Ini adalah kehendak Tuhan yang bisa kita tidak patuhi dan gagal lakukan. Kehendak keputusan kita lakukan apakah kita percaya atau tidak. Kehendak perintah bisa gagal kita lakukan. Misalnya, Yesus berkata, “Bukan setiap orang yang berkata kepada-Ku, 'Tuhan, Tuhan,' akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Matius 7:21 ). Tidak semua melakukan kehendak Bapa-Nya. Dia bilang begitu. “Tidak semua orang akan masuk ke dalam kerajaan surga.” Mengapa? Karena tidak semua melakukan kehendak Tuhan.

“Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi barangsiapa melakukan kehendak Allah, ia tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2:17). Tidak semua tinggal selamanya. Beberapa melakukannya. Beberapa tidak. Perbedaan? Beberapa melakukan kehendak Tuhan. Beberapa tidak. Kehendak Tuhan, dalam pengertian ini, tidak selalu terjadi.

 

Hasil yang diperoleh tergantung usaha yang dilakukaan

 

2 Korintus 9:6-8 Ingatlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Kamu masing-masing harus memberikan apa yang telah kamu putuskan dalam hatimu untuk diberikan, tidak dengan enggan atau karena paksaan, karena Tuhan menyukai pemberi yang ceria. Dan Tuhan mampu memberkati Anda dengan berlimpah, sehingga dalam segala hal setiap saat, memiliki semua yang Anda butuhkan, Anda akan berlimpah dalam setiap pekerjaan baik.

 

2 Korintus 9:10-15

Sekarang dia yang menyediakan benih untuk penabur dan roti untuk makanan juga akan menyediakan dan menambah simpanan benihmu dan akan memperbesar panen kebenaranmu. Anda akan diperkaya dalam segala hal sehingga Anda dapat bermurah hati dalam setiap kesempatan, dan melalui kami kemurahan hati Anda akan menghasilkan ucapan syukur kepada Tuhan.  Pelayanan yang Bapak/Ibu lakukan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan umat Tuhan tetapi juga melimpah dalam berbagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Karena pelayanan yang telah Anda buktikan sendiri, orang lain akan memuji Allah atas ketaatan yang menyertai pengakuan Anda akan Injil Kristus, dan atas kemurahan hati Anda dalam berbagi dengan mereka dan dengan semua orang lainnya. Dan di dalam doa-doa mereka untukmu, hati mereka akan tertuju kepadamu, karena kasih karunia yang luar biasa yang telah Tuhan berikan kepadamu. Terima kasih kepada Tuhan atas karunia-Nya yang tak terlukiskan!

 

Campur tangan Tuhan

Mazmur 112:5

Kebaikan akan datang kepada mereka yang murah hati dan meminjamkan dengan bebas, yang menjalankan urusan mereka dengan adil.

 

Amsal 11:24

Satu orang memberi dengan cuma-cuma, namun memperoleh lebih banyak lagi; yang lain menahan terlalu banyak, tetapi menjadi miskin.

 

Amsal 11:25

Orang yang murah hati akan makmur; siapa menyegarkan orang lain akan disegarkan.


SELAMAT NATAL 2021 & TAHUN BARU 2022