Jumat, 02 April 2021

PASKAH MENGINGATKAN KITA KEPADA PERINTAH YESUS KRISTUS YANG TERLUPAKAN

 PERINTAH YESUS YANG DILUPAKAN

Yesaya (9:6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta  Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran  dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

 

Matius 26:1-5 26:1 Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya: 26:2 "Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah,  maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan." 26:3 Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas,  26:4 dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia. 26:5 Tetapi mereka berkata: "Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat."

Paskah (Yun. _pascha_) merupakan suatu hari raya musim semi yang dikaitkan dengan peristiwa Israel meninggalkan Mesir. Paskah merayakan perihal malaikat maut "melewati" rumah-rumah orang Ibrani karena darah anak domba telah dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka (lih. Kel 12:7,11;

 

PASKAH DAN YESUS KRISTUS.

Bagi orang Kristen, Paskah penuh dengan lambang yang bersifat nubuat karena menunjuk kepada Yesus Kristus. Perjanjian Baru dengan tegas mengajarkan bahwa hari raya Yahudi merupakan "bayangan dari apa yang harus datang" (Kol 2:16-17Ibr 10:1), yaitu penebusan melalui darah Yesus Kristus. Perhatikan hal-hal berikut dalam pasal Kel 12:1-51 yang mengingatkan kita pada Sang Juruselamat dan kehendak-Nya bagi kita. (Catatan: kalau Anda memahami dan memperlakukan Yesus hanya sebagai Juruselamat, maka Anda kehilangan perspektif siapa Dia dan apa misiNya ke dunia ini. INGAT: khotbah Yesus yang pertama dan sudah lebih dulu dikumandangkan oleh Yohanes Pembaptis “bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat”. Apa hubungan keselamatan dengan Kerajaan Sorga?)

1) Inti dan jiwa peristiwa Paskah adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Allah mengeluarkan orang Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, tetapi karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjian-Nya (lih. Ul 7:7- 10). Demikian pula, keselamatan yang kita terima dari Kristus sampai kepada kita melalui kasih karunia Allah yang menakjubkan (lih. Ef 2:8-10Tit 3:4-5). Ini adalah standar pengajaran teologi. Apakah benar demikian? Untuk direnungkan: Mengapa Allah mengasihi manusia dan setia pada perjanjian-Nya? Apakah kasih karunia dan kesetiaan itu untuk kepentingan manusia atau Allah? Kalau untuk kepentingan Allah mengapa dikatakan kasih karunia? Kalau untuk kepentingan manusia, untuk apakah manusia itu ada? SARAN: untuk memahami ini Anda harus kembali ke RENCANA ALLAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU. Pahami Kitab Kejadian.

2) Darah yang dipercikkan pada tiang pintu dan ambang atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam setiap keluarga dari kematian; darah ini menunjuk kepada penumpahan darah Yesus di salib supaya menyelamatkan kita dari kematian dan dari murka Allah terhadap dosa (Kel 12:13,23,27Ibr 9:22). Pertanyaan: Apa kepentingan Yesus menumpahkan darahNya untuk menyelematkan kita dari kematian dan murka Allah terhadap dosa?

3) Anak domba Paskah itu adalah sebuah "korban" (Kel 12:27) yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung; korban ini menunjuk kepada kematian Yesus Kristus sebagai ganti kematian orang percaya. Paulus secara tegas menyebut Kristus anak domba Paskah kita yang dikorbankan demi kita (1 Kor 5:7). Pertanyaan: Mengapa Kristus dikorbankan demi kita?

4) Anak domba jantan yang akan disembelih haruslah "tanpa cacat" (Kel 12:5); anak domba itu melambangkan ketidakberdosaan Kristus, Anak tunggal Allah yang sempurna (bd. Yoh 8:46Ibr 4:15). Bagaimana hubungan antara “cacat” atau “dosa” dengan Anak tunggal Allah yang sempurna?

5) Memakan daging anak domba itu melambangkan pemanunggalan masyarakat Israel dengan kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Demikian pula, ikut serta dalam Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan kita dalam kematian Kristus, kematian yang menyelamatkan kita dari kematian rohani (1Kor 10:16-171Kor 11:24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah, hanyalah korban yang pertama, kematian-Nya di salib, menjadi korban yang efektif. Kita mengadakan Perjamuan Kudus sebagai suatu "peringatan" akan Dia (1Kor 11:24). Apakah benar keikutsertaan dalam kematian Kristus menyelematkan kita dari kematian rohani? Bagaimana dengan kematian lainnya: kematian jiwa dan kematian tubuh. Apa hubungan semua kematian ini dengan Kristus?

6) Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang atasnya dilaksanakan dengan iman yang taat (Kel 12:28; bd. Ibr 11:28); tanggapan iman ini mendatangkan penebusan melalui darah (Kel 12:7,13). Keselamatan melalui darah Kristus diperoleh hanya melalui "ketaatan yang disebabkan oleh iman" (Rom 1:5; bd. Rom 16:26). Pertanyaan: keselamatan itu apa? Kalau sudah selamat mau ngapain? Siapakah yang menciptakan “ketaatan oleh iman”? manusia atau Tuhan?

7) Anak domba Paskah harus dimakan bersama dengan roti yang tidak beragi (Kel 12:8). Karena ragi dalam Alkitab biasanya melambangkan dosa dan pencemaran. Roti yang tidak beragi ini melambangkan pemisahan orang Israel yang ditebus dari Mesir, yaitu dari dunia dan dosa. Demikian pula, umat Allah yang ditebus dipanggil untuk memisahkan diri mereka dari dunia yang penuh dosa dan menyerahkan diri kepada Allah saja. Pertanyaan: bagaimana caranya manusia memisahkan diri dari dunia? Selama dia hidup dia ada di dunia dan bergaul di dunia, apa kriteria yang menunjukkan bahwa umat Allah dapat dikatakan “mampu memisahkan diri dari dunia”? Bukankah ini omong kosong yang tidak realistis? Apakah Yesus selama di dunia ini memisahkan diri dari dunia? Bukankah Yesus ada dan bercampur bersama dunia?

Penyaliban Kristus terjadi pada saat "hari persiapan Paskah" (Yoh 19:14). Kristus adalah "anak domba Paskah kita ... juga telah disembelih" (1Kor 5:7). Artinya Dia mati di salib. Pertanyaan: Tapi apakah dia benar disembelih? Kalau dicambuk dan ditusuk ada dalam di Injil dalam Bible, tapi kalau disembelih, bagaimana memehaminya?

Mengapa Yesus mati?

Secara historis, dari sudut pandang manusia, jawabannya cukup mudah. Para pemimpin Yahudi berkomplot melawan dia, Yudas mengkhianatinya, Herodes dan Pilatus mengadili dia, dan tentara Romawi mengeksekusinya. Secara medis, dia dianiaya dengan berat, mengeluarkan banyak darah, kelelahan, dan mati.

Sejumlah individu dan kelompok bertanggung jawab atas kematianNya. Seperti yang Lukas katakan, “Orang-orang jahat membunuh dia dengan memaku Dia di kayu salib” (Kisah Para Rasul 2:23).

Tapi ada sudut lain yang perlu dipertimbangkan. Seperti yang juga dikatakan dalam Kisah 2:23, Yesus “diserahkan oleh rencana dan pengetahuan Allah yang disengaja”. Untuk mendapatkan inti dari pertanyaan mengapa Yesus mati, kita harus berpikir dari sudut pandang Tuhan. Secara teologis, dari sudut pandang Tuhan, kami dapat menyebutkan dua alasan utama.

1. Yesus mati untuk menyatukan kita dengan Tuhan

Kristus mati untuk dosa sekali untuk selamanya, orang benar untuk orang yang tidak benar, untuk membawa Anda kepada Tuhan. (1 Ptr.3: 18)

Tujuan membawa kita kepada Tuhan menyiratkan bahwa, sebelum Yesus mati, kita sudah jauh. Mengenai hal ini, rasul Paulus dan Petrus setuju: “Kamu yang pernah jauh telah didekatkan oleh darah Kristus” (Efesus 2:13).

Dosa kita perlu ditangani untuk mendekatkan kita: “Kristus telah mati karena dosa” (1 Pet. 3:18). Alkitab tidak berbasa-basi ketika berbicara tentang ketidaktaatan manusia dan konsekuensinya. Yesus dapat menggambarkan murid-muridNya sebagai yang jahat (Mat. 7:11), dan Paulus berkata dalam Roma 6:23 bahwa "upah dosa adalah maut." Semua manusia dikutuk di hadapan Tuhan; dosa-dosa kita memisahkan kita dari Dia yang karakternya adalah kesucian atau kekudusan murni dan keadilan yang sempurna.

Sifat substitusi kematian Yesus adalah ide kunci untuk memahami bagaimana Tuhan menangani dosa dan menawarkan kita pengampunan. Untuk mendekatkan kita, “Kristus telah mati karena dosa, orang benar bagi orang yang tidak benar” (1 Pet. 3:18). Jika "yang tidak benar" adalah kita semua, "yang benar" adalah Yesus sendiri. Orang yang “tidak mengenal dosa, menjadi dosa” (2 Kor. 5:21) —dosa kita — sehingga kita dapat menerima belas kasihan.

Perjanjian Baru menggunakan beberapa gambaran yang jelas untuk menjelaskan kebenaran bahwa Yesus mati menggantikan kita. Misalnya, Yesus membayar harga untuk penebusan kita ketika Ia “memberikan nyawaNya sebagai tebusan menggantikan banyak orang” (Markus 10:45). Yesus mendamaikan kita dengan Tuhan dengan menanggung dosa-dosa kita sendiri (1 Pet. 2:24). “Allah mempersembahkan Kristus sebagai korban penebusan melalui penumpahan darah-Nya” (Roma 3:25), melelahkan (menghilangkan) murka Allah terhadap ketidakbenaran kita.

Bapa adalah arsiteknya, Anak sebagai pelaksana, dan Roh adalah pelaksana penebusan.

Paulus mengingatkan kita bahwa kematian Yesus menggantikan kita adalah yang terpenting dan sesuai dengan Kitab Suci [Perjanjian Lama] (1 Kor. 15: 3). KematianNya menggenapi korban perjanjian lama, seperti korban penghapus dosa, domba Paskah, dan kambing hitam Hari Pendamaian. Dia adalah Hamba yang Menderita yang “ditusuk karena pelanggaran kita” (Yes 53: 5).

Kadang-kadang para pengkhotbah yang bermaksud baik memberikan kesan yang salah bahwa dengan mati bagi kita Yesus membujuk Bapa yang enggan dan pendendam untuk menunjukkan belas kasihan. Sebenarnya, karena kasih Allah mengutus PutraNya, dan Anak menyerahkan nyawaNya atas kemauanNya sendiri: “Allah di dalam Kristus mendamaikan dunia dengan diriNya” (2 Cor. 5:19).

Ketiga pribadi Tritunggal, kemudian, sepenuhnya terlibat dalam penebusan kita: "Kristus mempersembahkan diri-Nya melalui Roh yang kekal kepada Allah" (Ibr. 9:14). Bapa adalah arsiteknya, Anak adalah pelaksana, dan Roh adalah pemberi penebusan.

2. Yesus Mati untuk Menyingkapkan Karakter Tuhan

Bukannya kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan sebelum kematian Kristus. PerhatianNya pada ciptaan mengungkapkan cintaNya. Dan janjiNya kepada Abraham menunjukkan kepedulianNya terhadap seluruh dunia. Tetapi di kayu salib, kita melihat klimaks dari perjanjian-perjanjianNya dengan Israel, dan kita menyaksikan bukti terakhir dan dramatis dari cinta dan keadilan-Nya.

Dua teks dari Roma memperjelas hal ini: “Allah menunjukkan kasih-Nya sendiri kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5: 8). Kematian Kristus tidak diragukan lagi akan fakta bahwa Tuhan mengasihi kita. Itu meyakinkan kita bahwa tidak peduli apa kehidupan yang menimpa kita, kita dapat percaya bahwa “dia yang tidak mengampuni Putranya sendiri, tetapi menyerahkannya untuk kita semua. . . juga dengan murah hati akan memberi kita segala sesuatu” (Rom 8:32).

Yesus juga mati untuk membuktikan keadilan Tuhan: “Tuhan menghadirkan Kristus sebagai korban penebusan. . . untuk menunjukkan keadilanNya ”(Rm. 3: 25–26).

Di kayu salib kita tidak hanya melihat kasih Tuhan, tapi keseriusan Dia mengambil dosa kita.

Tuhan tidak mengampuni kita dengan menutup mata terhadap dosa kita atau dengan mengabaikannya. Pengampunan itu mahal bagi orang yang kesalahannya telah dilakukan. Dan di kayu salib kita tidak hanya melihat kasih Tuhan, tetapi juga keseriusan Dia mengambil dosa kita.

Di bagian lain Perjanjian Baru, kita juga belajar bahwa Yesus mati untuk menunjukkan hikmat, kuasa, dan kemuliaan Tuhan.

Pengampunan itu perlu karena kita sudah berbuat dosa, merusak hubungan kita dengan Allah sehingga dengan demikian harus dihukum (Rom 1:18-32). Pengampunan merupakan cara untuk memulihkan hubungan yang rusak itu (Ef 1:7Kol 2:13). Pengampunan adalah jalan bagi manusia berdosa untuk kembali bersekutu dengan Allah.

1) Kata Ibrani dan Yunani untuk pengampunan mengandung arti "menutupi", "mengampuni", "membatalkan", "mengusir". Pengampunan Allah meliputi hal tidak memperhitungkan lagi dosa yang telah diperbuat (Mr 2:5Yoh 8:11), menyelamatkan orang berdosa dari hukuman kekal (Rom 5:91Tes 1:10), menerima mereka kembali menjadi keuarga Allah (Luk 15:20-24), membebaskan mereka dari kuasa dosa kerajaan kegelapan dan memindahkan mereka dalam Kerajaan Kristus (Kol 1:13), serta memperbaharui seluruh kepribadian orang tersebut dan memberinya hidup kekal (Luk 23:43Yoh 14:19), dan menjadikannya anak sebagai ahli waris (Gal 4:28, Roma 8:17) dan memerintah bersama Kristus (Matius 11, Wahyu 20:4). Setelah diampuni menjadi murid Yesus dan menjalankan perintah Yesus: mengasihi sesama manusia dengan membantu mereka mendengar tentang Yesus Raja segala raja dan membawa mereka bertemu dan bersatu dengan Yesus Kristus (Mat 28, Kis, dst).

2) Agar dapat menerima pengampunan, seseorang harus bertobat (mengubah pola pikirnya, konsep dan praktek hidupnya), beriman (percaya Kepada Yesus sebagai Raja, Tuhan dan Juruselamatnya pribadi) serta mengakui dosanya supaya tidak dilakukan lagi (Luk 17:3-4Kis 2:38; 5:31; 20:211Yoh 1:9). Diperlukan penumpahan darah (syarat dan ketentuan berlaku dari Allah) supaya Allah dapat mengampuni dosa (Ibr 9:22). Oleh karena itu, pengampunan dosa didasarkan pada kematian Kristus di salib (ayat Mat 26:28Yoh 1:29; 3:16Rom 8:32). Pengampunan dari Allah merupakan sesuatu yang senantiasa dibutuhkan oleh orang percaya supaya dapat memelihara hubungan kita di dalam Kerajaan Sorga dengan Allah (Mat 6:12,14-151Yoh 1:9).

Di dalam pernyataan nubuat Yesaya Pasal 9 seperti dikutip di atas mengenai penetapan pemerintahan Kristus, tidak dibedakan di antara kedatangan-Nya yang pertama dengan yang kedua. Pada titik ini dalam sejarah manusia, seluruh karya penebusan Kristus dan pemerintahan-Nya dipandang sebagai satu kedatangan yang jauh di masa depan. Tidak pernah Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan bahwa pemerintahan Kristus di bumi akan meliputi kedatangan yang pertama dan kedua di dalam sejarah. Demikian juga di dalam Perjanjian Baru, selang-selang waktu di antara aneka peristiwa pada zaman akhir tidak senantiasa tampak dengan jelas.

Ancaman-ancaman Melawan Yehuda dan Israel (Yesaya 9:7-20)

Di sini ada ancaman-ancaman yang mengerikan, yang terutama ditujukan melawan Israel, kerajaan sepuluh suku, Efraim dan Samaria, yang kehancurannya dinubuatkan di sini, dengan segala malapetaka yang mendahului kehancuran itu. Semuanya ini digenapi dalam beberapa tahun sesudahnya. Tetapi ancaman-ancaman itu melihat lebih jauh, pada semua musuh takhta dan kerajaan Kristus Anak Daud, dan menyatakan hukuman yang akan menimpa semua bangsa yang melupakan Allah, dan yang tidak ingin Kristus memerintah atas mereka. Cermatilah,

Penghakiman-penghakiman yang mengancam mereka karena kefasikan mereka ini. Janganlah mereka menyangka akan terluput dari hukuman.

Hakim-hakim mereka, yang terpandang berdasarkan keturunan dan jabatan, dan yang merupakan tua-tua bangsa itu. Mereka ini adalah kepala, mereka ini adalah batang yang dijanjikan sendiri oleh orang-orang itu akan memberi mereka roh dan buah. Tetapi karena orang-orang ini menyesatkan mereka, mereka akan dipotong, dan martabat serta kekuasaaan mereka tidak akan melindungi mereka, sebab penyalahgunaan terhadap martabat dan kekuasaan itu merupakan perkara besar yang membangkitkan murka. Suatu penghakiman atas bangsa jika penguasa-penguasa mereka dipotong, yang tidak seharusnya terjadi seperti sebelumnya.

Nabi-nabi mereka, nabi-nabi palsu mereka, adalah ekor dan ranting, bagian-bagian paling hina dari semuanya. Hamba Tuhan yang fasik adalah yang terburuk dari semuanya. Hamba Tuhan yang fasik adalah manusia yang paling buruk. Corruptio optimi est pessima – Hal-hal yang terbaik, jika rusak, akan menjadi yang terburuk. Orang buta menuntun orang buta, maka keduanya jatuh ke dalam lobang. Dan para pemimpin yang buta jatuh pertama-tama dan jatuh paling bawah.

Bahwa kehancuran itu terjadi di mana-mana seperti halnya kebobrokan sebelumnya, dan tak seorang pun akan luput darinya (ay. 16).

Bahwa mereka akan mengoyak-ngoyak satu sama lain, bahwa setiap orang akan ikut membantu mempercepat terjadinya kehancuran bersama, dan mereka akan memangsa diri mereka sendiri dan satu sama lain: Seorang pun tidak mengasihani saudaranya, jika saudaranya itu menghalang-halangi keserakahan dan ketamakannya, atau jika saudaranya berbuat sesuatu yang harus dibalaskan kepadanya. Bagaimana mereka dapat berharap Allah akan menyayangkan mereka apabila mereka tidak menunjukkan kasih sayang satu terhadap yang lain? Amarah dan kekejaman manusia satu terhadap yang lain membangkitkan murka Allah terhadap mereka semua, dan merupakan bukti bahwa Ia sedang murka. Perang saudara akan segera membuat sebuah kerajaan hancur. Seperti itulah keadaan di Israel, ketika karena pemberontakan negeri, banyaklah penguasa-penguasanya (Ams. 28:2).

Kelaparan dan kelangkaan besar. Apabila manusia sudah mengumpulkan semua yang dapat mereka kumpulkan, tetapi hasilnya begitu sedikit sehingga mereka masih lapar, maka setidak-tidaknya itu berarti bahwa Allah tidak memberkati mereka, sehingga mereka makan, tetapi tidak sampai kenyang (Hag. 1:6).

Perampokan dan penjarahan besar-besaran. Jusque datum sceleri – pelanggaran ditegakkan oleh hukum. Keinginan-keinginan yang timbul dari ketamakan tak akan pernah terpuaskan, dan kutukan ini dikenakan juga pada apa yang diperoleh secara tidak benar, bahwa itu tidak akan pernah membawa kebaikan.

Bahwa, meskipun mereka akan ditimpa oleh semua penghakiman ini, Allah tidak akan melepaskan perseteruan-Nya dengan mereka. Suatu beban berat dari nyanyian nubuat ini bahwa (ay. 11, 16, 20): Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung, maksudnya,

(1) Mereka tidak berbuat apa-apa untuk menjauhkan murka-Nya. Mereka tidak bertobat dan memperbarui diri, tidak merendahkan diri dan berdoa, tak seorang pun menengahi, tak seorang pun menjawab panggilan-panggilan Allah atau menuruti rancangan-rancangan pemeliharaan-Nya. Sebaliknya, mereka mengeraskan hati dan merasa aman-aman saja.

(2) Oleh karena itu, murka-Nya terus membakar melawan mereka dan tangan-Nya masih teracung. Alasan mengapa penghakiman-penghakiman Allah itu diperpanjang adalah karena hasilnya belum tercapai, para pendosa tidak dibuat bertobat olehnya. Bangsa itu tidak kembali kepada Dia yang menghajarnya, dan karena itu Ia terus menghajar mereka. Sebab apabila Allah menghakimi, Ia akan berhasil, dan orang berdosa yang paling congkak dan paling gigih akan membungkuk ataupun patah.

 

Penghukuman bukanlah tujuan akhir.

Penolakan umat Allah terhadap peranan Allah dalam sejarah memang mendatangkan penghukuman. Akan tetapi penghukuman bukanlah tujuan akhir Allah. Penghukuman Allah bukanlah jalan menuju kebinasaan, melainkan sebagai penuntun kepada tujuan Allah yang paling besar, yaitu keselamatan umat-Nya (ayat 8:23-9:4). Untuk sementara, penghukuman memang merendahkan. Tetapi tujuan akhir dari penghukuman adalah untuk memuliakan umat Tuhan (ayat 23).

 

Keselamatan Ajaib dari Allah. Keselamatan umat adalah anugerah Allah semata-mata. Keselamatan membalikkan situasi gelap yang meliputi umat Tuhan, menjadi terang besar (ayat 1). Keselamatan mengubah kedukaan yang mencekam umat Tuhan, menjadi sukacita besar (ayat 2). Keselamatan membuat umat Tuhan yang tengah memikul kuk, lepas bebas. Perubahan ajaib sedemikian jelas adalah anugerah dan kekuatan Allah semata.

 

Allah memakai manusia. Allah menyatakan keselamatan itu melalui seseorang yang berkenan kepada-Nya. Seseorang yang diharapkan di sini adalah seorang anak yaitu raja yang sepenuhnya bergantung kepada kuasa, kebenaran dan keadilan Allah (ayat 5, 6). Nama-nama yang disebutkan tentang sang raja itu menunjukkan bahwa Ia datang murni dari pihak Allah. Hanya raja yang demikian yang dapat menyalurkan damai sejahtera Allah bagi umat. Alangkah bedanya raja itu dari Ahas yang bertindak mengikuti kebijaksanaannya sendiri. Raja itu kelak akan mengikuti langkah-langkah Daud dan Salomo, yang takut akan Allah dan disertai Allah dengan hikmat ilahi. Seharusnya seperti itulah pemimpin dalam rencana Allah: diurapi Allah, menjadi anak Allah sendiri (bdk. Mzm. 2:7). Pada siapakah dapat kita jumpai penuh sifat-sifat pemerintahan Allah yang sempurna dan menyelamatkan itu kecuali dalam Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup, Tuhan dan Juruselamat?

 

Renungkan: Dalam penyelamatan Allah melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah dilahirkan menjadi anak-anak Allah, menjadi ahli waris Allah dan memerintah bersama Kristus. Allah telah mengaruniakan kebenaran dan keadilan-Nya kepada kita. Apakah hidup kita telah benar-benar menjadi saluran keselamatan, keadilan dan kebenaran bagi sesama kita? Apakah Raja segala raja telah memerintah dalam hidup kita setiap saat yang dapat kita bagikan kepada orang lain?