Minggu, 09 Mei 2021

KENAIKAN YESUS KRISTUS ADALAH JALAN PELANTIKANNYA MENJADI RAJA SEGALA RAJA

KENAIKAN YESUS KRISTUS ADALAH PENOBATANNYA MENJADI RAJA SEGALA RAJA

 

Kisah 1: 1-11; Mazmur 47; Efesus 1: 17-23; Ef 4: 1-13, Markus 16: 15-20, Mat. 28: 16-20, Luk. 24: 46-53. Kisah 1: 15-26; Mazmur 103; I Yoh: 4: 11-16; Yoh 17: 11b-19.

Kenaikan Kristus menunjukkan kemenanganNya masuk ke Yerusalem surgawi, penobatanNya sebagai Raja segala raja dan inagurasi Kerajaan atau Pemerintahan Allah dalam kuasa Roh. Dia tidak lagi memakai mahkota duri, tapi mahkota kemuliaan, memerintah dalam kekuasaan. Dari Tahta tempat Dia naik, Dia mencurahkan hadiah - kebajikan dan karisma, yang terlalu banyak untuk dihitung.

 

Masuk Kemenangan Ke Jerusalem Surgawi

Sekitar tujuh minggu setelah Minggu Palem, Gereja merayakan prosesi kemenangan yang jauh lebih penting. The Solemnity of the Ascension merayakan masuknya kemenangan ke Yerusalem surgawi, Kota Tuhan yang sejati dan abadi. Penduduk kota itu tidak berteriak "hosanna bagi Anak Daud" satu hari dan "salibkan Dia" pada hari berikutnya. Penderitaan sudah berakhir. Kematian telah dikalahkan. Tidak ada yang tersisa bagi Kristus selain kemuliaan.

 

Dia Naik – Mahkota dan Tahta

Selama pelayanan publikNya, Dia berbicara tentang "Kerajaan Surga dan Kerajaan Allah" yang misterius. Sangking misteriusnya, banyak sekolah teologi dan gereja menghindarinya kemudian mengabaikannya. Inti pesan kehadiran Yesus Kristus di dunia ini dilupakan secara sistematis dan struktural oleh pengikut dan penerus pengikut Kristus. Gereja telah menggantikan pesan Yesus tentang Kerajaan menjadi pesan humanisme.  Yesus Kristus selama hidup di dunia ini berbicara bukan tentang tempat, tetapi tentang era baru, periode "Pemerintahan Tuhan". Tetapi pemerintahan baru harus dimulai dengan penobatan atau pelantikan, sama seperti pemerintahan presiden baru harus dimulai dengan pelantikan, meskipun pemilihan telah dimenangkan beberapa bulan sebelumnya. Ya, Yesus telah menang melawan Setan di Kayu Salib, raja kegelapan telah dikalahkan oleh Raja Terang saat kematian di salib dan kebangkitanNya dari kuburan. Yesus selama di bumi masih berstatus Pangeran, walaupun Dia adalah Pangeran Mahkota.  Pangeran mungkin pewaris kerajaan sejak lahir, tetapi sampai dia memakai mahkota dan duduk di atas takhta, dia tidak dapat sepenuhnya menjalankan otoritasnya. Selama belum memakai Mahkota dan duduk di Tahta dengan resmi, dia bukanlah raja. Pangeran hanyalah calon raja, walaupun Dia Pangeran Mahkota. Setelah dilantik dan duduk di tahta, raja dapat memerintahkan para pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan. Pembantu utama yang menjalankan kehendak Raja Yesus dengan sempurna (karena itu diriNya sendiri) adalah Roh Kudus. Roh Kudus adalah Perdana Menteri Kerajaan Yesus di dunia dan bumi ini.

 

Kekuasaan, Itulah Janji Bapa

Perhatikan bahwa dalam ayat-ayat pertama Kisah Para Rasul, Yesus, tepat sebelum Dia naik, memberi tahu mereka untuk menunggu janji Bapa. Mereka para murid yang kita sebut Rasul, berpikir ini berarti kudeta politik akan terjadi di mana Israel mendapatkan kembali dominasinya yang sebelumnya dinikmati di bawah pemerintahan Daud dan Salomo. Mereka berpikir Yesus akan menggulingkan pemerintahan Romawi, dan menggantikannya dengan pemerintahan keturunan Raja Daud.

Yesus mengoreksi gagal paham mereka dengan lembut. Yesus sedang memikirkan sesuatu yang jauh lebih besar dibanding Negara Israel yang kecil dan sempit. Dia akan menerima otoritas untuk mencurahkan ke atas mereka kuasa Allah, kuasa yang sama yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati (Efesus 1: 19-21). Para Menteri ini akan diberdayakan untuk membantu Raja mereka membangun Kerajaan yang jauh lebih luas dan lebih tahan lama daripada Kerajaan Salomo. Kerajaan Allah akan menjadi pemerintahan kebebasan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh kuasa Roh Kudus yang mendunia dan kekal bagi semua orang yang mau menerima kedaulatan raja dan dibasuh dalam air baptisan yang menyelamatkan. Selamat artinya memindahkan mereka dari kuasa Kerajaan kegelapan ke dalam Kuasa Kerejaan Terang, Anak Allah, Raja segala Raja (Markus 16: 15-16).

 

Kenaikan Adalah Tanda Dan Keajaiban

Berbicara tentang masuk ke surga, seperti yang agama-agama di dunia ini katakan, itu mudah. Yesus tidak hanya berbicara tentang Kabar Baik, tetapi Dia adalah Kabar Baik. Yesus mengubah kesedihan di sekitarnya menjadi sukacita, kegelapan menjadi terang. Jadi khotbahNya disertai dengan tanda dan keajaiban. Dalam Injil Markus, Yesus menggambarkan tanda-tanda yang akan menyertai mereka yang percaya dan membawa kabar baik kepada orang lain.

Beberapa orang mengklaim bahwa tanda dan keajaiban seperti itu diperlukan di gereja mula-mula untuk membuat bola bergulir selama hari-hari gelap paganisme dan kebrutalan, tetapi tidak lagi diharapkan hari ini. Pandangan pesimis ini banyak dikumandangkan oleh teolog oikumene dan berpola pikir logika barat. Mereka terperangkap oleh pola pikir dan logika sempit mereka. Peringatan Kenaikan Yesus Krisatus ke Surga, merayakan peristiwa penting ini. Banyak sekali malaikat menyanyikan lagu baru dengan keindahan yang tak terlukiskan saat Dia yang adalah putra Allah dan putra Adam mengambil tempat dudukNya di sebelah kanan Bapa dan dimahkotai sebagai Raja langit dan bumi. (Mazmur 102:12-22, Ibrani 4:16, 1 Kor 15, Yesaya 37:16, Mazmur 29:10, 55:29, 61:7, 99:1; Wahyu 19:13,16, Yoh 18:36, Yesaya 9:6-7, Efesus 1:20-21, Daniel 7:13-14, Kis 2:30-32, Wahyu 17:14, 1 Tim 6:13-15, Ibr 1:3-4, Wahyu 1:5-6).

Beberapa bapa Konsili Vatikan II mempermasalahkan gagasan ini, mencatat bahwa ada banyak kebrutalan, kegelapan, dan pertentangan terhadap Tuhan hari ini seperti yang terjadi pada abad pertama. Konsili mengajarkan bahwa Roh Kudus masih mencurahkan karunia-Nya kepada umat beriman di setiap tingkatan, dan bahwa karunia ini harus diterima dengan rasa syukur yang bersemangat. Apalagi pelayanan Gereja Pentakosta dan Karismatis, terus menerus mendemonstrasikan mujizat dan keajaiban Yesus kristus melalui Karunia Roh Kudus. Masa sekarang dunia tidak lebih baik daripada abad pertama dalam hidup dalam kegelapan, kehancuran, kebencian, permusuhan, perseturuan, keserakahan, egoism, kebenaran sendiri, penolakan terhadap gereja, bahkan penutupan gereja karena ditinggalkan umatnya. Jadi, sama seperti Yesus masih di dunia ini, ketika awal pelayanan Para Rasul dibutuhkan dan terjadi banyak mujizat oleh Karunia Roh Kudus, maka sekarangpun masih dibutuhkan. Bisa jadi, bentuk dan wujudnya berbeda, tetapi esensinya tetap sama karena dilakukan oleh Roh yang sama untuk kepentingan yang sama: menyatakan Kerajaan Yesus sudah hadir dan bekerja di dunia ini.

 

Hadiah - Virtu & Karunia-Karunia Roh Kudus

Virtu dalam dunia seni merupakan kemampuan, pengetahuan atau kepakaran. Biasanya karena bakat dan dilatih terus menerus, jadilah seseorang Master. Virtu secara umum adalah kualitas istimewa (hebat) dalam diri seseorang yang diperoleh secara melekat. Virtu adalah sifat Karunia Roh Kudus. Beberapa dari karunia ini memberdayakan kita untuk menjadi seperti Kristus. Ada yang  menyebutnya kebajikan. Orang lain memberdayakan kita untuk melayani orang lain seperti yang Dia (Yesus melalui Roh Kudus) lakukan. Ini disebut karisma. Apakah luar biasa, seperti penyembuhan, bahasa lidah, dan nubuat, atau kerendahan hati seperti keramahan, atau kemurahan berbagi harta kekayaan memberi sumbangan kepada sesama yang membutuhkan, semuanya adalah tanda Kerajaan Allah yang bergerak. Secara ringkas kehadiran dan keaktifan Roh Kudus dalam hidup seseorang ditandai dengan Karunia Roh Kudus dan Buah Roh Kudus.

Bukan hak kita untuk menentukan karisma mana yang ingin kita miliki. Tetapi kasih Bapa kepada kita, memberi peluang kepada kita untuk memperoleh karunia yang kita rindukan untuk mendukung kita dalam pelayanan kita memenuhi panggilan hidup surgawi selama di dunia ini. Tugas kita yang terpenting adalah  menggunakan otoritas dan kekuasaan yang telah diberikan kepada kita masing-masing dengan kemampuan terbaik kita, mengingat bahwa kepada mereka yang setia dalam hal-hal kecil, hal-hal yang lebih besar diberikan. Namun, sebelum memulai atau meneruskan pelayanan, adalah sangat penting memahami panggilan hidup Anda. Apakah panggilan khusus yang Tuhan rancang untuk hidup pribadi Saudara? Ketika panggilan khusus ini dipahami dan diyakini, maka masing-masing kita tahu Karunia apa yang paling sesuai kita miliki. Ketika pengetahuan dan keyakinan ini menyatu dengan membara, maka doa permohonan kepada Bapa Surgawi hanyallah tombol pemicu untuk mengalirnya Karunia dan Kuasa Roh Kudus dalam hidup Saudara. Itulah makna peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus ke Surga kepada Saudara: memahami dan meyakini panggilan surgawi untuk Anda selama hidup di dunia ini untuk dilengkapi oleh Roh Kudus.

SELAMAT MENIKMATI PERAYAAN KENAIKAN YESUS KRISTUS KE SURGA, KARENA ITU BERARTI ROH KUDUS SEGERA MEMENUHI ANDA DENGAN KARUNIANYA (YANG BARU).

 

 

Jumat, 02 April 2021

PASKAH MENGINGATKAN KITA KEPADA PERINTAH YESUS KRISTUS YANG TERLUPAKAN

 PERINTAH YESUS YANG DILUPAKAN

Yesaya (9:6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta  Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran  dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

 

Matius 26:1-5 26:1 Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya: 26:2 "Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah,  maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan." 26:3 Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas,  26:4 dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia. 26:5 Tetapi mereka berkata: "Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat."

Paskah (Yun. _pascha_) merupakan suatu hari raya musim semi yang dikaitkan dengan peristiwa Israel meninggalkan Mesir. Paskah merayakan perihal malaikat maut "melewati" rumah-rumah orang Ibrani karena darah anak domba telah dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu rumah mereka (lih. Kel 12:7,11;

 

PASKAH DAN YESUS KRISTUS.

Bagi orang Kristen, Paskah penuh dengan lambang yang bersifat nubuat karena menunjuk kepada Yesus Kristus. Perjanjian Baru dengan tegas mengajarkan bahwa hari raya Yahudi merupakan "bayangan dari apa yang harus datang" (Kol 2:16-17Ibr 10:1), yaitu penebusan melalui darah Yesus Kristus. Perhatikan hal-hal berikut dalam pasal Kel 12:1-51 yang mengingatkan kita pada Sang Juruselamat dan kehendak-Nya bagi kita. (Catatan: kalau Anda memahami dan memperlakukan Yesus hanya sebagai Juruselamat, maka Anda kehilangan perspektif siapa Dia dan apa misiNya ke dunia ini. INGAT: khotbah Yesus yang pertama dan sudah lebih dulu dikumandangkan oleh Yohanes Pembaptis “bertobatlah Kerajaan Sorga sudah dekat”. Apa hubungan keselamatan dengan Kerajaan Sorga?)

1) Inti dan jiwa peristiwa Paskah adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan. Allah mengeluarkan orang Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, tetapi karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjian-Nya (lih. Ul 7:7- 10). Demikian pula, keselamatan yang kita terima dari Kristus sampai kepada kita melalui kasih karunia Allah yang menakjubkan (lih. Ef 2:8-10Tit 3:4-5). Ini adalah standar pengajaran teologi. Apakah benar demikian? Untuk direnungkan: Mengapa Allah mengasihi manusia dan setia pada perjanjian-Nya? Apakah kasih karunia dan kesetiaan itu untuk kepentingan manusia atau Allah? Kalau untuk kepentingan Allah mengapa dikatakan kasih karunia? Kalau untuk kepentingan manusia, untuk apakah manusia itu ada? SARAN: untuk memahami ini Anda harus kembali ke RENCANA ALLAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU. Pahami Kitab Kejadian.

2) Darah yang dipercikkan pada tiang pintu dan ambang atasnya dimaksudkan untuk menyelamatkan anak sulung dalam setiap keluarga dari kematian; darah ini menunjuk kepada penumpahan darah Yesus di salib supaya menyelamatkan kita dari kematian dan dari murka Allah terhadap dosa (Kel 12:13,23,27Ibr 9:22). Pertanyaan: Apa kepentingan Yesus menumpahkan darahNya untuk menyelematkan kita dari kematian dan murka Allah terhadap dosa?

3) Anak domba Paskah itu adalah sebuah "korban" (Kel 12:27) yang berfungsi sebagai pengganti anak sulung; korban ini menunjuk kepada kematian Yesus Kristus sebagai ganti kematian orang percaya. Paulus secara tegas menyebut Kristus anak domba Paskah kita yang dikorbankan demi kita (1 Kor 5:7). Pertanyaan: Mengapa Kristus dikorbankan demi kita?

4) Anak domba jantan yang akan disembelih haruslah "tanpa cacat" (Kel 12:5); anak domba itu melambangkan ketidakberdosaan Kristus, Anak tunggal Allah yang sempurna (bd. Yoh 8:46Ibr 4:15). Bagaimana hubungan antara “cacat” atau “dosa” dengan Anak tunggal Allah yang sempurna?

5) Memakan daging anak domba itu melambangkan pemanunggalan masyarakat Israel dengan kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah. Demikian pula, ikut serta dalam Perjamuan Kudus melambangkan keikutsertaan kita dalam kematian Kristus, kematian yang menyelamatkan kita dari kematian rohani (1Kor 10:16-171Kor 11:24-26). Sebagaimana halnya dengan Paskah, hanyalah korban yang pertama, kematian-Nya di salib, menjadi korban yang efektif. Kita mengadakan Perjamuan Kudus sebagai suatu "peringatan" akan Dia (1Kor 11:24). Apakah benar keikutsertaan dalam kematian Kristus menyelematkan kita dari kematian rohani? Bagaimana dengan kematian lainnya: kematian jiwa dan kematian tubuh. Apa hubungan semua kematian ini dengan Kristus?

6) Pemercikan darah pada tiang pintu dan ambang atasnya dilaksanakan dengan iman yang taat (Kel 12:28; bd. Ibr 11:28); tanggapan iman ini mendatangkan penebusan melalui darah (Kel 12:7,13). Keselamatan melalui darah Kristus diperoleh hanya melalui "ketaatan yang disebabkan oleh iman" (Rom 1:5; bd. Rom 16:26). Pertanyaan: keselamatan itu apa? Kalau sudah selamat mau ngapain? Siapakah yang menciptakan “ketaatan oleh iman”? manusia atau Tuhan?

7) Anak domba Paskah harus dimakan bersama dengan roti yang tidak beragi (Kel 12:8). Karena ragi dalam Alkitab biasanya melambangkan dosa dan pencemaran. Roti yang tidak beragi ini melambangkan pemisahan orang Israel yang ditebus dari Mesir, yaitu dari dunia dan dosa. Demikian pula, umat Allah yang ditebus dipanggil untuk memisahkan diri mereka dari dunia yang penuh dosa dan menyerahkan diri kepada Allah saja. Pertanyaan: bagaimana caranya manusia memisahkan diri dari dunia? Selama dia hidup dia ada di dunia dan bergaul di dunia, apa kriteria yang menunjukkan bahwa umat Allah dapat dikatakan “mampu memisahkan diri dari dunia”? Bukankah ini omong kosong yang tidak realistis? Apakah Yesus selama di dunia ini memisahkan diri dari dunia? Bukankah Yesus ada dan bercampur bersama dunia?

Penyaliban Kristus terjadi pada saat "hari persiapan Paskah" (Yoh 19:14). Kristus adalah "anak domba Paskah kita ... juga telah disembelih" (1Kor 5:7). Artinya Dia mati di salib. Pertanyaan: Tapi apakah dia benar disembelih? Kalau dicambuk dan ditusuk ada dalam di Injil dalam Bible, tapi kalau disembelih, bagaimana memehaminya?

Mengapa Yesus mati?

Secara historis, dari sudut pandang manusia, jawabannya cukup mudah. Para pemimpin Yahudi berkomplot melawan dia, Yudas mengkhianatinya, Herodes dan Pilatus mengadili dia, dan tentara Romawi mengeksekusinya. Secara medis, dia dianiaya dengan berat, mengeluarkan banyak darah, kelelahan, dan mati.

Sejumlah individu dan kelompok bertanggung jawab atas kematianNya. Seperti yang Lukas katakan, “Orang-orang jahat membunuh dia dengan memaku Dia di kayu salib” (Kisah Para Rasul 2:23).

Tapi ada sudut lain yang perlu dipertimbangkan. Seperti yang juga dikatakan dalam Kisah 2:23, Yesus “diserahkan oleh rencana dan pengetahuan Allah yang disengaja”. Untuk mendapatkan inti dari pertanyaan mengapa Yesus mati, kita harus berpikir dari sudut pandang Tuhan. Secara teologis, dari sudut pandang Tuhan, kami dapat menyebutkan dua alasan utama.

1. Yesus mati untuk menyatukan kita dengan Tuhan

Kristus mati untuk dosa sekali untuk selamanya, orang benar untuk orang yang tidak benar, untuk membawa Anda kepada Tuhan. (1 Ptr.3: 18)

Tujuan membawa kita kepada Tuhan menyiratkan bahwa, sebelum Yesus mati, kita sudah jauh. Mengenai hal ini, rasul Paulus dan Petrus setuju: “Kamu yang pernah jauh telah didekatkan oleh darah Kristus” (Efesus 2:13).

Dosa kita perlu ditangani untuk mendekatkan kita: “Kristus telah mati karena dosa” (1 Pet. 3:18). Alkitab tidak berbasa-basi ketika berbicara tentang ketidaktaatan manusia dan konsekuensinya. Yesus dapat menggambarkan murid-muridNya sebagai yang jahat (Mat. 7:11), dan Paulus berkata dalam Roma 6:23 bahwa "upah dosa adalah maut." Semua manusia dikutuk di hadapan Tuhan; dosa-dosa kita memisahkan kita dari Dia yang karakternya adalah kesucian atau kekudusan murni dan keadilan yang sempurna.

Sifat substitusi kematian Yesus adalah ide kunci untuk memahami bagaimana Tuhan menangani dosa dan menawarkan kita pengampunan. Untuk mendekatkan kita, “Kristus telah mati karena dosa, orang benar bagi orang yang tidak benar” (1 Pet. 3:18). Jika "yang tidak benar" adalah kita semua, "yang benar" adalah Yesus sendiri. Orang yang “tidak mengenal dosa, menjadi dosa” (2 Kor. 5:21) —dosa kita — sehingga kita dapat menerima belas kasihan.

Perjanjian Baru menggunakan beberapa gambaran yang jelas untuk menjelaskan kebenaran bahwa Yesus mati menggantikan kita. Misalnya, Yesus membayar harga untuk penebusan kita ketika Ia “memberikan nyawaNya sebagai tebusan menggantikan banyak orang” (Markus 10:45). Yesus mendamaikan kita dengan Tuhan dengan menanggung dosa-dosa kita sendiri (1 Pet. 2:24). “Allah mempersembahkan Kristus sebagai korban penebusan melalui penumpahan darah-Nya” (Roma 3:25), melelahkan (menghilangkan) murka Allah terhadap ketidakbenaran kita.

Bapa adalah arsiteknya, Anak sebagai pelaksana, dan Roh adalah pelaksana penebusan.

Paulus mengingatkan kita bahwa kematian Yesus menggantikan kita adalah yang terpenting dan sesuai dengan Kitab Suci [Perjanjian Lama] (1 Kor. 15: 3). KematianNya menggenapi korban perjanjian lama, seperti korban penghapus dosa, domba Paskah, dan kambing hitam Hari Pendamaian. Dia adalah Hamba yang Menderita yang “ditusuk karena pelanggaran kita” (Yes 53: 5).

Kadang-kadang para pengkhotbah yang bermaksud baik memberikan kesan yang salah bahwa dengan mati bagi kita Yesus membujuk Bapa yang enggan dan pendendam untuk menunjukkan belas kasihan. Sebenarnya, karena kasih Allah mengutus PutraNya, dan Anak menyerahkan nyawaNya atas kemauanNya sendiri: “Allah di dalam Kristus mendamaikan dunia dengan diriNya” (2 Cor. 5:19).

Ketiga pribadi Tritunggal, kemudian, sepenuhnya terlibat dalam penebusan kita: "Kristus mempersembahkan diri-Nya melalui Roh yang kekal kepada Allah" (Ibr. 9:14). Bapa adalah arsiteknya, Anak adalah pelaksana, dan Roh adalah pemberi penebusan.

2. Yesus Mati untuk Menyingkapkan Karakter Tuhan

Bukannya kita tidak tahu apa-apa tentang Tuhan sebelum kematian Kristus. PerhatianNya pada ciptaan mengungkapkan cintaNya. Dan janjiNya kepada Abraham menunjukkan kepedulianNya terhadap seluruh dunia. Tetapi di kayu salib, kita melihat klimaks dari perjanjian-perjanjianNya dengan Israel, dan kita menyaksikan bukti terakhir dan dramatis dari cinta dan keadilan-Nya.

Dua teks dari Roma memperjelas hal ini: “Allah menunjukkan kasih-Nya sendiri kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5: 8). Kematian Kristus tidak diragukan lagi akan fakta bahwa Tuhan mengasihi kita. Itu meyakinkan kita bahwa tidak peduli apa kehidupan yang menimpa kita, kita dapat percaya bahwa “dia yang tidak mengampuni Putranya sendiri, tetapi menyerahkannya untuk kita semua. . . juga dengan murah hati akan memberi kita segala sesuatu” (Rom 8:32).

Yesus juga mati untuk membuktikan keadilan Tuhan: “Tuhan menghadirkan Kristus sebagai korban penebusan. . . untuk menunjukkan keadilanNya ”(Rm. 3: 25–26).

Di kayu salib kita tidak hanya melihat kasih Tuhan, tapi keseriusan Dia mengambil dosa kita.

Tuhan tidak mengampuni kita dengan menutup mata terhadap dosa kita atau dengan mengabaikannya. Pengampunan itu mahal bagi orang yang kesalahannya telah dilakukan. Dan di kayu salib kita tidak hanya melihat kasih Tuhan, tetapi juga keseriusan Dia mengambil dosa kita.

Di bagian lain Perjanjian Baru, kita juga belajar bahwa Yesus mati untuk menunjukkan hikmat, kuasa, dan kemuliaan Tuhan.

Pengampunan itu perlu karena kita sudah berbuat dosa, merusak hubungan kita dengan Allah sehingga dengan demikian harus dihukum (Rom 1:18-32). Pengampunan merupakan cara untuk memulihkan hubungan yang rusak itu (Ef 1:7Kol 2:13). Pengampunan adalah jalan bagi manusia berdosa untuk kembali bersekutu dengan Allah.

1) Kata Ibrani dan Yunani untuk pengampunan mengandung arti "menutupi", "mengampuni", "membatalkan", "mengusir". Pengampunan Allah meliputi hal tidak memperhitungkan lagi dosa yang telah diperbuat (Mr 2:5Yoh 8:11), menyelamatkan orang berdosa dari hukuman kekal (Rom 5:91Tes 1:10), menerima mereka kembali menjadi keuarga Allah (Luk 15:20-24), membebaskan mereka dari kuasa dosa kerajaan kegelapan dan memindahkan mereka dalam Kerajaan Kristus (Kol 1:13), serta memperbaharui seluruh kepribadian orang tersebut dan memberinya hidup kekal (Luk 23:43Yoh 14:19), dan menjadikannya anak sebagai ahli waris (Gal 4:28, Roma 8:17) dan memerintah bersama Kristus (Matius 11, Wahyu 20:4). Setelah diampuni menjadi murid Yesus dan menjalankan perintah Yesus: mengasihi sesama manusia dengan membantu mereka mendengar tentang Yesus Raja segala raja dan membawa mereka bertemu dan bersatu dengan Yesus Kristus (Mat 28, Kis, dst).

2) Agar dapat menerima pengampunan, seseorang harus bertobat (mengubah pola pikirnya, konsep dan praktek hidupnya), beriman (percaya Kepada Yesus sebagai Raja, Tuhan dan Juruselamatnya pribadi) serta mengakui dosanya supaya tidak dilakukan lagi (Luk 17:3-4Kis 2:38; 5:31; 20:211Yoh 1:9). Diperlukan penumpahan darah (syarat dan ketentuan berlaku dari Allah) supaya Allah dapat mengampuni dosa (Ibr 9:22). Oleh karena itu, pengampunan dosa didasarkan pada kematian Kristus di salib (ayat Mat 26:28Yoh 1:29; 3:16Rom 8:32). Pengampunan dari Allah merupakan sesuatu yang senantiasa dibutuhkan oleh orang percaya supaya dapat memelihara hubungan kita di dalam Kerajaan Sorga dengan Allah (Mat 6:12,14-151Yoh 1:9).

Di dalam pernyataan nubuat Yesaya Pasal 9 seperti dikutip di atas mengenai penetapan pemerintahan Kristus, tidak dibedakan di antara kedatangan-Nya yang pertama dengan yang kedua. Pada titik ini dalam sejarah manusia, seluruh karya penebusan Kristus dan pemerintahan-Nya dipandang sebagai satu kedatangan yang jauh di masa depan. Tidak pernah Perjanjian Lama dengan jelas menyatakan bahwa pemerintahan Kristus di bumi akan meliputi kedatangan yang pertama dan kedua di dalam sejarah. Demikian juga di dalam Perjanjian Baru, selang-selang waktu di antara aneka peristiwa pada zaman akhir tidak senantiasa tampak dengan jelas.

Ancaman-ancaman Melawan Yehuda dan Israel (Yesaya 9:7-20)

Di sini ada ancaman-ancaman yang mengerikan, yang terutama ditujukan melawan Israel, kerajaan sepuluh suku, Efraim dan Samaria, yang kehancurannya dinubuatkan di sini, dengan segala malapetaka yang mendahului kehancuran itu. Semuanya ini digenapi dalam beberapa tahun sesudahnya. Tetapi ancaman-ancaman itu melihat lebih jauh, pada semua musuh takhta dan kerajaan Kristus Anak Daud, dan menyatakan hukuman yang akan menimpa semua bangsa yang melupakan Allah, dan yang tidak ingin Kristus memerintah atas mereka. Cermatilah,

Penghakiman-penghakiman yang mengancam mereka karena kefasikan mereka ini. Janganlah mereka menyangka akan terluput dari hukuman.

Hakim-hakim mereka, yang terpandang berdasarkan keturunan dan jabatan, dan yang merupakan tua-tua bangsa itu. Mereka ini adalah kepala, mereka ini adalah batang yang dijanjikan sendiri oleh orang-orang itu akan memberi mereka roh dan buah. Tetapi karena orang-orang ini menyesatkan mereka, mereka akan dipotong, dan martabat serta kekuasaaan mereka tidak akan melindungi mereka, sebab penyalahgunaan terhadap martabat dan kekuasaan itu merupakan perkara besar yang membangkitkan murka. Suatu penghakiman atas bangsa jika penguasa-penguasa mereka dipotong, yang tidak seharusnya terjadi seperti sebelumnya.

Nabi-nabi mereka, nabi-nabi palsu mereka, adalah ekor dan ranting, bagian-bagian paling hina dari semuanya. Hamba Tuhan yang fasik adalah yang terburuk dari semuanya. Hamba Tuhan yang fasik adalah manusia yang paling buruk. Corruptio optimi est pessima – Hal-hal yang terbaik, jika rusak, akan menjadi yang terburuk. Orang buta menuntun orang buta, maka keduanya jatuh ke dalam lobang. Dan para pemimpin yang buta jatuh pertama-tama dan jatuh paling bawah.

Bahwa kehancuran itu terjadi di mana-mana seperti halnya kebobrokan sebelumnya, dan tak seorang pun akan luput darinya (ay. 16).

Bahwa mereka akan mengoyak-ngoyak satu sama lain, bahwa setiap orang akan ikut membantu mempercepat terjadinya kehancuran bersama, dan mereka akan memangsa diri mereka sendiri dan satu sama lain: Seorang pun tidak mengasihani saudaranya, jika saudaranya itu menghalang-halangi keserakahan dan ketamakannya, atau jika saudaranya berbuat sesuatu yang harus dibalaskan kepadanya. Bagaimana mereka dapat berharap Allah akan menyayangkan mereka apabila mereka tidak menunjukkan kasih sayang satu terhadap yang lain? Amarah dan kekejaman manusia satu terhadap yang lain membangkitkan murka Allah terhadap mereka semua, dan merupakan bukti bahwa Ia sedang murka. Perang saudara akan segera membuat sebuah kerajaan hancur. Seperti itulah keadaan di Israel, ketika karena pemberontakan negeri, banyaklah penguasa-penguasanya (Ams. 28:2).

Kelaparan dan kelangkaan besar. Apabila manusia sudah mengumpulkan semua yang dapat mereka kumpulkan, tetapi hasilnya begitu sedikit sehingga mereka masih lapar, maka setidak-tidaknya itu berarti bahwa Allah tidak memberkati mereka, sehingga mereka makan, tetapi tidak sampai kenyang (Hag. 1:6).

Perampokan dan penjarahan besar-besaran. Jusque datum sceleri – pelanggaran ditegakkan oleh hukum. Keinginan-keinginan yang timbul dari ketamakan tak akan pernah terpuaskan, dan kutukan ini dikenakan juga pada apa yang diperoleh secara tidak benar, bahwa itu tidak akan pernah membawa kebaikan.

Bahwa, meskipun mereka akan ditimpa oleh semua penghakiman ini, Allah tidak akan melepaskan perseteruan-Nya dengan mereka. Suatu beban berat dari nyanyian nubuat ini bahwa (ay. 11, 16, 20): Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung, maksudnya,

(1) Mereka tidak berbuat apa-apa untuk menjauhkan murka-Nya. Mereka tidak bertobat dan memperbarui diri, tidak merendahkan diri dan berdoa, tak seorang pun menengahi, tak seorang pun menjawab panggilan-panggilan Allah atau menuruti rancangan-rancangan pemeliharaan-Nya. Sebaliknya, mereka mengeraskan hati dan merasa aman-aman saja.

(2) Oleh karena itu, murka-Nya terus membakar melawan mereka dan tangan-Nya masih teracung. Alasan mengapa penghakiman-penghakiman Allah itu diperpanjang adalah karena hasilnya belum tercapai, para pendosa tidak dibuat bertobat olehnya. Bangsa itu tidak kembali kepada Dia yang menghajarnya, dan karena itu Ia terus menghajar mereka. Sebab apabila Allah menghakimi, Ia akan berhasil, dan orang berdosa yang paling congkak dan paling gigih akan membungkuk ataupun patah.

 

Penghukuman bukanlah tujuan akhir.

Penolakan umat Allah terhadap peranan Allah dalam sejarah memang mendatangkan penghukuman. Akan tetapi penghukuman bukanlah tujuan akhir Allah. Penghukuman Allah bukanlah jalan menuju kebinasaan, melainkan sebagai penuntun kepada tujuan Allah yang paling besar, yaitu keselamatan umat-Nya (ayat 8:23-9:4). Untuk sementara, penghukuman memang merendahkan. Tetapi tujuan akhir dari penghukuman adalah untuk memuliakan umat Tuhan (ayat 23).

 

Keselamatan Ajaib dari Allah. Keselamatan umat adalah anugerah Allah semata-mata. Keselamatan membalikkan situasi gelap yang meliputi umat Tuhan, menjadi terang besar (ayat 1). Keselamatan mengubah kedukaan yang mencekam umat Tuhan, menjadi sukacita besar (ayat 2). Keselamatan membuat umat Tuhan yang tengah memikul kuk, lepas bebas. Perubahan ajaib sedemikian jelas adalah anugerah dan kekuatan Allah semata.

 

Allah memakai manusia. Allah menyatakan keselamatan itu melalui seseorang yang berkenan kepada-Nya. Seseorang yang diharapkan di sini adalah seorang anak yaitu raja yang sepenuhnya bergantung kepada kuasa, kebenaran dan keadilan Allah (ayat 5, 6). Nama-nama yang disebutkan tentang sang raja itu menunjukkan bahwa Ia datang murni dari pihak Allah. Hanya raja yang demikian yang dapat menyalurkan damai sejahtera Allah bagi umat. Alangkah bedanya raja itu dari Ahas yang bertindak mengikuti kebijaksanaannya sendiri. Raja itu kelak akan mengikuti langkah-langkah Daud dan Salomo, yang takut akan Allah dan disertai Allah dengan hikmat ilahi. Seharusnya seperti itulah pemimpin dalam rencana Allah: diurapi Allah, menjadi anak Allah sendiri (bdk. Mzm. 2:7). Pada siapakah dapat kita jumpai penuh sifat-sifat pemerintahan Allah yang sempurna dan menyelamatkan itu kecuali dalam Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup, Tuhan dan Juruselamat?

 

Renungkan: Dalam penyelamatan Allah melalui kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah dilahirkan menjadi anak-anak Allah, menjadi ahli waris Allah dan memerintah bersama Kristus. Allah telah mengaruniakan kebenaran dan keadilan-Nya kepada kita. Apakah hidup kita telah benar-benar menjadi saluran keselamatan, keadilan dan kebenaran bagi sesama kita? Apakah Raja segala raja telah memerintah dalam hidup kita setiap saat yang dapat kita bagikan kepada orang lain?

 

 

 

 

Minggu, 21 Februari 2021

DAMPAK COVID-19 PADA KOMUNITAS AGAMA DAN KEYAKINAN

 DAMPAK COVID-19 PADA KOMUNITAS AGAMA DAN KEYAKINAN

 Virus corona mungkin kisah agama terbesar dalam hidup kita. Ini menimbulkan pertanyaan metafisik: Mengapa ini terjadi? Bagaimana hal itu terjadi? Apa artinya? Pertanyaan seperti itu bisa mengarah pada doa. Kita dihadapkan pada pilihan hidup dan mati tidak hanya tentang kesejahteraan kita sendiri tetapi juga tentang komunitas kita. Jadi, terlepas dari apakah seseorang melihat diri mereka sendiri secara konvensional religius atau tidak religius sama sekali, sulit untuk tidak terlibat dengan spiritualitas dan etika pandemi dan berdoa.

 Apa konsekuensi utama pandemi COVID-19 bagi komunitas agama dan keyakinan?

Peran apa yang dapat dimainkan oleh para pemimpin agama dan pengikut mereka dalam membantu mengatasi tantangan pandemi?

Bagaimana menemukan solusi yang tepat untuk mengurangi ketegangan dan konflik sosial yang bersumber dari faktor agama?

Bagaimana cara memupuk dukungan dan solidaritas di dalam dan di antara komunitas agama yang berbeda dan untuk meningkatkan kesejahteraan mental dan fisik selama pandemi?

Membayangkan kembali kehidupan religius di dunia pasca-Covid-19, praktik mana yang bisa menjadi normal baru?

Apa peran agama di masa depan dalam masyarakat?

Bagi sebagian pemeluk agama Kristen tidak mengaitkan signifikansi spiritual ke gedung gereja. Banyak gereja telah pindah ke skype, zoom, atau google meet untuk beribadah secara online. Juga, organisasi Kristen melakukan yang terbaik untuk menjangkau yang paling rentan dalam masyarakat dan memberikan bantuan. Kisah Orang Samaria yang Baik tentang mencintai sesamanya sebagai diri sendiri sebagai praktik agama yang sejati paling baik dicontohkan dalam karya banyak gereja dan badan amal.

Bagi Komunitas Kristen lainnya, "Kemelekatan" Spiritual yang paling signifikan ada pada Ruang Suci / Gedung Gereja ... adalah "Altar Tuhan!" Itu di sana ... di mana Pengorbanan kita diletakkan secara terbuka untuk orang-orang di hadapan Tuhan. Pandangan ini terutama dipengaruhi oleh ajaran Musa, tentang Kemah Pertemuan, karenanya ... tutup Tabut Perjanjian ... yang dilanjutkan Yeshua mengajar ... siapa pun yang ingin menjadi muridKu harus menyangkal diri mereka sendiri dan memikul salib mereka setiap hari dan mengikuti (Tabernakel) Aku.

Terserah Anda memiliki pandangan dan sikap hidup yang menurut Anda “paling benar” untuk Anda ikuti. Silahkan Tanya Tuhan sendiri …atau setidaknya teliti Kitab Suci Anda…

Pengaruh agama terhadap kehidupan tidak akan berkurang di dunia pasca-COVID, melainkan ada kemungkinan peningkatan kontrol agama terhadap kehidupan. Ada yang sangat berharap bisa ada jembatan baru antar umat beragama dalam memerangi COVID-19 untuk bisa menemukan solusi baru (vaksin atau obat & terapi).

Pemimpin Gereja Ortodoks, Paus di Roma, Injili, Oikumene dan orang-orang Yahudi dapat mengatur kerangka kerja sama yang di dalamnya akan lebih mudah untuk mengesampingkan perbedaan asal agama. Agama terkait erat dengan kehidupan sosial orang-orang di banyak negara dan Alkitab adalah dasar dari sistem hukum yang berlaku di Eropa.

Di kota seperti di Inggris, pastor paroki setempat terus melakukan kebaktian dan jemaat dapat mengaksesnya di Facebook atau YouTube. Dia melibatkan orang lain, menyediakan musik dan alat peraga sendiri dan hasil akhirnya menginspirasi.

Peneliti dari Universitas Imam Sadiq memaparkan hasil studi kasus yang sangat menarik di Iran.

1) Masjid ditutup untuk sholat, tetapi umat beragama mengubahnya menjadi bengkel untuk memproduksi masker dan sarung tangan.

2) Para mullah pergi ke rumah sakit dengan bantuan perawat.

3) Donasi sukarela berlipat ganda.

4) Rakyat bertindak secara bertanggung jawab dan mematuhi aturan secara sukarela, dan pemerintah Iran tidak menyetujui denda atas kerja sama yang penuh hormat dari rakyat.

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi kebanyakan agama saat ini adalah dilema atau penguburan yang dilakukan. Di Sri Lanka, penguburan tidak boleh dilakukan jika pasien menderita COVID-19. Ini sangat mempengaruhi komunitas Muslim karena mereka harus melihat orang yang mereka cintai dikremasi tanpa dikuburkan.

Setiap negara harus mematuhi pedoman WHO. Para pemimpin agama perlu berinteraksi dan berdiskusi untuk menemukan solusi bersama yang akan mencegah konflik dan masalah. Perkumpulan keagamaan akan dilakukan secara online melalui media sosial jika situasinya masih berlanjut. Jika masjid, kuil atau gereja perlu dibuka, pedoman yang tepat dan jarak sosial perlu dipertahankan dengan pengendalian massa.

Minoritas individu yang beragama di Ghana memiliki pola pikir bahwa urapan Tuhan atas seseorang melindunginya dari infeksi virus corona. Di alun-alun pasar di beberapa kota di Ghana, wanita di pasar yang menolak memakai masker saat ditanyai berkata bahwa Tuhan melindungi mereka. Pendidikan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan sedang diintensifkan di antara wanita yang tidak terpelajar seperti itu karena telah ditipu oleh pendeta 'palsu' yang hanya memikirkan persembahan mereka! Hukum harus diberlakukan untuk prospek seperti yang disebut hamba Tuhan yang mencemarkan nama baik agama!

Di Nigeria, khususnya negara bagian Kano, orang-orang mematuhi perintah tinggal di rumah, masjid ditutup. Tetapi kemudian, pihak berwenang mengurangi penguncian dan mengizinkan orang untuk menghadiri pasar dua kali seminggu untuk berbelanja. Perkembangan ini menimbulkan perdebatan di antara para pemimpin agama karena jumlahnya dianggap terlalu banyak. Orang-orang yang menyerbu pasar jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang menghadiri masjid untuk sholat.

Di Midwest, pedesaan Amerika, ada sikap umum bahwa pemerintah telah melangkahi otoritasnya sehubungan dengan Gereja. Hal ini tidak mengherankan mengingat bagaimana orang Amerika memahami dan menafsirkan apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemisahan gereja dan negara. Ada ketidakkonsistenan dalam praktik ibadah publik sejak COVID-19.

Ada orang mengaku beragama Kemanusiaan dan pemilik Bumi. Homo sapiens menghadapi COVID19. Selama hari-hari korona, perlahan-lahan mereka ini membentuk pandangan mereka sendiri seperti: Layanan, bantuan, dukungan, kebaikan, ilmu pengetahuan, donasi, pengertian, berbagi dll adalah agama. Orang tua, dokter, peneliti, ilmuwan, servis, penyapu, donatur, pembantu, perawat dll bekerja untuk menyelamatkan nyawa manusia dari virus corona. Sekarang, orang-orang mengucapkan terima kasih kepada penyapu untuk sanitasi, doakan dokter dan perawat, ingin ilmuwan dan peneliti membuat vaksin dan obat-obatan, mendukung donor, layanan dan administrasi. Orang-orang merasa lega setelah mengetahui itu, rumah mereka dekat dengan rumah sakit modern, pelayanan yang baik dan persediaan makanan yang terus menerus.

Di sebagian besar belahan bumi, semua agama bersatu dan negara-negara berbagi sumber daya dan informasi berguna karena kita semua bergerak menuju kemanusiaan. Ujung-ujungnya semua sungai bercampur samudra, begitu pula semua agama bercampur untuk bersatu di masa-masa sulit.

Covid-19 adalah peristiwa tak terduga untuk semua pengikut dari berbagai agama dan afiliasi. Namun bukan berarti mereka tidak memiliki pengalaman untuk menghadapinya. Misalnya, umat Islam menghadapi bencana pandemi serupa di zaman klasik dan mereka memiliki beberapa aturan khusus yang mengatur situasi seperti itu. Karantina adalah tindakan pertama yang didesak oleh para pemimpin agama tanpa terkecuali. Ibadah di rumah adalah satu-satunya cara untuk melakukan berbagai tindakan ibadah. Para ulama memperdebatkan keabsahan shalat berjamaah melalui zoom atau aplikasi serupa.

Ilmuwan Sosial dan Studi Perbandingan Agama ... tidak dapat melanjutkan pemisahan materi dan jiwa. Penciptaan adalah satu dengan banyak aspek, kekuatan, fungsi, dan efek. Pelajari bagaimana menggunakan masing-masing dalam harmoni dan seirama dengan Yang Satu .... Contoh: Kitab Suci Ibrani mengatakan Tuhan itu Satu .... namun ... Yehova Yireh ... Yehova Nissi, Yehova Shalom ..... dll. adalah semua aspek dari Yang Esa. Demikian pula, Kemetic Scripture / Medu Neter mengatakan Tuhan itu Satu ... namun .... Osiris, Tuhuti, Set, MAAT, RA .... dll. adalah semua aspek dari Yang Esa. Gereja dan Negara adalah bagian dari Penciptaan ... Yang Satu! Bagaimana Pemisahan bisa menjadi hal yang baik? Lihatlah panjangnya Pemerintahan Global dan pencapaian ilmiah, artistik, dan Spiritual dari Masyarakat Global yang memandang keberadaan mereka / manusia sebagai Satu dengan Roh Pencipta ... dan perwujudan Jiwa dari Diri-Nya sendiri dalam berbagai Bentuk ... terlihat dan tidak terlihat. Pandangan tanpa pemisahan ini mengajarkan jadinya Covid-19 adalah Tuhan! Tentu bertentangan dengan seperti yang tertulis dalam Kitab Yesaya 45 ... Monolog Raja Kerajaan Persia .... Cyrus Yang Diurapi. "Aku Tuhan adalah Satu ... tidak ada yang lain ... Aku membentuk cahaya dan ciptakan kegelapan. Aku membawa kemakmuran dan menciptakan malapetaka ...

Covid-19 tidak menyelamatkan siapa pun tanpa memandang agama dan keyakinan. Banyak komunitas religius di seluruh dunia telah dihancurkan oleh penyakit ini. Itulah contoh transnasionalitas dan globalitas penyakit ini.

Dengan menggunakan Metode Ilmiah saja tidak dapat mengkualifikasi dampak "Penyelamatan" dari kekuatan atau kualitas Tuhan dalam Bentuk Virus Corna. Namun, $ 1.200 untuk banyak orang yang miskin, di AS ... adalah anugrah. 38% pengurangan Asap di Cina, Rusia, India dan Amerika Serikat (pemimpin dalam produksi Gas Rumah Kaca dan polusi) adalah anugerah untuk kelanjutan kehidupan di bumi. Untuk pertama kalinya pusat-pusat keagamaan diberikan akses ke Kredit Federal / uang untuk tujuan mereka: memberi makan yang lapar, pakaian yang telanjang, melindungi para tunawisma dan untuk banyak Rumah Sakit Berbasis Agama - Rumah Sakit St. Frances, Rumah Sakit Good Samaritan dan St. Semua Rumah Sakit Anak Jude bisa mendapatkan keuntungan melebihi pengeluaran anggaran normal mereka. Fakta-fakta yang disebutkan ini mungkin menjadi tempat yang baik untuk meneliti.

Pasca Covid-19, keyakinan religius berguncang. Sekarang sebagian besar orang terpelajar di India percaya bahwa infrastruktur kesehatan lebih penting daripada kuil dan masjid. Mengapa ada ... salah satu atau pemahaman? Bagaimana orang bisa percaya pada Sains? Bagaimana orang bisa percaya pada Tuhan? Tapi, kebanyakan tidak bisa percaya pada semua pada saat bersamaan!

Contoh: Yeshua berubah di atas gunung di hadapan murid-muridnya. Akun tersebut menunjukkan teori ilmiah ... benar! Keberadaan Paralel bersama Musa seorang pria yang meninggal 1000 tahun sebelumnya. Elia seorang pria yang tidak pernah mati tetapi meninggalkan bumi 600 tahun sebelumnya. Yeshua dan Peter ... dll ..... semua di Hadirat (Awal, Mempertahankan, Berakhir .... atau Alfa dan Omega) .... Semua ada pada saat yang sama ... tetapi pada level yang berbeda .. .. alam semesta .... alam ... manifestasi.

Agama memainkan peran yang sangat penting apapun yang kita lakukan secara profesional dan pribadi juga. Dalam penelitian, keyakinan sangat penting, apapun penelitian yang sedang kita kerjakan. Albert Einstein menyatakan bahwa sains tanpa agama itu timpang dan agama tanpa sains itu buta. Percayalah tidak ada yang bertahan lama bahkan COVID 19.

Itu sangat masuk akal. Peneliti harus "Percaya" dalam pencarian mereka akan jawaban, solusi dan memiliki "Keyakinan" untuk secara membabi buta mengikuti instruksi / arahan dari Pikiran yang mengarah pada penemuan.

Agama, kesehatan, penyakit, dan penelitian medis merupakan bagian integral satu sama lain. Sayangnya, kurangnya pendidikan menyebabkan pemahaman yang lemah tentang kesehatan yang baik. Mereka yang hidup di garis kemiskinan atau di bawahnya, membutuhkan bantuan segera dengan kebutuhan dasar mereka dan perlu diberi informasi secara teratur tentang bagaimana mereka dapat meningkatkan sistem kekebalan mereka dan ini penting agar pengetahuan yang tepat waktu perlu menjangkau mereka. Semua agama telah memberikan banyak pedoman tentang bagaimana menanggulangi wabah sehingga kita dapat belajar dari sejarah. Saat ini banyak ilmuwan juga menyarankan berbagai jenis makanan yang memperkuat sistem kekebalan manusia dan dapat mengakhiri penderitaan kita. Kita perlu menyatukan pikiran dan memikirkan solusi yang sesuai untuk melewati periode yang menantang ini dan ini bukan tidak mungkin. Kita harus memiliki keyakinan kepada Pencipta kita dan tetap kuat, konstan, dan yakin bahwa kita akan dapat melihat cahaya setelah melewati terowongan gelap.

Covid-19 memiliki efek serius pada semua badan agama di seluruh dunia dan berada dalam situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya, tetapi ini melihat peningkatan platform media sosial yang sekarang digunakan sebagai platform untuk terus menyebarkan pesan individu mereka ke komunitas mereka. Pertanyaan utama masih berdiri: apa yang terjadi ketika semuanya berakhir karena tidak ada yang pernah berada dalam situasi ini sebelumnya dan sejarah tidak  juga mengajarkan kita apapun tentang itu.

Keyakinan dan keyakinan agama mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Mengapa Covid-19 memiliki kekhususan khusus yang dipengaruhi oleh keyakinan dan keyakinan agama? Apa perbedaan signifikan antara orang percaya dan tidak percaya dalam efek COVID-19? Penyakit ini, seperti halnya penyakit lain, membahayakan kesehatan manusia dan pengobatannya bergantung pada kemampuan pengetahuan dan teknologi kedokteran. Hubungan Tuhan dengan COVID-19 sama dengan hubungan Tuhan dengan penyakit lain. Sebagai Pencipta alam semesta, Tuhan menciptakan alam semesta menurut aturan tertentu. Yang penting adalah bagaimana kita menangani aturan ini. Prevalensi penyakit COVID-19 bukanlah tanda gagalnya agama, meski bisa menjadi tanda batalnya keyakinan takhayul. Jadi, jika kita membedakan antara keyakinan agama yang benar dan takhayul, kita tidak bisa lagi mengambil tempat khusus dalam keyakinan dan keyakinan agama untuk penyakit COVID-19.

"Apa perbedaan signifikan antara orang percaya dan tidak percaya dalam efek COVID-19?"

Covid-19 merupakan virus / kuman penyebab INFLAMASI paru-paru, jantung .... organ lain selama ini.

1) Ritual Suci: Wudhu ... cuci mata, lubang hidung, mulut, tangan, telinga bagian dalam ... dll

2) Ritual Kemurnian: Puasa ... membuang racun mengurangi Peradangan

3) Ritual Kemurnian/karantina/isolasi: Pisahkan semua orang yang sakit dari semua orang yang murni

4) Ritual Kemurnian: Meminta Tuhan untuk Pengampunan dan Pembaruan Sel setelah pemurnian

Setiap hari ... 3x sehari jika tidak lebih.

Agak ironis di AS 3 tahun yang lalu orang-orang mengeluh dan memprotes "hukum sosial yang ketat (Hukum Syariah) dan penutup wajah (Burka/jilbab)." Sekarang, Gubernur Amerika dengan Kongres telah melembagakan "hukum sosial yang ketat yang memerlukan penutup wajah (masker). Dan, negara bagian melarang orang bepergian dari" tempat-tempat menarik "seperti Washington, California, New York dan Louisiana. WOW

Tidak diragukan lagi, Ini adalah debat yang bagus. Setiap agama memberontak melawan situasi pandemi ini. Covid-19 mengancam keberadaan kita bersama, dan tanggapan terhadap ancaman ini merupakan faktor pemersatu yang besar bagi semua komunitas agama. Pemimpin agama menempati posisi kepemimpinan di komunitas lokal. Mereka dapat memainkan peran kunci dalam memobilisasi komunitasnya masing-masing dalam menanggapi pandemi. Keyakinan dan ketaatan beragama memberikan sumber daya penting untuk mengatasi efek buruk pandemi.

Penyebaran epidemi COVID-19 di masyarakat agama dan ideologis memberikan pengaruh signifikan. Mereka menutup tempat ibadah, tempat ritual keagamaan dipraktikkan, yang berdampak sangat besar pada mereka. Membuat mereka bersemangat untuk membukanya kembali. Juga mengarah pada praktik beberapa ritual ini di rumah dan dengan keluarga mereka. Menyebabkan praktik ritual tersebut meluas, membuat masyarakat ini terikat pada agama dan menggunakan agama mereka untuk mencari perlindungan dari Tuhan. Setelah epidemi ini berakhir, masyarakat ini akan menjadi lebih terikat pada agama dan lebih tertarik untuk menjalankan agama mereka.

Masalah agama dikaitkan dengan pertanyaan Pemazmur. Siapakah manusia itu, sehingga Engkau  mengingatnya? Manusia telah percaya bahwa infoteknologi dan bioteknologi, seperti algoritma, kecerdasan buatan dan perkembangan sains lainnya, akan mendominasi dunia. Hari ini, parameter sains tidak mampu menghasilkan penawar darurat, menghentikan ritme ekonomi dunia dan kendali besar atas modal membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang siapa kita sebenarnya sebagai manusia. Manusia telanjang ditutupi dengan kesombongan dan keangkuhan ... sampai kita ingin menggantikan diri mereka sendiri dengan berbicara tentang post-kemanusiaan dan bahkan tidak mengatakan Tuhan. Dan Tuhan dimana Dia? Di sana, dalam keheningan tanpa suara dari pelucutan senjata umat manusia ini.

Ini adalah waktu pembelajaran bagi semua kelompok agama untuk bekerja secara harmonis. Salah satu lingkungan yang paling banyak terkena penyakit ini adalah lingkungan keagamaan, dimana semua tempat ibadah ditutup untuk mengurangi penyebaran penyakit ini, karena tempat ibadah memiliki kedekatan yang memudahkan penyebaran penyakit tersebut. Ini adalah waktu untuk memikirkan kembali tentang proses keagamaan. Ada waktu untuk "membersihkan" diri kita secara rohani. Sudah waktunya bagi badan-badan agama untuk bersatu, di atas dasar yang sama karena pandemi telah mengajarkan umat manusia bahwa tidak ada perbedaan di antara kita; semua orang beresiko.

Covid 19 juga berdampak negatif pada keluarga. Kami telah menyaksikan kekerasan dan perpisahan dalam pernikahan selama periode ini dan sayangnya pergerakan para pemimpin agama untuk kunjungan pastoral terbatas. Jadi, menjadi sulit untuk menasihati pasangan dan keluarga melalui telepon. Kami juga telah mendengar dan menyaksikan kasus inses, saudara laki-laki di rumah telah menyerahkan keponakan mereka, ayah kepada anak perempuan mereka dan bahkan antar saudara. Ini adalah tanda bagaimana kita berada di posisi merah dalam hal moral. Para pemuka agama memberikan bayaran untuk prasarana dan sarana lain. Mereka berharap umat Kristiani untuk terus membayar persembahan mereka, baik itu sepuluh persen atau persembahan syukur atau lainnya. Namun, Anda akan setuju dengan saya bahwa semakin sedikit orang Kristen yang telah melakukan itu. Mayoritas memberikan alasan untuk pecahnya pandemi Covid 19. Apa yang dikatakannya kepada kita sebagai pemimpin agama tentang orang Kristen kita dalam hal pemberian mereka kepada Tuhan?

Unsur-unsur pemersatu agama perlu diungkap daripada diskursusnya yang memisahkan. Dia harus melepaskan bahasa konflik dan beralih ke wacana yang berorientasi pada orang. Dunia ini cukup kaya untuk semua orang selama masing-masing bekerja dengan keras berdasarkan pengetahuan dan ketrampilan sehingga dapat memperoleh distribusi penghasilan yang adil. Tetapi bagi para pemalas, orang bodoh, dan bebal akan menggantungkan diri kepada belas kasihan orang lain dan hatinya penuh dengan iri dan prasangka buruk. Ini juga menjadi sumber masalah sama seperti orang serakah yang mau menguasai sumber daya untuk dirinya sendiri. Dengan pandemic covid-19, melalu pemerintah yang peduli rakyatnya, distribusi kekayaan dan sumber daya dapat dijalankan lebih efektif dan berdaya guna.

Berdoa dalam kuasa Roh Kudus untuk bimbingan tentang apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukannya, dan bagaimana melakukannya. Kemudian lakukan hal berikut:

1)      Dengarkan, dan terapkan pedoman protocol kesehatan untuk COVID 19.

2)      Singkirkan program Mega Church dari cara Anda beribadah sampai mereka sembuh, diuji, dilacak, dan diobati.

3)      Berhentilah salah menafsirkan Alkitab dan gunakan firman Tuhan untuk membuat banyak orang datang ke gereja hanya untuk mendapatkan uang. Jangan mencobai Tuhan, Allahmu.

4)      Gunakan jarak sosial yang digunakan Kristus untuk mengarantina dirinya sendiri untuk pergi ke gunung dan padang gurun agar orang banyak dapat berdoa dan mengisi ulang dalam kuasa Roh Kudus.

5)      Adakan ibadah, layanan doa, dan studi Alkitab di rumah, dan kirim komunikasi layanan COVID sipil dan gereja menggunakan penemuan cerdas dari Amsal Bab 8 untuk berinteraksi dengan keanggotaan gereja dalam ibadat rumah, doa, dan studi Alkitab mereka.

6)      Gunakan gedung Gereja untuk mendistribusikan makanan, masker kesehatan, sarung tangan, dll. Melalui program dorongan jarak sosial untuk tetap terlibat dengan keanggotaan.

Agama adalah penampilan luar manusia bagi manusia bahwa ia memiliki hubungan dengan Tuhan. Bagaimanapun, iman adalah penampilan batiniah manusia kepada Tuhan bahwa dia memiliki hubungan dengan Tuhan. Oleh karena itu, agama membutuhkan struktur eksternal untuk dipandang secara eksternal. Tetapi, spiritualitas dan iman adalah internal dan individual antara Tuhan dan Manusia. Normal baru selalu menjadi hubungan normal antara Tuhan dan Manusia.

Hikmat adalah jawaban atas semua pertanyaan dan Tuhan tidak menahan hikmat dari kita untuk melakukan kehendak-Nya. Oleh karena itu tetaplah fokus pada kehendak Tuhan, agar semua orang diselamatkan, dan Tuhan akan memberi Anda hikmat untuk tujuan dan kehendak-Nya.

Amsal 8: 5 Hai kamu yang sederhana, pahami hikmat: dan, kamu yang bodoh, jadilah hatimu memiliki pengertian.

Amsal 8: 6 Dengar; karena saya akan berbicara tentang hal-hal yang luar biasa; dan pembukaan bibirku akan menjadi hal yang benar.

Ams 8: 7 Karena mulutku mengatakan kebenaran; dan kejahatan adalah kekejian bagi bibirku.

Ams 8: 8 Segala perkataan mulutku adalah benar; tidak ada yang cemberut atau jahat di dalamnya.

Ams 8: 9 Semuanya jelas bagi mereka yang mengerti, dan hak bagi mereka yang menemukan pengetahuan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa para pemimpin dan lembaga agama-agama besar tradisional (Kristen, Islam, Hindu, Budha ...) telah merespon secara bertanggung jawab terhadap pandemi COVID-19. Mereka telah melakukannya pada tiga tingkat: a) Mematuhi peraturan Organisasi Kesehatan Dunia dan otoritas kesehatan nasional dan menutup tempat ibadah dan doa, dan pusat pendidikan agama. b) Menunjukkan solidaritas dengan mereka yang paling dirugikan oleh pandemi (melalui bantuan ekonomi, spiritual dan psikologis). c) Dalam beberapa kasus, melaporkan kepada pihak berwenang situasi khusus dari kerentanan dan ketidakberdayaan kelompok tertentu (penduduk asli, pendatang).

Namun, beberapa gerakan agama fundamentalis telah menunjukkan ketidaktanggungjawaban tertentu, mengabaikan rekomendasi kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia dan secara membabi buta mempercayai para pemimpin agama mereka, yang telah menyebabkan banyak infeksi.

Akhirnya, sebuah studi tentang bagaimana keyakinan agama telah (atau tidak) membantu orang untuk mengatasi pengurungan/isolasi/pembatasan sosial sulit yang dibutuhkan oleh pandemi akan menarik.

Para pemimpin dan pengikut komunitas iman sekarang harus terbuka lebih dari sebelumnya kepada kehendak Tuhan. Mereka harus membuang agenda lama dan tersedia bagi jiwa-jiwa yang dikirim kepada mereka dari Tuhan penuai. Mereka harus hadir di komunitas mereka untuk memaksa mereka datang kepada Yesus!

Selain itu, mencuci di pusat ibadah harus menjadi kebijakan. Baca tentang hukum kemurnian dalam Ibrani (Imamat) ... Hukum Islam / Hadits ... dll. Ritual Wuhdu ... akan membantu memperlambat penyebaran Covid-19.

Dalam Islam, ada shalat lima waktu yang dilakukan dan sebelum masing-masing Muslim harus mencuci bagian tubuh yang berbeda masing-masing 3 kali. Kebersihan adalah bagian penting dari Islam. Pembasuhan ritual ini disebut wudo atau wudhu. Ini tidak hanya membersihkan seseorang tetapi juga menenangkan secara psikologis.

Menjaga jarak sosial, terlepas dari keyakinan agama yang dianut, membuat rasa "komunitas" terasa kurang. Semuanya akan kembali seperti semula ..

Tidak ada kesalahpahaman dengan pihak berwenang yang menyatakan karantina dan larangan mengunjungi masjid dan gereja. Muslim dan Chrestian melakukan doa restu mereka di rumah.

Selama perayaan keagamaan, penting untuk menghormati semua aturan pencegahan penularan! Jika tidak, hal itu dapat terjadi seperti pada flu Spanyol: sejumlah variabel kematian disebabkan oleh agama ..

Ya, mungkin ada jenis dampak pandemi virus korona SARS-CoV-2 (Covid-19) ini pada iman, refleksi tentang peran manusia di dunia, hubungan manusia dengan alam, dll. Korelasi semacam itu telah diperhatikan selama perkembangan pandemi di banyak negara pada bulan sejak 2020. Namun, tidak mudah untuk secara tepat memeriksa ruang lingkup dan tingkat dampak dari jenis korelasi ini.

Yang jelas dampak bagi gereja yang dapat diukur adalah: kurangnya kegiatan, kurangnya pertemuan, kurangnya penghasilan… masalah dampak terhadap iman masih belum teridentifikasi, perlu penelitian lebih lanjut.

 

1 Korintus 2:11 Karena siapa yang mengetahui pikiran seseorang kecuali rohnya sendiri di dalam dirinya? Dengan cara yang sama tidak ada yang tahu pikiran Tuhan kecuali Roh Tuhan.

Jika Anda atau orang yang Anda cintai sakit… “Jadi jangan takut, karena Aku menyertai kamu; jangan cemas, karena Akulah Tuhanmu. Aku akan memperkuat kamu dan membantu kamu; Aku akan menopangmu dengan tangan kananKu yang benar." Yesaya 41:10

Jika kau merasa sendirian ... “Karena aku yakin bahwa baik kematian maupun kehidupan, baik malaikat maupun iblis, baik masa kini maupun masa depan, atau kekuatan apa pun, baik ketinggian maupun kedalaman, atau apa pun dalam semua ciptaan, tidak akan mampu pisahkan kita dari kasih Tuhan yang ada di dalam Kristus Yesus Tuhan kita." Roma 8: 38-39

Jika Anda takut tentang masa depan ... "Karena Aku tahu rencana yang Aku miliki untuk kamu, demikianlah firman Tuhan, rencana untuk kesejahteraan dan bukan untuk kejahatan, untuk memberi kamu masa depan dan harapan." Yeremia 29:11